Habib Bahar bin Smith Sebut Jadi Istri Pendakwah Tak Mudah, Harus Punya Mental Baja: Memang Harus Sabar!
- Kolase tangkapan layar YouTube Uya Kuya TV & Instagram/@helwabachmid_
tvOnenews.com - Habib Bahar bin Smith pernah memberikan pesan tentang peran dan tanggung jawab seorang istri pendakwah.
Dalam pernyataannya, Habib Bahar menegaskan bahwa menjadi istri seorang pendakwah bukanlah perkara mudah, karena dibutuhkan kesabaran dan mental baja untuk menjalani kehidupan yang penuh ujian.
Pernyataan itu muncul di tengah isu hangat yang melibatkan dirinya dengan istri sirinya, Helwa Bachmid, yang mengaku tidak pernah ditemani selama menikah dan menjalani kehamilan.
Dalam pengakuannya, Helwa kerap menangis karena merasa hidup sendirian dan jarang mendapat perhatian dari sang suami.
Ia juga sempat menyebut bahwa Habib Bahar jarang menemuinya, bahkan saat ia sedang membutuhkan kehadiran suami di masa hamil maupun setelah melahirkan.
Dalam cuplikan video yang diunggah ulang oleh akun Instagram @imaaannn097, Habib Bahar dengan tegas menyampaikan bahwa seorang istri tidak boleh menuntut suaminya untuk selalu berada di sisi, terlebih bila suaminya memiliki tanggung jawab dakwah dan aktivitas sosial yang luas.
- Kolase tvOnenews.com/ Instagram @helwabachmid_, @Official_fadlunbalghoits
“Makanya saya bilang ke saya punya istri itu, istri yang paling saya cinta, saya bilang: ‘Lun, kakak nggak menafikan hidupnya kakak dikelilingi sama perempuan. Kakak nggak nyari perempuan, perempuan yang nyari kakak. Kakak nggak ngelamar perempuan, perempuan yang ngelamar kakak. Tapi walaupun kakak dikelilingi perempuan, hati kakak telah kakak haramkan untuk mencintai perempuan selain Fadlun,’” ujar Habib Bahar dalam potongan ceramahnya yang diunggah ulang oleh beberapa akun Instagram pendukungnya.
Ucapan tersebut diyakini ditujukan kepada istri pertamanya, Fadlun Balghoits, yang selama ini dikenal setia mendampingi Habib Bahar.
Dalam lanjutan ceramahnya, Habib Bahar menegaskan bahwa dirinya sudah memberikan pemahaman kepada sang istri tentang batas waktu dan perhatian yang bisa ia berikan di tengah padatnya kegiatan.
“Saya bilang, Lun, kalau kakak lagi di rumah, jasadnya kakak milik Lun. Tapi hati, gak usah dibilang. Mau di mana pun, kapan pun, dalam keadaan apa pun, hati tetap milik Lun. Tapi jasad, raga, waktu sama Lun itu milik Lun. Di luar, milik umat,” tambah Bahar.
Bahar juga menyinggung bahwa seorang istri tidak boleh berharap bisa memiliki suaminya secara utuh, terutama bila suaminya adalah seorang pendakwah.
Sebab, menurutnya, peran pendakwah adalah untuk umat, bukan hanya untuk keluarganya sendiri.
“Seorang istri itu gak boleh mau memiliki suami seutuhnya. Kalau suaminya pedagang atau punya pekerjaan lain sih gak masalah. Ini kan suaminya pendakwah, keliling ke sana ke sini, jadi memang harus sabar. Mentalnya harus mental baja, batinnya harus kuat. Kalau gak kuat mental, bahaya,” tegasnya.
Pernyataan ini menuai berbagai tanggapan publik. Beberapa menilai ucapan itu seolah menjadi pembenaran atas sikap Habib Bahar terhadap Helwa Bachmid, yang merasa kurang mendapat perhatian dari sang suami.
Helwa sendiri dalam wawancaranya bersama dr. Richard Lee sempat menyinggung hal serupa.
Ia mengaku sering merasa dibiarkan sendirian dan hanya ditemui Habib Bahar sesekali. Bahkan saat melahirkan, Bahar hanya datang untuk mengazankan bayi mereka lalu pergi.
"Aku juga heran kok aku nikah seperti ini kayak jadi istri simpanan datang cuman seenak maunya dia doang. Terus sampai nangis-nangis ke mama aku kayak berpikir aku kayak janda gitu loh," kata Helwa lirih.
Sementara itu, dalam kesempatan berbeda, Fadlun Balghoits sempat membela sang suami dengan menyindir Helwa yang dianggap terlalu manja karena sering meminta untuk ditemani.
Fadlun mengatakan bahwa dirinya pun melahirkan tiga anak tanpa pernah didampingi Habib Bahar dan tetap bisa kuat karena tahu suaminya adalah seorang pendakwah. (adk)
Load more