Jangan Asal Ambil KPR Rumah, Ini Pertimbangan Penting Supaya Cicilan Tak Jadi Beban Panjang
- Aldi Herlanda/tvOnenews.com
tvOnenews.com - Membeli rumah dengan skema Kredit Pemilikan Rumah (KPR) memang menjadi impian banyak orang.
Namun, sebelum menandatangani perjanjian kredit, ada sejumlah hal penting yang wajib dipertimbangkan agar cicilan KPR tidak menjadi beban berat di masa depan.
Dilansir dari kanal YouTube Ngomongin Uang, berikut beberapa hal yang perlu kamu pahami sebelum memutuskan untuk mengajukan KPR.
1. Perhatikan Kondisi Keuangan Jangka Panjang
Banyak orang tergesa-gesa mengambil KPR karena tekanan sosial, entah dorongan untuk segera memiliki rumah, keinginan membuktikan diri pada orang tua, atau sekadar ingin terlihat sukses di usia muda.
Padahal, keputusan terburu-buru ini bisa berujung penyesalan.
Yang harus dipahami, poin terpenting dari KPR bukanlah seberapa cepat pengajuan disetujui, tetapi seberapa mampu kamu melunasi cicilan dalam jangka panjang.
Karena KPR biasanya berlangsung belasan hingga puluhan tahun, maka kondisi finansialmu di masa depan sangat menentukan.
Pastikan kamu sudah memiliki rencana pengelolaan keuangan, termasuk cadangan dana jika sewaktu-waktu kehilangan penghasilan.
Pengalaman masa pandemi bisa dijadikan pelajaran: banyak orang gagal membayar cicilan karena penghasilannya tiba-tiba hilang.
Selain itu, perhitungkan juga biaya tambahan di luar cicilan, seperti biaya notaris, provisi, pajak jual beli, appraisal, hingga balik nama sertifikat yang totalnya bisa mencapai lebih dari 5% dari harga rumah.
2. Hitung dengan Cermat DP dan Cicilan
Bank kini banyak menawarkan DP (uang muka) rendah bahkan 0% untuk rumah pertama. Sekilas terdengar menggiurkan, tapi kamu perlu memahami konsekuensinya.
Semakin kecil DP yang dibayar, semakin besar jumlah pinjaman dan bunga yang harus ditanggung.
Sebagai contoh, jika kamu membeli rumah senilai Rp1 miliar dengan DP Rp300 juta, maka total pinjaman Rp700 juta dengan bunga tetap 8,75% selama 10 tahun akan menghasilkan cicilan sekitar Rp8,7 juta per bulan.
Namun jika DP hanya Rp100 juta, pinjaman naik menjadi Rp900 juta dan cicilan melonjak ke Rp11,2 juta per bulan.
Total harga rumah yang kamu bayarkan pun meningkat karena akumulasi bunga menjadi lebih besar.
Selain itu, perlu diingat bahwa sebagian besar bank hanya menetapkan bunga tetap (fixed rate) di tahun-tahun awal, kemudian berubah menjadi bunga mengambang (floating rate) yang mengikuti suku bunga acuan. Ini berarti cicilan bisa meningkat sewaktu-waktu.
3. Teliti Sebelum Membeli
Rumah adalah aset besar yang nilainya bisa mencapai miliaran rupiah, maka kamu wajib meneliti dengan cermat sebelum membeli.
Cek lokasi rumah, apakah berada di area rawan banjir, longsor, atau bencana lainnya. Tanyakan langsung pada warga sekitar agar kamu tidak menyesal setelah akad KPR ditandatangani.
Selain itu, periksa status tanah dan bangunan. Pastikan rumah tidak berdiri di zona hijau yang dilarang untuk pemukiman.
Cek juga kondisi fisik bangunan, dari fondasi, kusen, atap, hingga sistem sanitasi karena faktor-faktor ini akan menentukan besarnya biaya renovasi di masa depan.
Jangan lupa memverifikasi keaslian sertifikat tanah dan status kepemilikannya, apakah hak milik, hak guna bangunan, atau hak pakai.
4. Pastikan Rumah Sesuai dengan Kebutuhan
Pertimbangan terakhir yang sering diabaikan adalah kompatibilitas rumah dengan gaya hidup dan kebutuhan kamu.
Pastikan jarak dari tempat tinggal ke kantor, sekolah, rumah sakit, hingga pasar masih dalam jangkauan wajar.
Akses transportasi, fasilitas umum, dan keamanan lingkungan juga sangat penting diperhitungkan.
Selain lokasi, pastikan lingkungan sosialnya juga mendukung kenyamanan hidup. Konflik antarwarga atau suasana lingkungan yang tidak sesuai dengan gaya hidup bisa menjadi sumber stres di kemudian hari.
Membeli rumah bukan hanya soal bangunan, tetapi juga tentang bagaimana kamu akan hidup di dalamnya selama bertahun-tahun ke depan. (adk)
Load more