Layanan Kesehatan Kini Tak Cuma Soal Berobat, Ada Tren Baru dari MCU hingga Mental Wellness dalam Satu Ekosistem
- Gambar ilustrasi AI / Gemini
tvOnenews.com - Ketika kebutuhan kesehatan semakin beragam, pasien tidak selalu hanya membutuhkan dokter dan obat. Seseorang bisa datang untuk pemeriksaan kesehatan, kemudian membutuhkan pemeriksaan laboratorium, radiologi, konsultasi lanjutan, fisioterapi, dukungan kesehatan mental, hingga perubahan pola hidup.
Jika seluruh layanan tersebut berjalan sendiri-sendiri, pasien berpotensi harus berpindah tempat dan mengulang proses yang sama.
Karena itu, peningkatan mutu pelayanan kesehatan kini tidak hanya berkaitan dengan kecanggihan alat atau kenyamanan ruang tunggu. Pengalaman pasien dan keterhubungan antar layanan menjadi bagian penting dari kualitas pelayanan.
Sistem kesehatan di sejumlah negara maju bahkan mulai mengembangkan model yang mengintegrasikan layanan primer, rumah sakit, komunitas, hingga layanan pencegahan.
Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) mencatat bahwa layanan yang terfragmentasi dapat menyebabkan kebutuhan pasien tidak terpenuhi, penggunaan layanan yang berlebihan, serta biaya yang lebih tinggi.
Dalam data PaRIS, rata-rata hanya 59 persen pengguna layanan primer dengan penyakit kronis di negara-negara OECD yang melaporkan koordinasi perawatan yang baik. Karena itu, berbagai negara mengembangkan model integrated care untuk meningkatkan kesehatan populasi, pengalaman pasien, efisiensi biaya, dan pemerataan akses.
Mengapa Layanan Kesehatan Mulai Disatukan?
Konsep layanan kesehatan terintegrasi pada dasarnya berusaha mengurangi jarak antara berbagai kebutuhan pasien.
Pemeriksaan, diagnosis, pengobatan, rehabilitasi, pencegahan hingga dukungan kesehatan lainnya tidak dipandang sebagai layanan yang berdiri sendiri, tetapi sebagai bagian dari perjalanan kesehatan seseorang.
Pendekatan ini menjadi semakin relevan ketika jumlah masyarakat dengan penyakit kronis dan kebutuhan kesehatan jangka panjang meningkat. OECD menyebut layanan yang terfragmentasi dapat meningkatkan biaya dan memperburuk pengalaman pasien.
Dalam salah satu analisisnya, fragmentasi layanan diperkirakan dapat meningkatkan biaya lebih dari 4.000 euro per pasien.
Prinsip serupa terlihat di Singapura melalui program Healthier SG. Kementerian Kesehatan Singapura menggeser perhatian dari pola pelayanan yang reaktif menangani orang setelah sakit ke pendekatan preventif.
Warga didorong memiliki dokter keluarga sebagai mitra kesehatan yang membantu menyusun rencana kesehatan personal, termasuk pemeriksaan, vaksinasi dan perubahan gaya hidup.
Dalam praktiknya, pendekatan tersebut tidak hanya mengandalkan dokter. Sistem juga menghubungkan layanan primer dengan jaringan kesehatan dan komunitas. Pemerintah Singapura menyebut integrasi data, dukungan tim, serta keterhubungan dokter umum dengan sistem kesehatan sebagai bagian penting dari transformasi tersebut.
Dari Medical Check Up hingga Mental Wellness
Arah pengembangan tersebut juga mulai terlihat dalam modernisasi layanan di Indonesia. Pada 7 Oktober 2026, Bidakara Medical Center Jakarta meresmikan pengembangan fasilitas dan sejumlah layanan sebagai bagian dari transformasi PT Fajar Farmatama. Perubahan tersebut dilakukan untuk menjawab kebutuhan masyarakat yang terus berkembang.
“Industri pelayanan kesehatan terus bergerak. Kebutuhan masyarakat berubah, ekspektasi terhadap pelayanan semakin tinggi, teknologi semakin berkembang dan kompetisi juga semakin terbuka. Karena itu, kita memang harus terus bergerak untuk meningkatkan mutu pelayanan, memperbaiki pengalaman pasien, sekaligus memastikan bisnis yang kami kelola dapat tumbuh secara sehat dan berkelanjutan,” ujar Direktur Utama PT Fajar Farmatama Sri Endah Susilo Rini.
Pengembangan layanan mencakup Corporate Health & Diagnostic, yang meliputi Medical Check Up, laboratorium, radiologi hingga health risk profiling. Ada pula layanan Physical Wellness untuk fisioterapi, rehabilitasi dan pain recovery, serta Ruang Bicara yang menyediakan psikologi, psikiatri dan mental wellness.
Ekosistem tersebut juga diperluas melalui layanan Beauty & Wellness, Healthy Drip berupa IV immune booster dan infus vitamin, serta Med Cafe & Bites dengan konsep makanan dan minuman berbasis kesehatan.
Yang menarik, pendekatan ini tidak hanya menyentuh pengobatan. Layanan seperti pemeriksaan kesehatan berkala, rehabilitasi, aktivitas fisik dan kesehatan mental menunjukkan pergeseran menuju pendekatan yang lebih luas terhadap kesehatan.
Di Singapura, misalnya, program Healthier SG Screening memberikan pemeriksaan bersubsidi kepada kelompok masyarakat yang memenuhi syarat, disertai tindak lanjut setelah skrining. Tujuannya adalah mendeteksi kondisi tertentu lebih awal dan mencegah atau menunda komplikasi penyakit.
Tantangannya Bukan Sekadar Menambah Layanan
Menambah jenis layanan belum otomatis membuat sebuah fasilitas kesehatan menjadi terintegrasi. Tantangan sebenarnya adalah memastikan setiap layanan dapat saling terhubung dan memberikan pengalaman yang konsisten kepada pasien. Modernisasi tersebut diarahkan agar masyarakat dapat mengakses lebih banyak kebutuhan kesehatan dalam satu ekosistem.
“Kami ingin masyarakat semakin mengetahui bahwa Bidakara Medical Center terbuka untuk masyarakat umum. Modernisasi ini bukan hanya tentang tampilan baru, tetapi bagaimana kami membangun layanan yang semakin lengkap dalam satu ekosistem, sehingga masyarakat dapat memperoleh berbagai kebutuhan kesehatan secara lebih mudah, nyaman dan terintegrasi,” ujar Direktur Komersial dan Bisnis PT Fajar Farmatama Asmu Ali Mauladi.
Arah pengembangan tersebut mencakup preventive care, Medical Check Up, layanan dokter, diagnostik, rehabilitasi, physical wellness, mental wellness hingga beauty and wellness. Termasuk Apotek Farmarin yang menjadi bagian dari upaya menghubungkan layanan kesehatan dengan kebutuhan farmasi.
“Kami ingin memperkuat BiMC bukan hanya sebagai tempat masyarakat datang ketika sakit. Kami ingin menjadi health partner yang dapat mendampingi kebutuhan kesehatan mulai dari preventive care, Medical Check Up, layanan dokter, diagnostic, rehabilitasi dan physical wellness, mental wellness hingga beauty and wellness. Ini menjadi arah pengembangan BiMC ke depan,” lanjutnya.
Namun, keberhasilan model seperti ini pada akhirnya tidak cukup diukur dari banyaknya layanan yang tersedia. Asmu Ali mengatakan pihaknya ingin melihat apakah akses masyarakat menjadi lebih mudah dan pengalaman pasien benar-benar membaik.
“Target kami bukan sekadar menambah layanan atau membuat fasilitas menjadi lebih modern. Yang kami ukur adalah apakah semakin banyak masyarakat mengenal BiMC, semakin mudah mereka mengakses layanan, semakin baik pengalaman pasien, dan pada akhirnya semakin banyak masyarakat yang mempercayakan kebutuhan kesehatannya kepada kami,” jelasnya.
Pengalaman negara lain menunjukkan bahwa integrasi juga membutuhkan koordinasi, data, tenaga kesehatan lintas disiplin dan sistem pengukuran yang jelas. OECD menekankan bahwa model *integrated care* dirancang untuk mencegah dan menangani penyakit kronis sekaligus meningkatkan pengalaman pasien dan efisiensi sistem.
Di Singapura, pendekatan preventif juga menunjukkan bahwa layanan kesehatan semakin diarahkan untuk hadir sebelum seseorang jatuh sakit.
Kementerian Kesehatan Singapura melaporkan dalam National Population Health Survey 2025 bahwa partisipasi dalam sejumlah aktivitas pencegahan dan pemeriksaan kesehatan meningkat setelah peluncuran Healthier SG.
- ist
Pada akhirnya,inti perubahan layanan kesehatan bukan sekadar membuat daftar layanan semakin panjang. Yang lebih penting adalah bagaimana layanan tersebut saling terhubung sehingga pasien tidak harus menjalani perjalanan kesehatan yang terpecah-pecah.
Model inilah yang sedang berkembang di berbagai negara maju dan mulai mendapat perhatian di Indonesia: fasilitas kesehatan tidak lagi hanya menjadi tempat mencari pertolongan ketika sakit, tetapi menjadi bagian dari perjalanan kesehatan yang mencakup pencegahan, deteksi dini, pengobatan, pemulihan, kesehatan mental dan pemeliharaan kualitas hidup.
Dengan pendekatan tersebut, ukuran keberhasilan pelayanan pun bergeser bukan hanya seberapa banyak pasien dilayani, tetapi seberapa mudah, terkoordinasi, dan bermakna pengalaman kesehatan yang mereka dapatkan. (udn)
Load more