Adik Denada Ikut Angkat Bicara Soal Polemik Sang Kakak, Singgung Tanggung Jawab Ayah Kandung Ressa
- Instagram/enricotambunan
“Saya sungguh sangat amat sedih karena waktu saya nonton podcast, tante mengatakan bahwa tante tahu siapa bapaknya tapi tante enggak mau ngomongin,” ungkap Enrico.
Enrico menjelaskan bahwa dirinya baru mengetahui keberadaan Ressa sebagai anak Denada pada pertengahan 2025.
Sebelumnya, ia sama sekali tidak tahu karena lama tinggal di luar negeri dan jarang berinteraksi langsung dengan keluarga di Indonesia.
“Baru di pertengahan 2025 saya diberitahu sama tante siapa itu Ressa. Saya tidak tahu bahwa Ressa itu anaknya Mbak Dena pada waktu itu,” jelasnya.

- Instagram/@senator_emiliacontessa
Saat mengetahui hal itu, Enrico mencoba membicarakannya dengan Denada, namun sang kakak selalu menunjukkan reaksi emosional dan enggan membuka topik tersebut.
“Setiap kali saya mencoba membawa omongan itu ke kakak saya, kakak saya sangat amat sedih sekali. Dia enggak mau bicarain. Seperti orang yang PTSD begitu. Kalau ngomongin topik itu, dia langsung sedih campur marah dan enggak mau ngomongin,” katanya.
Enrico mengaku kasihan melihat kondisi Denada yang menurutnya menyimpan luka batin yang dalam akibat masa lalu.
Ia menduga, ada pengalaman pahit yang membuat sang kakak begitu tertutup setiap kali membahas masa lalunya dengan ayah Ressa.
Lebih lanjut, Enrico juga menyoroti arah perdebatan publik yang menurutnya salah sasaran.
Ia menilai bahwa dalam situasi seperti ini, seharusnya yang dimintai pertanggungjawaban adalah sang ayah biologis, bukan justru Denada yang kini diserang dan diboikot.
“Kalau di keluarga lain, logisnya adalah kalau sesuatu terjadi terhadap keluarga perempuan, semuanya harus melindungi. Ini yang harus bertanggung jawab adalah yang laki-lakinya. Kalau Tante tahu laki-lakinya siapa, seharusnya yang diserang yang laki-laki itu. Harusnya keponakan sendirilah yang dilindungi,” ujar Enrico.
Ia juga menegaskan bahwa Denada telah menanggung beban berat seorang diri selama bertahun-tahun, tanpa adanya dukungan dari sosok laki-laki yang seharusnya turut bertanggung jawab atas kelahiran Ressa.
“Ada seorang ibu yang disakiti oleh seorang laki-laki, tapi kok yang dihujat-hujat, yang diboikot-boikot itu justru dia. Sementara yang harusnya bertanggung jawab malah tidak pernah disebut,” tambah Enrico.
Load more