Menohok! Buah Polemik Viral Dwi Sasetyaningtyas, Cinta Laura Sentil soal Penerima LPDP Direbut Keluarga Tajir
- dok ist
Jakarta, tvOnenews.com - Aktris Cinta Laura menyoroti polemik beasiswa LPDP. Kontroversi ini viral menyusul dari ucapan influencer Dwi Sasetyaningtyas.
Akibat ucapan kontroversi Dwi Sasetyaningtyas, pembahasan mengenai penerima beasiswa LPDP dari pemerintah dianggap tidak tepat sasaran.
Ucapan lawas Laura Cinta pun mencuat dan viral lagi. Sang penyanyi kembali menyoroti soal video yang direkam pada 2024, khususnya membahas tentang LPDP.
Saat ditemui awak media di kawasan Kapten P Tendean, Jakarta Selatan, Senin, 3 Februari 2026, Cinta Laura menegaskan, dirinya ogah membahas lebih jauh terkait beasiswa LPDP.
"Aku bukan ahli LPDP, tolong jangan mengutip aku terkait detail-detail LPDP, itu bukan keahlianku," ujar Cinta Laura dikutip, Selasa (3/3/2026).
Ogah Singgung Influencer Terseret Polemik Beasiswa LPDP

- ANTARA
Model lulusan Columbia University itu mengetahui kontroversi yang belakangan ini. Tyas sapaan akrabnya, melontarkan ucapan "Cukup saya saja yang WNI, anak-anakku jangan".
Masyarakat Indonesia geram. Latar belakangnya dan sang suami, Arya Iwantoro sebagai Awardee LPDP sebagai sasaran utama.
Ironisnya, ayah mertua Tyas, Syukur Iwantoro dikenal bukan orang sembarangan. Orang tua Arya merupakan birokrat senior hingga mantan pejabat tinggi di Kementerian Pertanian (Kementan).
Sontak, Cinta Laura memberikan sedikit penjelasan dan kritiknya terkait LPDP. Pasalnya, rekaman video membahas beasiswa dari pemerintah di sebuah podcast pada 2024 kembali viral.
"Jadi, tidak mengkritik apa yang terjadi oleh seseorang kemarin," tegasnya.
Cinta Laura Singgung Etika Penerima LPDP dari Keluarga Mampu
Cinta kembali mencuit ucapannya pada satu setengah tahun lalu. Walau menolak daftar LPDP, ia tidak habis pikir dengan kriteria para penerima beasiswa tersebut.
Kriteria penerima beasiswa diinisiasi oleh Kementerian Keuangan (Kemenkeu) ini, sering kali menyasar pada individu yang salah. Maksudnya, mereka yang merasakan dari kalangan ekonomi atas.
Ia memahami ada kebanggaan tersendiri bagi mereka diterima sebagai penerima atau awardee LPDP. Namun pemerintah harus melihat bahwa Indonesia masih negara berkembang.
Kata aktris berusia 32 tahun ini, keterbatasan dana untuk beasiswa justru menjadi fokus pemerintah. Para talenta muda diterpa keterbatasan ekonomi sebagai prioritas utama.
"Untuk itu, penting banget kita mengalokasikan dana ini ke mahasiswa atau anak-anak yang benar-benar membutuhkan," jelasnya.
Ia meyakini banyak para talenta brilian masih tersembunyi di seluruh wilayah Indonesia. Pemerintah harus bisa memilah anak-anak bangsa ingin kuliah S2 dan S3 di luar negeri dengan tepat sasaran.
Ia melihat Indonesia tidak kalah saing dalam urusan mengadu talenta anak bangsa. Hanya saja kriterianya belum sempurna.
"Aku percaya banyak sekali orang-orang brilian di negara kita yang punya kemampuan sekolah di institusi-institusi baik di dunia ini, tapi karena dana akhirnya mereka tidak mencapai potensi mereka," bebernya.
Menurutnya, para talenta mempunyai kemampuan dari segi finansial harus dibatasi. Pemerintah sendiri memiliki kuota khusus anak bangsa ingin belajar di luar negeri dibantu dengan LPDP.
Dengan pesan menohoknya, Cinta Laura sangat sedih terhadap mereka yang mampu secara finansial tetap merebut jatah kuota beasiswa LPDP dari para otak brilian terhambat ekonomi.
Baginya, cara tersebut sudah tidak mengedepankan etika menerima bantuan pendidikan dari negara. Indonesia saat ini masih fokus berjuang menyabet status negara maju.
"Kalau kita memang pintar, memang ahli, tapi memiliki materi yang cukup, ya jangan rampas kesempatan itu dari orang lain," sentil dia dengan tegas.
"Sebaiknya dana-dana seperti itu benar-benar menyasar kepada orang yang memang memiliki kemampuan dan kepintaran luar biasa, tapi juga orang-orang tak mempunyai dana buat mendukung kemampuannya," sambungnya lagi.
Cinta Laura dalam penutup keterangannya menyampaikan harapan besarnya terhadap pengelolaan LPDP. Sistem prioritas beasiswa ini harus dibenahi secara total ke depannya.
(hap)
Load more