Psikolog Bongkar Gestur Roby Tremonti Saat Klarifikasi Tokoh Buku Aurelie Moeremans
- Kolase tvOnenews
tvOnenews.com - Video klarifikasi Roby Tremonti soal dugaan dirinya sebagai sosok “Bobby” dalam buku Broken Strings karya Aurelie Moeremans terus menjadi sorotan publik.
Klarifikasi kepada wartawan soal namanya yang terseret sebagai tokoh di dalam buku semula diharapkan dapat memberikan penjelasan, namun justru menimbulkan lebih banyak perdebatan di kalangan warganet.
Salah satu yang ikut menanggapi adalah psikolog dan grafolog Joice Manurung, yang menganalisis gestur dan ekspresi Roby saat berbicara dalam video klarifikasinya.
Menurut Joice, dari bahasa tubuh dan cara berbicara, terlihat adanya tekanan emosional yang cukup besar.
“Sebenarnya kita tidak tahu motifnya, tapi gini, kita itu biasanya tidak bisa melepaskan kesalahan yang sudah pernah kita lakukan. Memori itu tidak akan pernah bisa hilang. Jadi, manusia punya sifat-sifat dasar yang akan muncul ketika mengalami tekanan,” ujar Joice saat menjadi bintang tamu di program FYP Trans7.
Joice menjelaskan, dalam situasi tertekan, seseorang cenderung menunjukkan perilaku yang tidak sepenuhnya bisa dikontrol.

- YouTube/TransTVOfficial
Hal ini, katanya, dapat dilihat dari gestur tubuh, nada bicara, hingga ekspresi wajah yang tampak tidak stabil.
“Kalau ini dialami sebagai tekanan, artinya pengalaman buruk yang pernah ada barangkali bisa terpanggil. Orang kadang kala kalau sudah melihat sebuah situasi atau cerita atau gambar, kalau dia pernah mengalami hal yang tidak enak, dia selalu membuat koneksi terhadap hal itu. Seakan-akan menjadi bagian dari dirinya,” ujar Joice.
Menurut Joice, jika seseorang begitu defensif terhadap sebuah isu atau pernyataan, itu bisa menjadi tanda bahwa topik tersebut memicu sesuatu yang personal dalam dirinya.
“Kalau itu menjadi bagian dari dirinya, artinya ini sesuatu yang memang dia alami. Tapi kalau tidak, ya tinggal hukum nanti yang akan bicara untuk membuktikan hal itu,” tambahnya.
Dalam video klarifikasi yang viral, Roby Tremonti terlihat beberapa kali mengalihkan pandangan, memainkan tangan, dan menggunakan nada bicara yang berubah-ubah dalam waktu singkat.
Joice juga menyoroti cara Roby membawa pembicaraan keluar dari konteks utama, termasuk ketika ia tiba-tiba membahas hal-hal yang tidak relevan dengan isu utama buku Broken Strings.
Menurut Joice, hal tersebut bisa menjadi bentuk deflection atau pengalihan perhatian, yang umum dilakukan seseorang saat merasa tidak nyaman dengan topik yang sedang dibicarakan.
Isu lain yang turut dibahas publik adalah foto-foto masa lalu Roby dan Aurelie yang disebut masih disimpan hingga kini.
Menurut Joice, kebiasaan menyimpan barang atau foto dari masa lalu tidak selalu menunjukkan niat buruk, tetapi bisa menggambarkan keterikatan emosional atau kebutuhan pembuktian di masa depan.
“Kita tidak tahu motifnya ya, apakah memang itu menjadi kenangan saja untuk menjadi bagian dari cerita hidup, atau mungkin menjadi bukti suatu saat. Kita tidak bisa membaca motif seseorang 100%, tapi yang bisa dibaca adalah perilakunya,” jelas Joice.
Ia menegaskan, menyimpan foto atau barang pribadi bukan masalah selama tidak digunakan untuk tujuan negatif.
"Selama perilakunya tidak negatif, nyimpan foto kan enggak masalah. Tapi kalau menyimpan foto kemudian dipakai sebagai alat untuk menekan seseorang atau menyerang seseorang, perilakunya jadi tidak positif. Itu yang menjadi persoalan,” ujar Joice menambahkan.
Menurut Joice, dari sisi psikologis, klarifikasi Roby Tremonti menunjukkan upaya seseorang yang berusaha mempertahankan kendali emosinya di tengah tekanan publik.
Namun di saat yang sama gestur dan ekspresinya mengindikasikan ketidakstabilan batin. (adk)
Load more