Sembuhkan Diabetes dan Turunkan Berat Badan dengan Puasa, Begini Caranya Kata dr Zaidul Akbar
- Tangkapan Layar YouTube dr Zaidul Akbar Official
tvOnenews.com - Puasa selama ini identik dengan ibadah. Namun di balik itu, banyak yang merasakan perubahan positif pada tubuh ketika pola makan lebih teratur dan waktu makan lebih terkendali.Â
Dalam dunia kesehatan modern, konsep ini dikenal dengan istilah intermittent fasting (IF), sebuah metode yang menitikberatkan pada pengaturan jadwal makan, bukan sekadar memilih jenis makanan.
Berbeda dengan puasa dalam ibadah, intermittent fasting tetap memperbolehkan konsumsi air putih.Â
Fokus utamanya adalah memberi jeda bagi tubuh dari proses pencernaan, sehingga sistem metabolisme memiliki waktu untuk bekerja lebih optimal.Â
Metode ini semakin banyak dibahas karena dinilai memiliki dampak baik bagi kesehatan, termasuk dalam pengelolaan berat badan dan kadar gula darah.
Dalam salah satu penjelasannya, dr Zaidul Akbar menekankan bahwa rasa lapar yang muncul saat menjalani intermittent fasting bukanlah sesuatu yang harus ditakuti.Â

- YouTube/dr. Zaidul Akbar Official
Justru, menurutnya kondisi tersebut memberi kesempatan bagi tubuh untuk melakukan proses perbaikan alami.
"Resistensi insulin pada orang diabetes hanya bisa diperbaiki dengan cara puasa atau menyengajakan lapar," ujar dr Zaidul Akbar.
Penjelasan tersebut berkaitan dengan resistensi insulin, kondisi yang umum terjadi pada penderita diabetes.Â
Saat tubuh terlalu sering menerima asupan makanan, terutama yang tinggi gula, sistem metabolisme bekerja tanpa henti.Â
Dengan memberi jeda melalui puasa atau sengaja menahan lapar, tubuh didorong untuk menata kembali mekanisme energi dan hormon.
Menariknya, pola seperti ini sejatinya bukan hal baru. Dalam berbagai kisah, disebutkan bahwa para sahabat Nabi SAW memiliki kebiasaan makan yang sederhana ketika berpuasa.Â
Mereka berbuka secukupnya, lalu tidak makan lagi hingga waktu sahur.Â
Kebiasaan tersebut secara tidak langsung mencerminkan prinsip dasar intermittent fasting yang kini banyak dipraktikkan.
Selain dikaitkan dengan pengelolaan diabetes, intermittent fasting juga kerap dipilih sebagai strategi menurunkan berat badan.Â
Pengaturan waktu makan membantu tubuh mengoptimalkan pembakaran lemak serta menstabilkan kadar energi.Â
Namun, dr Zaidul Akbar juga menyoroti pentingnya memperhatikan apa yang dikonsumsi selama menjalani pola ini, khususnya minuman.
Beberapa pilihan minuman yang sering direkomendasikan meliputi teh hijau, teh hitam, white tea, kopi tanpa gula, serta campuran jeruk nipis dan madu.Â
Minuman-minuman ini dinilai dapat mendukung metabolisme tanpa memberikan beban kalori berlebih.
Khusus untuk kopi, yang disarankan adalah kopi tanpa tambahan gula.Â
Selain rendah kalori, kopi dikenal mampu membantu meningkatkan metabolisme dan mendukung proses pembakaran lemak.Â
Tentu saja, konsumsinya tetap perlu disesuaikan dengan kondisi tubuh masing-masing.
Selain minuman, ada pula bahan alami yang kerap dibahas dalam pola hidup sehat, seperti chia seed.Â
Biji kecil ini dikenal kaya akan omega-3 dan memiliki sifat antiinflamasi yang kuat.Â
Kandungan nutrisinya membuat chia seed banyak dipilih sebagai pelengkap asupan selama menjalani pola makan tertentu.
Meski demikian, penting untuk memahami bahwa setiap orang memiliki kondisi tubuh yang berbeda.Â
Bagi mereka yang memiliki keluhan tertentu, seperti asam lambung, konsumsi minuman atau bahan tertentu perlu dilakukan dengan lebih hati-hati.Â
Respons tubuh terhadap kopi, teh, atau bahan alami lainnya tidak selalu sama pada setiap individu.
Baik puasa maupun intermittent fasting, keduanya sama-sama menekankan keseimbangan.Â
Tubuh memerlukan asupan, tetapi juga membutuhkan jeda.Â
Mengatur pola makan dengan bijak, disertai pemahaman terhadap kondisi kesehatan pribadi, menjadi kunci utama untuk meraih manfaat yang optimal. (gwn)
Load more