Tak Masuk Akal tapi Nyata, Pulau dengan Luas hanya Setengah Lapangan Sepak Bola di Afrika Disesaki 500 Jiwa
- Tangkapan layar YouTube OverView
Jakarta, tvOnenews.com - Sebuah pulau di wilayah Afrika memiliki keunikan sendiri. Letak pulau karang kecil di tengah Danau Victoria ini masuk kategori memiliki penduduk terpadat di dunia.
Di balik kepadatan penduduknya, luas pulau ini tidak sampai setengah lapangan sepak bola. Pulau tersebut terletak di perbatasan antara Kenya dan Uganda. Ya, itu adalah Pulau Migingo.
Dilansir tvOnenews.com dari Aljazeera, Selasa (3/2/2026), Pulau Migingo memiliki luas hanya sekitar 2.000 meter persegi. Tentu ukuran luasnya tidak mencapai setengah lapangan sepak bola.
Jika mengacu dari luas lapangan sepak bola standar internasional (FIFA), luas lapangannya harus diperkirakan berukuran 7.140 meter persegi.
Di tengah-tengah batu karang yang menonjol, ternyata lebih dari 500 jiwa yang mengandalkan hidupnya di Pulau Migingo. Bahkan tidak ada ruang gerak di pulau yang luasnya tidak sampai lapangan sepak bola itu.
Di dalam pulau ini, banyak gubuk dari seng hingga rumah bordil berdiri di pulau ini. Menariknya, ada banyak bangunan kasino terbuka menemani kebiasaan sehari-hari penduduk khususnya di malam hari.
Meski begitu, Pulau Migingo juga memiliki pelabuhan darurat. Kegunaannya tentu untuk membantu aktivitas para warga yang mendominasi mencari ikan.
Tempat yang penuh sesak ini menunjukkan penduduk Migingo tidak memiliki ruang jalan, taman, bahkan tempat bermain. Kehidupan mereka selalu dibalut dengan kesempitan.
Jika bisa diadu, kepadatan penduduk Pulau Migingo bisa mengalahkan tempat yang dihuni jutaan jiwa. Contohnya mampu melampaui jumlah penduduk yang menduduki kota-kota besar seperti Manila atau Dhaka.
Pulau Migingo Jejak 'Perang Kecil' di Afrika

- Tangkapan layar YouTube OverView
Di balik penduduknya yang padat, Pulau Migingo ternyata memicu debat panas antara Kenya dan Uganda. Pulau dengan batu karang kecil ini menjadi sengketa lahan kedua negara tersebut.
Sebab, mayoritas penduduk di Migingo, berasal dari Kenya dan Uganda. Tak ayal, masing-masing pemerintahan di negaranya saling berseteru merebut kepemilikan pulau tersebut.
Peneliti senior dari Institute for Security Studies di Pretoria, Migingo, Emmanuel Kisiangani berpendapat, Pulau Migingo dulunya hanya sebuah tonjalan batu karang. Batu ini muncul di tengah Danau Victoria.
Batu yang menonjol tersebut telah terlihat sebelum permukaan air danau mulai surut. Adapun penyusutan air Danau Victoria sejak 1990-an.
Dahulu Migingo hanya menjadi tempat para nelayan untuk mempertahankan hidupnya. Banyak yang singgah dan mencari ikan di sana.
Selain karena penyusutan air, hasil penangkapan ikan di area danau juga menurun drastis akibat banyak aksi menangkap ikan secara berlebihan.
Banyak oknum yang sengaja menyebar tanaman eceng gondok. Hal ini membuat jalur transportasi dan akses menuju pelabuhan terhambat.
Walau ada penyusutan jumlah ikan di Danau Victoria, tampaknya jumlah ikan nil (Nile perch) masih berlimpah di perairan dalam area Migingo.
Menariknya, nilai ikan nil masih tinggi. Sontak, hal ini menjadi pemicu banyak orang berbondong-bondong mendatangi Migingo.
Kedatangan mereka menjadikan Pulau Migingo sebagai pusat penangkapan ikan. Sebab, ada banyak keuntungan didapatkan mereka.
Kondisi Migingo sempat masih kosong penduduk pada 2004. Uganda yang melihat potensi pulau ini pun mengirim polisi dan marinir dengan berbekal senjata ke Pulau Migingo.
Kedatangan polisi dan marinir tersebut menjadi dalih Uganda ingin melindungi warganya, terutama para nelayan yang merupakan penduduk asli mereka. Mereka tidak menginginkan warganya dibayang-bayangi perompak hingga dipalak berupa pajak.
Nelayan Kenya pun mengeluhkan gebrakan dari Uganda. Mereka kerap kali mendapat gangguan dan dituduh menangkap ikan secara ilegal oleh aparat Uganda.
Pasalnya, Uganda menyatakan kawasan Migingo berada di wilayah perairan mereka. Hal ini mengundang aksi balasan dari Pemerintah Kenya dengan mengirim pasukan marinir ke Migingo.
Hingga pada akhirnya, ketegangan terus meningkat. Uganda dan Kenya bahkan hampir menunjukkan konflik senjata dengan skala besar hanya perkara saling merebut status kepemilikan Migingo.
Di tengah ketegangan tersebut, justru jumlah penduduk di Migingo semakin bertambah. Kedua negara ini membuat kesepakatan berupa komite bersama.
Tujuan adanya kesepakatan ini bisa menentukan batas-batas wilayah masing-masing pada 2016. Mereka sampai saling adu memakai peta jadul sekitar era 1920-an.
Alih-alih berhasil, kesepakatan tersebut tampaknya berakhir buntu karena komite dari pembentukan Kenya dan Uganda tidak menunjukkan hasil yang jelas.
Seiring berjalannya waktu, kedua negara tersebut mengelola pulau berukuran 2.000 meter persegi ini. Meski demikian, ketegangan hingga konflik sesekali muncul.
Menurut sejumlah nelayan, Pulau Migingo menjadi saksi bagian "perang kecil" di kawasan Afrika. Karena kedua negara ini, tidak pernah menyelesaikan urusan sengketa lahan batu karang yang menonjol tersebut.
Seorang nelayan asal Uganda, Eddison Ouma memberikan pendapatnya terkait sengketa lahan tersebut. Ia menganggap setiap orang tidak disekat lantaran tak ada aturan resminya.
"Mereka belum memutuskan siapa pemilik pulau ini. Ini tanah tanpa bertuan," ucap Eddison.
Walau demikian, pendapatan ekonomi penduduk kian meningkat, terutama dari hasil penangkapan ikan nil. Nilai penjualan ikan ini selalu naik di tengah peningkatan permintaan dari Uni Eropa.
Adapun di Asia, ikan tersebut dinilai makanan paling mewah. Tentu nilai penjualan sangat tinggi sehingga ikan itu semakin diburu oleh lebih dari 500 jiwa di pulau tersebut.
Nelayan asal Kenya, Kennedy Ochieng berpendapat, peningkatan harga ikan nil mencapai 50 persen. Hal itu terjadi sejak lebih dari lima tahun terakhir.
Harga ikan nil yang berukuran besar dan berkualitas per kilogram bisa menyentuh angka sebesar 300 dolar AS atau dikonversi setara Rp4,9 juta. Penjualan tersebut kian sukses di lingkungan pasar ekspor internasional.
(hap)
Load more