Gen Z dan Millenials Kerap Alami Burnout hingga Krisis Makna? Ketika Kemajuan Zaman Menguji Ketahanan Mental dan Spiritual
- Istockphoto
tvOnenews.com - Perubahan zaman yang ditandai dengan kemajuan teknologi, ritme hidup cepat, dan tekanan sosial yang tinggi membawa tantangan baru bagi manusia modern.
Di balik kemudahan akses informasi dan peluang yang terbuka lebar, muncul persoalan lain yang tak kalah serius: kelelahan mental, krisis identitas, rasa terasing, hingga hilangnya makna hidup.
Tantangan ini kerap dialami lintas usia, terutama generasi muda (Milenials dan Gen Z) yang tumbuh di tengah ekspektasi sosial yang terus meningkat.
Fenomena tersebut bukan sekadar isu lokal. Laporan Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) dan World Health Organization (WHO) mencatat peningkatan signifikan kasus stres, depresi, dan burnout di negara-negara maju seperti Jepang, Korea Selatan, Inggris, dan Amerika Serikat.
Jepang bahkan menghadapi problem struktural berupa karoshi, istilah untuk kematian akibat kelelahan kerja. Fakta ini menunjukkan bahwa kemajuan ekonomi dan teknologi tidak otomatis menghadirkan kesejahteraan batin.
Berbagai negara mencoba merespons kondisi ini dengan pendekatan yang lebih menyeluruh. Negara-negara Skandinavia menempatkan keseimbangan hidup dan kesehatan mental sebagai bagian penting dari kebijakan publik.
Di Inggris, isu well-being mulai masuk ke dalam sistem pendidikan dan layanan sosial. Sementara itu, di banyak komunitas berbasis agama, nilai spiritual kembali dipandang sebagai fondasi penting dalam menghadapi tekanan era modern.
Dalam konteks inilah istilah modern struggles menjadi relevan untuk dibahas secara lebih mendalam.
Tekanan Modern dan Krisis Keterhubungan Manusia
Salah satu ciri utama modern struggles adalah perasaan terputus—baik dari diri sendiri, lingkungan sosial, maupun nilai hidup yang diyakini. Arus informasi yang masif sering kali membuat individu merasa tertinggal, tidak cukup baik, atau kehilangan arah. Relasi sosial pun berubah menjadi lebih dangkal, sementara ruang refleksi semakin menyempit.
Dalam perspektif Islam, kondisi ini dapat dibaca sebagai ketidakseimbangan antara aspek material dan spiritual. Islam memandang manusia sebagai entitas utuh yang terdiri dari iman, akal, emosi, dan tanggung jawab sosial.
Ketika salah satu aspek mendominasi secara berlebihan, maka muncul kegelisahan batin yang sulit dijelaskan secara rasional semata.
Nilai Spiritual sebagai Kerangka Menghadapi Zaman
Ajaran Islam menawarkan pendekatan yang tidak terlepas dari realitas modern, namun tetap berakar pada nilai-nilai dasar. Prinsip keseimbangan (wasathiyah), tanggung jawab sosial, dan kesadaran diri menjadi landasan penting dalam menghadapi tekanan zaman.
Nilai-nilai ini relevan untuk menjawab persoalan kontemporer, mulai dari relasi keluarga, etika kerja, hingga pengelolaan kesehatan mental.
Diskursus tentang tantangan modern ini juga diwarnai oleh pandangan tokoh-tokoh Islam dari berbagai latar belakang, baik global maupun lokal.
Perspektif yang dibawa mencakup isu akidah, muamalah, dinamika keluarga, serta tantangan sosial umat Muslim di tengah masyarakat modern yang plural dan kompetitif. Pendekatan lintas konteks ini menegaskan bahwa persoalan umat hari ini tidak berdiri terpisah dari dinamika global.
Gaya Hidup, Edukasi, dan Ruang Refleksi Alternatif
Selain melalui diskusi dan kajian, respons terhadap modern struggles juga muncul lewat pendekatan gaya hidup dan edukasi.
Aktivitas fisik dipandang sebagai bagian dari tanggung jawab menjaga tubuh, sementara seni dan ruang kreatif digunakan sebagai medium refleksi batin. Pendekatan ini menandai pergeseran cara dakwah dan edukasi keagamaan yang tidak lagi terbatas pada forum formal.
Aspek muamalah juga menjadi bagian penting dalam pembahasan tantangan modern. Literasi keuangan syariah, misalnya, diposisikan sebagai upaya membangun kemandirian ekonomi yang beretika dan berkelanjutan.
Dalam konteks ini, sektor keuangan syariah tidak hanya berbicara soal transaksi, tetapi juga nilai keadilan dan kebermanfaatan sosial.
Perhatian terhadap generasi muda menjadi poin krusial. Pendidikan berbasis pengalaman, profesionalisme, dan kerja tim dipandang sebagai bekal penting agar generasi berikutnya tidak hanya kuat secara spiritual, tetapi juga adaptif dan kompeten menghadapi tantangan global.
Upaya semacam ini terlihat dalam berbagai inisiatif pembelajaran kontekstual yang menghubungkan nilai agama dengan realitas dunia kerja dan sosial. Isu-isu tersebut menjadi latar diskursus dalam penyelenggaraan Connect 2026 yang digelar di ICE BSD, Tangerang, sebagai salah satu ruang refleksi kolektif atas tantangan umat di era modern.
Namun di luar forum apa pun, modern struggles tetap menjadi kenyataan sehari-hari yang membutuhkan kesadaran, keseimbangan, dan keberanian untuk kembali terhubung dengan diri sendiri, sesama, dan nilai hidup yang diyakini.
Tantangan hidup di era modern menuntut lebih dari sekadar kemampuan beradaptasi secara teknis. Ketahanan mental, kejernihan nilai, dan kesadaran spiritual menjadi fondasi penting agar manusia tidak terjebak dalam ritme hidup yang melelahkan dan kehilangan arah.
Modern struggles memperlihatkan bahwa kemajuan zaman perlu diimbangi dengan ruang refleksi dan keterhubungan yang bermakna, baik dengan diri sendiri maupun dengan lingkungan sosial.
Di tengah perubahan yang terus berlangsung, upaya menjaga keseimbangan inilah yang menentukan apakah manusia hanya mengikuti arus, atau mampu menjalani hidup dengan kesadaran dan tujuan yang lebih utuh. (udn)
Load more