Pengalaman Tak Terlupakan Pramugari saat Tidur di Hotel Tua Tanjung Pinang: Kupingku sampai Panas
- Freepik/wavebreakmedia_micro
tvOnenews.com - Pengalaman tak terlupakan seorang pramugari saat tidur di hotel tua Tanjung Pinang.
Menjadi seorang pramugari ternyata tidak hanya soal melayani penumpang di udara, tetapi juga menghadapi pengalaman-pengalaman tak terduga yang menyeramkan.Ā
Dalam sebuah cerita horor yang dibagikan Ayu, seorang pramugari sejak 2008, ia mengaku pernah mengalami kejadian tak masuk akal saat menginap di hotel tua Tanjung Pinang.Ā
![]()
Ilustrasi Pramugari dan Pilot. (Sumber:Ā Istockphoto)
Kisah mencekam itu ia ceritakan dalam acara Lonceng Mystery yang dipandu oleh Gilang Ahaditia.
āPengalaman gue lagi nih, di hotel. Beberapa hotel ya. Gue ceritain yang di hotel eh Tanjung Pinang, Kepulauan Riau ya,ā buka Ayu mengawali ceritanya.
Ayu menjelaskan, saat itu dia baru masuk ke maskapai tersebut dan mendapatkan tugas terbang dari Cengkareng ke Tanjung Pinang, hanya satu kali pendaratan pada sore ke malam.Ā
Karena statusnya masih pramugari baru, ia mendapat kamar di lantai dasar hotel.
āLantai dasarnya itu kayak ada ini⦠bukan balkon, ini kalau buka pintu kamar itu udah los jalanan gitu loh. Kayak cottage gitu loh,ā lanjutnya.
Malam itu, Ayu sekamar dengan senior. Saat lampu dimatikan dan seniornya sudah tertidur, Ayu pun mencoba ikut tidur.Ā
![]()
Cerita Horor Pramugari. (Sumber:Ā YouTube/Lonceng Mystery)
Tapi suasana menjadi tidak biasa ketika suara aneh mulai terdengar.
āTidur gue nganter ke senior gue, krek-krek... botol Aquanya diremes-remes, krek-krek gitu. Pada saat itu gue mikirnya gini, āBunyi apa sih itu?ā Biarin aja... biarin aja. Tapi makin krek-krek,ā kisahnya dengan nada merinding.
Ayu merasa ketakutan tapi berusaha tetap tenang karena tak ingin mengganggu seniornya yang sedang tidur. Namun suara itu terus berulang.
āGue udah mulai takut kan. Mbaknya tidur lagi, gitu kan. Gue enggak berani nyalain lampu, takut marah. Lagi istirahat, kan,ā katanya.
Hal aneh lainnya mulai terasa, yakni perasaan seperti ada yang memperhatikannya.
āPernah nggak sih tidur merasa diliatin, sama merasa ada yang lewat-lewat gitu... ada hawa-hawanya. Jadi kayak ada yang ngeliatin gitu, cuma gue enggak berani lihat. Perasaan gue kayak ada gitu,ā ujarnya sambil menirukan bagaimana ia menahan diri untuk tidak menoleh ke arah jendela.
Puncaknya adalah saat ia merasa sesuatu yang panas di telinganya.
āTidur gue... udah mulai santai, rileks, udah lelap. Kuping gue panas banget sebelah sini,ā katanya sambil menunjuk ke telinga kanannya. āKuping gue panas banget, kayak giniin... hah gitu. Kayak gitu kan, panas kan.ā
Suasana makin mencekam ketika tiba-tiba terdengar bisikan halus yang mengajak bermain.
āDari panas itu, ada yang membisikkan gue. Gue dibisiki kupingnya, āKak, main yuk?āā ungkap Ayu dengan ekspresi ngeri.
Ia langsung terbangun dan memutuskan menyalakan lampu tanpa peduli reaksi seniornya.
āGue langsung bangun, dari situ gue langsung nyalain, bodo amat. Gue nyalain lampunya. Senior gue marah-marah, āKamu nyalain lampu lalalalla...ā Gue diem aja, āMaaf mbak, saya nggak bisa tidur.āā
Keesokan harinya, Ayu menceritakan kejadian itu pada seniornya saat berada di pesawat.
Tapi ia sengaja tidak langsung cerita saat kejadian karena takut seniornya juga jadi takut.
āPas lagi ngobrol-ngobrol di pesawat, gue ceritain. Kalau gue ceritain pas pada saat itu juga, dia takut juga entar.ā
Ayu mengaku malam itu tidak bisa tidur sama sekali. Suara dan sensasi aneh yang ia rasakan terus membayang hingga keesokan harinya saat harus kembali bertugas.
āDari situ, nggak bisa tidur. Bener-bener nggak bisa tidur sampai gue besokannya terbang. Melek, nggak bisa gue. Membayangkan suara itu dan masih terngiang-ngiang sampai sekarang.ā
Cerita Ayu menunjukkan bahwa menjadi pramugari bukan hanya menghadapi turbulensi di udara, tapi juga turbulensi tak kasat mata di darat, terutama saat harus menginap di hotel tua seperti di Tanjung Pinang ini.
(anf)
Load more