Telat Bayar Tunggakan, Wanita ini Nekat jadi Istri Kedua Bos Debt Collector, Kaget si Bos Ternyata Belum Lakukan ini: kalau Mau Masuk…
- YouTube
tvOnenews.com - Seorang wanita yang rela menjadi istri kedua bos debt collector menceritakan pengalaman tak biasanya di podcast Rey Utami.
Pada kesempatan itu, wanita bernama samaran Dona menceritakan kehidupan rumah tangganya.
Mulanya, Dona menceritakan awal mula pertemuannya dengan sang suami yang tidak sengaja karena punya tunggakan motor.
“Nggak sengaja dari angsuran motor telat sehari didatangin dong,” kata Dona.
Lantaran tidak punya uang untuk membayar angsuran, Dona lantas harus menemui bos debt collector.
“Bingung kan nggak punya uang nih belum gajian kan cuma karyawan. Karena mungkin udah rezeki saat itu dapat uang BLT dari pabrik,” ungkap Dona.
Dona menyebut punya tunggakan selama dua bulan, namun uangnya tidak cukup melunasi dua tagihan tersebut.
Akhirnya ia memberanikan diri bertemu dengan bos debt collector dan membicarakan perihal tunggakannya.
“Datanglah ke kantor, ketahuan sama dia kalau aku tuh tegang, takut. Bosnya ngajak ‘yaudah nggak usah tegang kita ngopi dulu’,” ujar Dona menceritakan pertemuannya dengan sang suami.
“Pas diajak minum kopi, aku buka masker. Dia WhatsApp aku ‘kamu cantik’,” sambungnya.
Berawal dari pujian itu, hubungan Dona dengan bos debt collector itu semakin dekat. Bahkan urusan tunggakan motornya turut dipermudah.
“Sebelum dilunasin kan motor itu dicari mata elang dong. Tiap aku mau pergi keluar aku WA dia, ‘Abang aku mau keluar nih’, terus sama dia plat nomornya diganti biar nggak ketahuan,” cerita Dona.
Lantaran sering berkomunikasi, seiring berjalannya waktu hubungan Dona dan bos debt collector semakin dekat.
Bahkan dalam waktu singkat mereka menjalin hubungan spesial.
Dona menceritakan bahwa dirinya sudah bercerai, hal ini membuat sang bos debt collector berani mengungkap rasa sukanya.
“Dia juga bilang kalau dia suka sama aku, cuma kita beda agama. Aku muslim, dia non muslim,” kata Dona.
Meski beda agama, Dona tetap melanjutkan hubungan bahkan gaya pacaran mereka sudah selayaknya suami istri.
“Dia orang Timur, itunya gede,” ujar Dona nampak malu-malu.
Dona menceritakan pengalaman di ranjangnya bersama sang bos debt collector.
Menurut Dona, lantaran belum sunat, ia merasa ada perbedaan dibanding mantan suaminya terdahulu.
“Kalau sunat kan bagus bentuknya, kalau itu kan nggak, biasa kayak anak kecil,” ungkap Dona.
“Kalau masalah suka apa nggak itu mungkin karena aku sudah merasa nyaman, bukan masalah rasanya lagi,” sambungnya.
Perihal penilaian orang terhadap orang Timur, Dona mengatakan bahwa pasangannya justru berbeda dari penampilannya yang garang.
“Orang Timur kata orang-orang dia ganas loh di ranjang gitu. Sama aku malah biasa aja, dia emang tampang doang sangar padahal orangnya baik, lembut,” terangnya.
Disisi lain, hubungan mereka sempat menghadapi banyak halangan. Selain agama, bos debt collector itu juga sudah beristri.
Dona sadar diri dan tidak mau merusak rumah tangga orang. Pada akhirnya ia rela menjadi madu asal bos debt collector mau masuk Islam dan sunat.
“Dia cinta sama aku, dia setuju kalau mau masuk agamaku. Akhirnya aku bawa dia ke daerah Karawang sana, dia mau disunat,” ungkapnya.
Setelah sunat, Dona dan bos debt collector itu menikah siri secara Islam.
Rey Utami lantas menyinggung soal urusan ranjang Dona setelah sang suami sunat.
“Terus perbedaan sebelum dan setelah sunat ada dong?” tanya Rey Utami.
“Rasanya kan beda jadinya lebih enak. Biasanya nggak ada kepala, setelah disunat kayak kerasa banget gitu kan kalau yang dulu kita biasa aja,” jawab Dona sambil tertawa.
Meski jadi madu, hubungan Dona dan suaminya berjalan lancar. Dona tidak masalah ketika sang suami lebih banyak menghabiskan waktu dengan istri pertama.
“Ke aku paling seminggu itu dua apa tiga kali, tidur di rumah juga kadang semalam paling. Emang udah risiko aku,” pungkasnya.
(adk)
Trigger warning: Artikel ini tidak ditujukan untuk memberi contoh perilaku dan fenomena buruk yang diulas dan sedang jadi perbincangan hangat di media sosial. Penulis memohon kebijaksanaan pembaca, dan berkonsultasi dengan pihak terkait jika artikel ini memicu emosional pembaca.
Load more