Tren Lari Makin Ramai, Mau Ikut Marathon ke Luar Negeri? Ini Strategi Fisik dan Finansial yang Wajib Disiapkan
- Gambar ilustrasi AI / Gemini
tvOnenews.com - Lini masa media sosial belakangan terasa semakin akrab dengan foto pelari yang memamerkan medali, nomor dada, dan catatan waktu terbaik. Tren ini berjalan beriringan dengan ramainya event lari, dari kategori 5K dan 10K untuk pemula hingga half marathon dan full marathon yang menuntut persiapan lebih serius.
Bagi sebagian orang, berlari kini bukan sekadar olahraga, tetapi juga bagian dari gaya hidup dan pencapaian personal.
Perkembangan itu terlihat dalam laporan Strava Year in Sport 2025. Secara global, proporsi pengguna Gen Z yang mencatat partisipasi lomba di Strava meningkat dibandingkan 2024, masing-masing 38 persen untuk kategori 5K, 39 persen untuk 10K, 31 persen untuk half marathon, dan 33 persen untuk marathon.
Angka tersebut menggambarkan meningkatnya minat generasi muda terhadap pengalaman mengikuti perlombaan, meski tidak secara khusus mewakili tren di Indonesia.
Ketika target berlari semakin jauh, tantangannya pun berkembang. Mengejar 5K mungkin cukup dengan latihan teratur dan perlengkapan dasar, tetapi mengikuti maraton di luar negeri membutuhkan perencanaan yang lebih panjang.
Tiket pesawat, hotel, biaya pendaftaran, transportasi, makanan, hingga perlengkapan lomba bisa membuat anggaran membengkak. Artinya, selain menyiapkan stamina, calon pelari juga perlu menyiapkan kondisi finansial agar ambisi menembus garis finis tidak berujung membebani keuangan.
Namun, semakin jauh target yang dikejar, semakin besar pula persiapan yang dibutuhkan. Mengikuti lomba 5K di kota sendiri tentu berbeda dengan mengejar marathon internasional di Chicago, Berlin, atau Tokyo.
Selain latihan fisik, pelari perlu menghitung tiket pesawat, penginapan, biaya registrasi, makan, transportasi, hingga perlengkapan lomba. Artinya, mencapai garis finis juga membutuhkan strategi keuangan yang matang.
Hitung Seluruh Biaya sebelum Menentukan Target Marathon
Bagi sebagian pelari, mengikuti marathon internasional menjadi pencapaian tersendiri. Nama-nama seperti Tokyo, Boston, London, Cape Town, Sydney, Berlin, Chicago, dan New York sudah akrab di kalangan penggemar lari jarak jauh. Rangkaian Abbott World Marathon Majors juga memperluas daya tariknya melalui Shanghai sebagai tambahan dalam kalender ajang marathon dunia.
Namun, mengejar garis finis di luar negeri bukan hanya soal mendapatkan tiket lomba. Pelari harus memperhitungkan keseluruhan biaya perjalanan, termasuk kemungkinan tinggal beberapa hari sebelum dan sesudah perlombaan untuk beradaptasi, beristirahat, dan memulihkan kondisi tubuh.
Melansir dari berbagai sumber, gambaran tersebut dirasakan Citra, yang tengah menargetkan Chicago Marathon di Amerika Serikat. Ajang ini merupakan salah satu marathon besar dunia. Pada 2025, lebih dari 54.000 pelari berpartisipasi, sementara sekitar 1,7 juta penonton menyaksikan perlombaan di sepanjang kota, menurut laporan Axios pada Oktober 2026.
“Awalnya saya hanya fokus ke latihan. Setelah mulai menghitung race entry, pesawat, hotel, dan kebutuhan lainnya, baru terasa bahwa persiapan marathon bukan cuma soal fisik,” kata Citra.
Pengalaman tersebut menunjukkan pentingnya menyusun anggaran sejak target lomba ditentukan. Biaya yang perlu dihitung mencakup registrasi, tiket pulang-pergi, akomodasi, transportasi lokal, makan, asuransi perjalanan, serta kebutuhan perlengkapan.
Sebagai simulasi, misalnya, seorang pelari menetapkan target dana Rp36 juta untuk perjalanan marathon internasional. Angka ini hanya ilustrasi, bukan estimasi harga aktual. Jika persiapan dilakukan selama 12 bulan, kebutuhan tabungannya menjadi Rp3 juta per bulan. Pelari juga sebaiknya menyiapkan dana cadangan sekitar 10–15 persen untuk mengantisipasi perubahan harga atau pengeluaran tak terduga.
Terapkan Training Plan ke dalam Financial Plan
Pelari umumnya tidak mempersiapkan marathon dalam semalam. Latihan disusun bertahap, mulai dari membangun daya tahan hingga meningkatkan jarak tempuh menjelang race day. Prinsip serupa dapat diterapkan pada keuangan: tentukan target, hitung kebutuhan, lalu sisihkan dana secara rutin.
“Buat saya lebih nyaman kalau targetnya jelas. Sama seperti training plan, saya tahu setiap bulan ada bagian yang memang dialokasikan untuk marathon. Kalau hanya bilang ingin menabung, kadang mudah terpakai untuk kebutuhan lain. Tapi kalau targetnya sudah jelas, misalnya ingin lari marathon di kota tertentu, jadi lebih mudah menjaga komitmen,” terangnya.
Pendekatan tersebut bisa dimulai dengan memisahkan dana marathon dari uang kebutuhan sehari-hari. Buat daftar pengeluaran, tentukan nominal yang realistis berdasarkan penghasilan, lalu evaluasi perkembangannya setiap bulan. Jika target terasa terlalu berat, pertimbangkan memperpanjang waktu persiapan atau memilih event yang membutuhkan biaya perjalanan lebih rendah.
Pelari juga perlu menghindari keputusan finansial impulsif hanya karena melihat unggahan orang lain di media sosial. Tidak semua orang memiliki kondisi keuangan, waktu persiapan, atau kebutuhan perjalanan yang sama. Target yang sehat adalah target yang bisa dicapai tanpa mengorbankan kebutuhan pokok dan dana darurat.
Menabung Bertahap agar Target Tidak Membebani Keuangan
Salah satu cara mengatur tabungan berdasarkan tujuan adalah menggunakan fitur Life Goals di aplikasi wondr by BNI. Fitur ini memungkinkan pengguna menetapkan nama tujuan, target dana, nominal setoran, dan jangka waktu menabung. Setoran bulanan juga dapat dilakukan secara otomatis melalui autodebit, sesuai pengaturan yang tersedia. Informasi tersebut tercantum dalam laman resmi.
Pelari dapat membuat tujuan spesifik, misalnya “Chicago Marathon” atau “Tokyo Marathon”, kemudian menentukan setoran berdasarkan kemampuan finansial. Dengan cara ini, kebutuhan perjalanan yang terlihat besar bisa dipecah menjadi target bulanan yang lebih terukur.
“Dalam lari, hasil tidak datang dari satu latihan besar. Yang penting konsisten. Saya melihat menyiapkan dana untuk marathon dengan cara yang sama, tidak harus langsung besar, yang penting mulai dan dilakukan secara rutin,” tuturnya.
Pada akhirnya, mengejar marathon bukan hanya tentang seberapa jauh kaki mampu melangkah, melainkan juga seberapa matang seseorang mempersiapkan perjalanannya. Training plan membantu tubuh menghadapi jarak 42,195 kilometer, sedangkan financial plan memastikan ambisi tersebut tidak berubah menjadi beban setelah lomba selesai.
Sebelum mendaftar, hitung total biaya, tentukan target tabungan, dan sesuaikan jadwal dengan kemampuan. Sebab, pencapaian terbaik bukan semata-mata berhasil mencapai garis finis, tetapi juga mampu menikmati perjalanan tanpa mengabaikan kesehatan finansial. (udn)
Load more