Siapa Sih Hoho Alkaf? Kades Bertato yang Bikin Gubernur Jabar Dedi Mulyadi Terkesan dengan Kebijakannya
- YouTube/KANGDEDIMULYADICHANNEL
Jakarta, tvOnenews.com - Nama Hoho Alkaf, Kepala Desa (Kades) Purwasaba, Kecamatan Mandiraja, Kabupaten Banjarnegara mencuri perhatian publik. Ia belakangan ini bertemu dengan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.
Kedatangan Hoho Alkaf ke kediaman Dedi Mulyadi untuk menceritakan kronologi dugaan pengeroyokan dialami olehnya. Itu terjadi saat kegiatan seleksi perangkat desa di Desa Purwasaba mengalami kekisruhan.
Meski demikian, pertemuan antara Kades Hoho Alkaf dengan Dedi Mulyadi bukan pertama kalinya. Ia dan KDM sapaan akrabnya, pernah bertemu pada awal tahun lalu ketika Kades Purwasaba itu viral lantaran mempunyai tato di sekujur tubuhnya.
Dari pertemuan itu, publik semakin penasaran siapa sebenarnya Kades Hoho Alkaf. Simak profil lengkapnya di bawah ini!
Profil Kades Purwasaba Hoho Alkaf
- Instagram/@hoho_alkaff
Berdasarkan hasil rekapan tvOnenews.com dari berbagai sumber, berikut profil hingga rekam jejak Hoho Alkaf, Kades Purwasaba yang dikenal sebagai pemimpin desa bertato.
Hoho Alkaf dikenal sebagai Kades Purwasaba di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Ia sudah menjabat posisi tersebut sejak 2019 lalu.
Hoho Alkaf memiliki nama asli Welas Yuni Nugroho. Ia merupakan Kades Purwasaba kelahiran 1988.
Hoho Alkaf berstatus sebagai anak bungsu dari empat bersaudara. Ia merupakan anak dari pasangan suami istri dari almarhum H. Siswoyo Siswoharsono dan almarhumah Hj. Sri Hartati.
Menariknya, kedua mendiang orang tuanya dikenal bukan orang sembarangan. Hoho Alkaf sebagai anak dari pengusaha konstruksi, mantan Kades, hingga mantan anggota DPRD Banjarnegara.
Tak ayal, sumber kekayaan Hoho Alkaf tidak hanya berasal dari dirinya sendiri, tetapi juga berkat usaha konstruksi mendiang orang tuanya yang kini dilanjutkan olehnya.
Selain itu, Hoho Alkaf juga membuka penyewaan alat berat. Tak heran latar belakangnya sangat mengerikan.
Berdasarkan latar belakang pendidikan, Hoho Alkaf yang kini berusia 36 tahun merupakan lulusan dari Universitas Sultan Agung (Unisula) Semarang.
Tak heran jika Hoho Alkaf dinilai pantas menjabat sebagai Kades Purwasaba. Pada 2019, ia terpilih menjadi kades setelah mengalahkan dua kandidat lainnya.
Saat pemilihan, Hoho Alkaf menang mutlak. Selisih suaranya dengan dua kandidat lain mencapai 1000 suara. Pada saat itu ia memperoleh sekitar 1.900 orang.
Kehadiran Hoho Alkaf menimbulkan pertanyaan hingga kontroversial bagi publik. Sebab, ia memiliki 30 motif tato di sekujur tubuhnya, salah satunya bergambar seperti seorang Yakuza.
Mengacu dari syarat calon kepala desa, tidak ada aturan mengenai larangan bagi calon yang bertato. Dalam persyaratannya hanyalah minimal berusia 25 tahun.
Kemudian, syarat sebagai calon kades juga bersedia dicalonkan atau mencalonkan diri, pendidikan terakhir minimal setingkat SLTP atau SMP hingga patuh terhadap UUD dan Pancasila.
Ketentuan mengenai aturan syarat calon kepala desa telah tertuang dalam Pasal 33 UU Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa.
Di balik itu, Hoho Alkaf mempunyai istri yang menjabat sebagai Sekretaris Desa (Sekdes). Hal itu terungkap saat berbincang dengan Dedi Mulyadi.
"Istrimu sekdes, ya?," tanya Dedi Mulyadi.
Hoho tidak membantah pertanyaan tersebut. Ia seolah membenarkan bahwa istri tercintanya berstatus sebagai Sekdes di wilayahnya sendiri.
Selama menjabat sebagai Kades Purwasaba, berbagai kebijakan dari Hoho Alkaf membuat publik terkesan. Pada 2025, Hoho pernah mengalokasikan Dana Desa sebesar Rp308 juta.
Dana Desa 2025 tersebut dialokasikan untuk ketahanan pangan. Tujuannya digunakan untuk menambahkan ayam petelur sebanyak tiga ribu ekor.
Hoho Alkaf sempat viral. Ia memperlihatkan kolam ternak ikan lele yang posisinya terletak di bawah kandang ayam.
Saat hadir ke kediaman KDM di Lembur Pakuan, Subang, Hoho Alkaf membuat Gubernur Jabar tersebut terkesan.
KDM sempat diajak oleh Hoho Alkaf guna melihat peternakan ayam, peternakan sapi hingga sawah bengkok dari Dana Desa Purwasaba.
"Saya sekarang di sini melihat peternakan ayam yang menghasilkan 2.500 telur dalam setiap hari," terang KDM.
Dari gebrakan tersebut, hasil peternakan melalui kebijakan Hoho Alkaf setidaknya wajib masuk ke Pendapatan Asli Desa. Jumlah hasil yang masuk minimal Rp800 ribu.
KDM begitu takjub dengan perkembangan Desa Purwasaba sejak dipimpin oleh Hoho Alkaf. Hal ini membuat mantan Bupati Purwakarta itu setuju apabila dana desa naiak mencapai sekitar Rp2 miliar hingga Rp5 miliar.
"Kades Hoho itu bukan hanya urusan tatonya saja yang nyentrik, tetapi kepemimpinannya juga keren. Yang ditato bukan hanya tangannya, tapi ternyata desanya juga ditato penuh warna. Segalanya ada, segala punya, inilah contoh desa kaya," puji KDM kepada Hoho Alkaf.
Alasan Hoho Alkaf memajukan Desa Purwasaba, sebab ia memperdulikan kesejahteraan masyarakatnya.
Hoho Alkaf pernah menghibahkan satu unit mobil pribadinya untuk disulap sebagai ambulans desa. Tujuannya untuk berfungsi sebagai kebutuhan operasional masyarakat desa yang pergi ke rumah sakit.
Hoho Alkaf Ceritakan Kronologi Dugaan Pengeroyokan kepada Dedi Mulyadi
- YouTube/KANGDEDIMULYADICHANNEL
Selama bertahun-tahun menjabat sebagai Kades Purwasaba, Hoho Alkaf kini mengalami aksi dugaan pengeroyokan oleh oknum anggota LSM. Hal ini menggerakkan ia menceritakan kronologinya di hadapan Dedi Mulyadi.
Aksi dugaan pengeroyokan itu terjadi dalam polemik seleksi perangkat desa pada 11 Maret 2026. Dalam video singkat yang viral di media sosial, pakaian dinas dikenakannya tampak terkoyak saat keluar dari kantor desa.
Proses seleksi perangkat desa itu bertujuan untuk mencari tiga posisi kepala dusun. Pembentukan panitianya sudah berlangsung sejak Desember 2025, sedangkan SK seleksi tersebut baru keluar pada Januari 2026.
Hoho mengaku proses seleksi sudah sesuai prosedur yang berlaku. Bahkan para peserta sudah melewati tahapan pendaftaran sampai proses ujian.
"Setelah ujian, itu sudah mulai ada orang yang tidak percaya. Kemudian bersurat ke mana-mana, ke bupati, ke camat buat ujiannya dibatalkan," jelas Hoho.
Proses seleksi tersebut dinilai tidak adil. Warga yang tidak lolos menuangkan kuasanya kepada sekelompok LSM untuk menyampaikan mosi tidak percaya terhadap proses seleksi perangkat desa tersebut.
Hingga kini, keputusan akhir pelantikan perangkat desa bergantung dari tanda tangan bupati. Namun pihak yang tidak lolos masih belum puas dengan alasannya.
Sontak keributan hingga dugaan pengeroyokan terjadi. Hoho Alkaf mengaku tidak kapok dengan kejadian dialaminya, tetapi tertekan hingga khawatir adanya gangguan dari orang ketiga.
(hap)
Load more