Paksu dan Bunda Wajib Tahu, Alasan Mengapa Kompetisi Bahasa Penting untuk Tumbuh Kembang Anak dan Remaja
- Istockphoto
tvOnenews.com - Kemampuan berbahasa asing memiliki peran penting dalam mendukung tumbuh kembang anak dan remaja, terutama di tengah dunia yang semakin saling terhubung.
Sejumlah riset pendidikan menunjukkan bahwa anak yang mempelajari bahasa kedua sejak usia sekolah cenderung memiliki kemampuan kognitif yang lebih baik, mulai dari daya ingat, konsentrasi, hingga kemampuan memecahkan masalah.
Bahasa juga membantu anak mengekspresikan emosi dan gagasan secara lebih terstruktur. Pengalaman negara-negara maju memperlihatkan bahwa penguasaan bahasa asing diposisikan sebagai kebutuhan dasar pendidikan.
Finlandia mewajibkan pembelajaran bahasa kedua sejak pendidikan dasar sebagai bagian dari kurikulum nasional.
Di Singapura, kebijakan bilingual diterapkan secara konsisten untuk membekali siswa dengan kemampuan komunikasi global tanpa mengabaikan identitas budaya. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan prestasi akademik, tetapi juga membangun kepercayaan diri dan keterampilan sosial anak.
Di Indonesia, pembelajaran bahasa asing sering diperkuat melalui kegiatan di luar sekolah. Kompetisi akademik menjadi salah satu medium yang banyak digunakan karena mampu menggabungkan unsur belajar, tantangan, dan pengalaman sosial.
Dari sinilah kompetisi bahasa berskala nasional berperan sebagai ruang belajar alternatif yang melengkapi pendidikan formal.
Melansir dari berbagai sumber, berikut Alasan Mengapa Kompetisi Bahasa Penting untuk Tumbuh Kembang Anak dan Remaja:
1. Membantu Anak Belajar di Bawah Tekanan yang Sehat
Kompetisi mengajarkan anak menghadapi situasi menantang dalam batas yang wajar. Saat mengikuti lomba bahasa, peserta belajar mengelola rasa gugup, berpikir cepat, dan tetap fokus.
Keterampilan ini penting bagi perkembangan mental dan akan berguna dalam berbagai situasi akademik maupun sosial di masa depan.
2. Mengasah Kemampuan Bahasa Secara Praktis
Berbeda dengan pembelajaran di kelas, kompetisi menuntut penerapan langsung kemampuan bahasa. Anak tidak hanya menghafal, tetapi juga memahami struktur kata dan makna.
Proses ini sejalan dengan pendekatan pembelajaran aktif yang banyak diterapkan di sistem pendidikan negara maju.
3. Menumbuhkan Kebiasaan Disiplin dan Konsistensi
Persiapan menuju kompetisi mendorong peserta berlatih secara teratur. Pola ini membantu anak membangun disiplin belajar sejak dini.
UNESCO mencatat bahwa kebiasaan belajar yang konsisten berkontribusi besar terhadap keberhasilan akademik jangka panjang.
4. Memberikan Pengakuan Akademik dan Membuka Akses bagi Peserta dari Berbagai Daerah
Sekitar 1.300 finalis nasional terpilih dari kurang lebih 19.500 peserta yang mengikuti seleksi di 58 kota. Skala ini menunjukkan bahwa kompetisi bahasa tidak lagi terbatas pada wilayah tertentu, tetapi menjadi ruang belajar yang lebih inklusif bagi anak dan remaja dari berbagai latar belakang.
5. Membangun Ekosistem Pembelajaran yang Kolaboratif
Selain peserta, kompetisi ini melibatkan orang tua, pendidik, relawan mahasiswa, serta mitra pendukung. Pola kolaborasi semacam ini mencerminkan praktik pendidikan di banyak negara maju, di mana perkembangan anak dipandang sebagai hasil kerja bersama antara keluarga, sekolah, dan komunitas.
6. Menjadi Pengalaman Belajar di Luar Kelas
Lebih dari sekadar ajang mencari pemenang, kompetisi bahasa memberi pengalaman belajar yang berbeda. Anak belajar sportivitas, menghargai proses, serta memahami bahwa hasil merupakan bagian dari perjalanan belajar.
Kompetisi bahasa seperti Spelling Bee nasional menunjukkan bahwa pembelajaran bahasa asing dapat dikemas secara edukatif dan bermakna. Dalam kompetisi nasional ke-18, sertifikat pemenang didaftarkan ke Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) di bawah Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Academic Operations Manager English 1, Chris Patton, menjelaskan bahwa pengakuan ini memberi nilai akademik yang dapat dimanfaatkan peserta.
Dengan pengakuan resmi ini, sertifikat kompetisi nasional Spelling Bee berada pada level yang sama dengan sertifikat kompetisi prestasi lain yang tercatat di Puspresnas.
Ketika dirancang dengan pendekatan yang tepat, kegiatan semacam ini mampu mendukung tumbuh kembang anak dan remaja, sekaligus melengkapi sistem pendidikan formal dalam menyiapkan generasi yang siap menghadapi tantangan global.
Pada akhirnya, penguasaan bahasa asing tidak bisa dilepaskan dari proses tumbuh kembang anak dan remaja secara menyeluruh.
Melalui kompetisi bahasa yang dirancang secara edukatif, anak memperoleh ruang untuk belajar, berlatih, dan mengenali potensi dirinya di luar kelas.
Pengalaman tersebut bukan hanya berdampak pada kemampuan akademik, tetapi juga membentuk karakter, kepercayaan diri, dan kesiapan menghadapi lingkungan global yang semakin kompetitif.
Ketika pendidikan formal dan kegiatan pendukung berjalan selaras, anak-anak Indonesia memiliki peluang lebih besar untuk tumbuh menjadi pembelajar sepanjang hayat. (udn)
Load more