Puasa, Pocong, dan Godaan Kaya Instan: Film Setannya Cuan Siap Mengguncang Bioskop Indonesia
- Istimewa
Jakarta, tvOnenews.com - Film horor komedi terbaru Setannya Cuan siap menyeruak ke layar lebar lewat Gala Premiere yang digelar pada Sabtu, 28 Februari 2026. Uniknya, acara peluncuran ini berlangsung di tengah khidmatnya ibadah puasa, menghadirkan kontras menarik antara suasana reflektif Ramadan dengan kisah mistis, satir, dan komikal dari sebuah kampung kecil bernama Cicalengka.
Tak berhenti di gala premiere, Setannya Cuan dijadwalkan tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia mulai 5 Maret 2026. Momentum penayangan di bulan puasa menjadi penanda kuat bahwa film ini tidak sekadar menawarkan hiburan, tetapi juga membawa pesan reflektif tentang pengendalian diri dan godaan manusia terhadap jalan pintas menuju kekayaan.
Disutradarai oleh Sahrul Gibran bersama Jay Sukmo, Setannya Cuan mengusung genre horor komedi dengan lapisan satir sosial yang tajam. Keduanya menegaskan bahwa film ini dirancang untuk membuat penonton tertawa, terkejut, sekaligus berpikir ulang tentang obsesi manusia pada hasil instan.
“Film ini memang komedi horor, tapi lapisan terdalamnya adalah satir tentang manusia yang ingin segalanya instan. Kami ingin penonton tertawa, terkejut, tapi juga pulang dengan perenungan. Apalagi dirilis di bulan puasa, momennya sangat relevan dengan tema pengendalian diri,” ujar Sahrul Gibran.
Dari Kursi Lurah ke Kuburan yang Tak Tenang
Cerita Setannya Cuan berpusat di Kampung Cicalengka yang awalnya digambarkan tenang dan bersahaja. Konflik bermula dari perebutan kursi lurah antara Adang dan Asep. Adang keluar sebagai pemenang, sementara Asep harus menelan kekalahan. Namun kemenangan itu justru menjadi awal dari rangkaian petaka.
Alih-alih menikmati kekuasaan, Adang terjerumus ke dalam kebangkrutan. Sebaliknya, Asep yang kalah justru mendadak kaya raya. Rahasia kekayaannya terkuak: angka togel “sakti” yang ia peroleh dari dukun Rojan. Persekutuan gelap antara tiga sahabat lama—Adang, Asep, dan Rojan—perlahan berubah menjadi bara dendam yang mematikan.
Ketika keserakahan mengambil alih akal sehat, satu nyawa pun melayang. Kematian Asep mengguncang Cicalengka. Kekacauan kian menjadi ketika batu nisan dicuri dan pocong dibangkitkan. Sejak saat itu, kematian bukan lagi sekadar akhir, melainkan harga yang harus dibayar.
Teror Cuan dari Alam Gaib
Usai tragedi tersebut, Cicalengka tak pernah benar-benar sama. Teror demi teror bermunculan: pocong gentayangan, tuyul berkeliaran, babi ngepet mengintai, hingga sosok “setan togel” yang menggoda warga dengan janji angka keberuntungan. Adang memang berkali-kali menang togel, namun setiap kemenangan selalu datang bersama harga yang makin mahal.
Di tengah kekacauan itu, hadir Mince, seorang janda muda yang menjadi pusat perhatian para pemuda kampung. Kehadirannya justru memperkeruh suasana, memantik cemburu, membakar ambisi, dan tanpa disadari memperluas lingkaran kutukan yang menyelimuti Cicalengka.
Dendam, Cinta, dan Upaya Melawan Kutukan
Akar dari seluruh kekacauan mengarah pada satu nama: dukun Rojan. Ia bukan hanya dalang kekayaan instan, tetapi juga pelaku pembunuhan Nila, kembang desa yang menolak cintanya. Di tengah teror yang kian tak terkendali, muncul satu sosok yang berani melawan: Ujang.
Dengan dendam dan keberanian yang tersisa, Ujang menjadi satu-satunya harapan untuk menghentikan rangkaian teror setan-setan pembawa cuan. Pertanyaannya, mampukah ia memutus kutukan yang telah telanjur mengakar, atau justru Cicalengka akan tenggelam dalam keserakahan yang mereka ciptakan sendiri?
Deretan Pemain dan Nuansa Komedi yang Kuat
Setannya Cuan diperkuat jajaran pemain lintas generasi, di antaranya Fico Fachriza, Joe P-Project, Anyun Cadel, Nadine Alexandra, hingga Aming. Perpaduan karakter komikal, misterius, dan emosional menjadikan film ini kaya warna dan ritme.
Film ini juga diperkuat lagu tema yang secara khusus diciptakan untuk Setannya Cuan, dinyanyikan oleh Kojek Rapper Betawi bersama Jelita Jelly, menambah kesan orkestrasi cerita yang solid.
Gala Premiere di Bulan Puasa, Horor dengan Refleksi
Gala Premiere Setannya Cuan dikemas khidmat namun tetap renyah, menyesuaikan suasana Ramadan. Pengalaman sinematik yang ditawarkan bukan hanya hiburan, tetapi juga refleksi, sejalan dengan pesan film tentang godaan terbesar yang sering datang justru saat manusia merasa paling tenang.
“Kami melihat Setannya Cuan sebagai hiburan yang segar di tengah Ramadan. Ia mengingatkan bahwa godaan terbesar bukan selalu dari luar, tapi dari dalam diri kita,” ujar Robby Hilman Maulana, Produser Eksekutif sekaligus penggagas cerita.
Dengan balutan horor lokal, komedi satir, dan kritik sosial yang menggelitik, Setannya Cuan hadir sebagai tontonan yang menghibur sekaligus menggigit. Karena pada akhirnya, yang paling menyeramkan bukanlah makhluk gaib, melainkan manusia yang tak pernah merasa cukup. (nsp)
Load more