Tahan Tangis, KDM Minta Maaf ke Warga Jawa Barat: Refleksi Setahun Kepemimpinan di Momen Idul Fitri
- YouTube/KANG DEDI MULYADI CHANNEL
tvOnenews.com - Suasana Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1447 Hijriah menjadi momen penuh makna bagi Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.Â
Di tengah nuansa kemenangan dan saling memaafkan, ia menyampaikan pesan yang tidak biasa: sebuah permohonan maaf terbuka kepada seluruh masyarakat Jawa Barat.
Dalam pidatonya yang sarat refleksi, KDM, sapaan akrabnya, tidak hanya mengucapkan selamat hari raya, tetapi juga mengajak masyarakat untuk bersama-sama melakukan introspeksi, baik sebagai individu maupun sebagai bagian dari sistem pemerintahan.
“Saya Gubernur Jawa Barat menyampaikan permohonan maaf ke seluruh warga Jawa Barat dalam perjalanan setahun kepemimpinan,” ujarnya, dilansir dari tayangan video YouTube berjudul KDM TAHAN TANGIS - SAMPAIKAN PERMOHONAN MAAF PADA WARGA JABAR.
- Instagram/dedimulyadi71
KDM secara terbuka mengakui bahwa selama satu tahun kepemimpinannya, masih banyak persoalan yang belum terselesaikan secara maksimal.Â
Ia menyinggung berbagai sektor penting yang masih membutuhkan perhatian serius, mulai dari infrastruktur hingga layanan kesehatan dan pendidikan.
Jalan rusak di pelosok desa, irigasi yang belum optimal, rumah warga yang bocor saat hujan, hingga anak-anak yang belum sepenuhnya terakses pendidikan—semua itu menjadi catatan yang ia sampaikan dengan jujur di hadapan publik.
Tak hanya itu, ia juga menyoroti masih adanya masyarakat yang kesulitan mendapatkan layanan kesehatan karena keterbatasan akses BPJS, hingga kondisi warga yang hidup dalam keterbatasan ekonomi.
Kritik terhadap Pengelolaan Anggaran
Dalam bagian yang cukup tajam, KDM menyinggung soal pengelolaan keuangan negara dan daerah.Â
Ia mengingatkan bahwa setiap rupiah yang dipungut dari masyarakat, baik melalui pajak maupun iuran lainnya, seharusnya kembali sepenuhnya untuk kepentingan rakyat.
“Apabila ada belanja-belanja yang semestinya dibelanjakan untuk kepentingan masyarakat masih digunakan untuk kepentingan yang lain, kami mohon maaf,” ujar KDM.
Ia juga menyoroti realitas di lapangan, di mana masyarakat masih harus mengeluarkan berbagai iuran, sementara layanan dasar belum sepenuhnya optimal.Â
Menurutnya, hal ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi pemerintah.
- Istimewa
Pemimpin yang “Tak Bisa Tidur”
Salah satu pesan yang paling kuat dalam pidato tersebut adalah gambaran tentang sosok pemimpin ideal.Â
KDM menyebut bahwa pemimpin sejati adalah mereka yang tidak bisa tenang ketika rakyatnya masih mengalami kesulitan.
Baginya, “tidak tidur” bukan sekadar makna harfiah, tetapi simbol dari kepedulian dan tanggung jawab yang terus hidup setiap saat.
Pemimpin, menurutnya, harus hadir dalam setiap persoalan rakyat—baik dalam pendidikan, kesehatan, maupun kesejahteraan sosial.Â
Layanan publik pun harus semakin terbuka dan mudah diakses tanpa pengecualian.
Idul Fitri sebagai Momentum Perubahan
Lebih jauh, KDM memaknai Idul Fitri bukan sekadar perayaan, tetapi momentum untuk melakukan pembersihan diri dan perbaikan sistem.Â
Ia mengajak seluruh jajaran pemerintahan untuk menekan pemborosan anggaran dan mengutamakan kebutuhan masyarakat.
Ia bahkan menekankan pentingnya efisiensi anggaran, agar alokasi belanja benar-benar dirasakan manfaatnya oleh rakyat.
Komitmen untuk Berbenah
Di akhir penyampaiannya, KDM menegaskan komitmennya untuk terus melakukan evaluasi dan perbaikan ke depan.Â
Ia berjanji akan menggerakkan birokrasi dan sistem keuangan agar lebih berpihak pada kepentingan masyarakat.
Ucapan terima kasih pun ia sampaikan kepada warga Jawa Barat yang tetap setia mendukung pemerintah, termasuk melalui kepatuhan membayar pajak, meski dalam kondisi ekonomi yang tidak mudah. (gwn)
Load more