News Bola Daerah Sulawesi Sumatera Jabar Banten Jateng DI Yogya Jatim Bali

Gubernur Malut Sherly Tjoanda Jujur Sangat Prihatin, Bisa-bisanya Anak Duduk Diam Lihat HP Cuma Gegara ini

Gubernur Maluku Utara (Malut), Sherly Tjoanda Laos dukung PP Tunas diperjelas Permenkomdigi 9 Tahun 2026 guna batasi digital bagi anak di bawah usia 16 tahun.
Rabu, 1 April 2026 - 16:50 WIB
Sherly Tjoanda
Sumber :
  • YouTube/garudatv

Sofifi, tvOnenews.com - Gubernur Maluku Utara (Malut), Sherly Tjoanda Laos berbicara tentang ruang digital. Ia prihatin terhadap kondisi anak-anak di Indonesia.

Sherly Tjoanda melihat ruang digital belum sepenuhnya aman untuk anak-anak. Ia mengatakan, fenomena anak kecanduan teknologi gadget dan lainnya masih marak di Indonesia.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Kita perlu jujur ruang digital hari ini belum sepenuhnya aman untuk anak-anak kita. Di usia yang masih belajar mengenal diri, anak-anak kita terpapar konten yang belum waktunya," ujar Sherly Tjoanda dalam keterangan videonya, Rabu (1/4/2026).

Sherly Tjoanda Sesalkan Maraknya Anak Kecanduan Teknologi Digital

Gubernur Malut Sherly Tjoanda Laos
Gubernur Malut Sherly Tjoanda Laos
Sumber :
  • Instagram/@s_tjo

Lebih lanjut, Gubernur malut itu menyoroti fenomena yang masih terjadi dialami saat ini. Banyak anak-anak sulit melepas pikirannya terhadap gadget.

Ia menuturkan bahwa, kini masih banyak anak hanya duduk diam dan bengong. Mereka hanya menatap ruang digital dalam mengisi kegiatan sehari-harinya.

Ia sangat menyayangkan keharusan mereka dipenuhi belajar untuk pendidikan dan mengisi masa kecilnya, namun justru berdiam diri karena tercebur dalam ekosistem digital.

"Kelihatannya biasa. Tapi di balik itu, ada yang sedang terbentuk, yakni cara dia melihat diri, cara dia menilai hidup," jelasnya.

Selain itu, kata dia, kemudahan mengakses digital tidak hanya berdampak pada penglihatan dan penilaian hidup, tetapi rentan membuat anak-anak bangsa terluka.

"Menerima kata-kata yang bisa melukai tanpa batas, tanpa jeda," lanjutnya.

Ruang Digital Ganggu Standar Hidup Anak-anak

ilustrasi media sosial
ilustrasi media sosial
Sumber :
  • pexels.com/ Tracy Le Blanc

Sherly kembali menjelaskan dampak nyata ruang digital untuk anak-anak. Tidak sekadar melukai hati mereka, tetapi digital dapat menghilangkan standar hidup yang seharusnya dilakukan oleh mereka.

Ia mencontohkan efek luar biasa mengakses digital. Anak-anak bisa menjadi mudah cemas, kehilangan fokus terhadap masa depannya, serta merasa tidak puas dengan segalanya.

"Digital juga buat anak sulit tidur, bahkan mulai merasa tidak cukup, baik hanya karena apa yang mereka lihat di layar setiap hari," tuturnya.

Ia memahami digital sebagai bagian perkembangan teknologi secara pesat. Di balik itu, ekosistem digital bisa memberikan gangguan terhadap kesehatan dan mental anak bangsa.

Selain itu, ruang digital juga dapat menghilangkan karakter. Ironisnya, masa depan generasi bangsa potensi terkubur sehingga memicu kekhawatiran bersama.

Sherly Tjoanda Dukung PP Tunas

Maka dari itu, Sherly selaku Gubernur Malut enggan membiarkan masalah ini berlarut-larut. Ia mendukung kebijakan pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi).

"Karena itu, saya Sherly Laos, Gubernur Maluku Utara, kami mendukung Permenkomdigi Nomor 9 Tahun 2026, menunda akses media sosial untuk anak-anak di bawah usia 16 tahun," ucap Sherly.

Sebelumnya pemerintah resmi memberlakukan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 17 Tahun 2025 tentang Perlindungan Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak atau PP Tunas.

PP Tunas diperjelas melalui Peraturan Menteri Komunikasi dan Digital (Permenkomdigi) Nomor 9 Tahun 2026. Pemberlakuan regulasi ini telah berlangsung pada Sabtu (28/3/2026).

Regulasi ini merupakan pengimplementasian pembatasan kuat mendukung perlindungan anak di dunia internet. Bagi anak di bawah usia 16 tahun, tentu akan dibatasi dalam kepemilikan akun media sosial.

Menkomdigi, Meutya Hafid menjelaskan tujuan regulasi mengenai perlindungan anak di ruang digital. Hal ini juga sebagai upaya pemerintah menjaga privasi anak.

Pemerintah enggan mereka mendapat risiko eksploitasi data di ruang digital yang kian masif. Terlebih, mereka belum menyadari betapa bahayanya mempublikasikan privasi data pribadi.

Sherly memahami pembatasan itu langsung menimbulkan keresahan. Berdasarkan video yang beredar, anak di bawah 16 tahun menangis histeris tidak bisa mengakses media sosial di ruang digital.

"Bukan membatasi, tapi melindungi masa tumbuh mereka di waktu yang paling penting dalam hidupnya," tambahnya.

Gubernur malut itu memberikan pesan mendalam kepada anak di bawah usia 16 tahun, terutama untuk anak-anak di Provinsi Malut.

Ia berharap mereka kembali menemukan jati dirinya. Saat ini sudah seharusnya anak-anak bangsa kembali sibuk belajar, membentuk karakter, hingga mendapat masa kecilnya.

"Untuk adik-adik gen alfa atau adik-adik yang berusia 0-16 tahun, ingat hidupmu tidak ditentukan oleh like, oleh views, atau oleh komentar, Kamu jauh lebih berharga dari itu," pesan dia.

Ia juga menyampaikan pesan untuk para orang tua. Ia memahami gadget sebagai kebutuhan di zaman modern. Kehadiran teknologi memudahkan proses belajar dan kebutuhan lainnya.

Namun kata dia, hadirnya teknologi belum pantas untuk mereka. Ia berharap para orang tua melindungi buah hatinya dari ekosistem digital.

"Mereka butuh hadirnya kita untuk didengar, ditemani, dijaga, dilindungi, bukan hanya di dunia nyata, tapi juga di dunia digital," harapnya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Mari kita jaga mereka bersama. Dari Maluku Utara, kami berdiri untuk masa depan anak-anak Indonesia," tukasnya.

(hap)

Berita Terkait

Komentar

Topik Terkait

Saksikan Juga

Jangan Lewatkan

Guru Pesantren di Bekasi Jadi Tersangka Kekerasan Seksual Puluhan Santri, Petugas Keamanan Diduga Ikut Terlibat

Guru Pesantren di Bekasi Jadi Tersangka Kekerasan Seksual Puluhan Santri, Petugas Keamanan Diduga Ikut Terlibat

Seorang guru di salah satu pondok pesantren di Bekasi ditetapkan sebagai tersangka kekerasan seksual terhadap santriwati. Tiga orang lainnya diduga terlibat dalam kasus ini. Salah satunya merupakan petugas keamanan pesantren.
Lansia Sengaja Tabrakan Diri ke Mobil Melintas di Jakarta Utara Ditangkap, Dalih Ingin Dapat Uang "Tanggung Jawab" untuk Usaha Kopi Keliling

Lansia Sengaja Tabrakan Diri ke Mobil Melintas di Jakarta Utara Ditangkap, Dalih Ingin Dapat Uang "Tanggung Jawab" untuk Usaha Kopi Keliling

Lansia yang sering menabrakkan dirinya ke mobil yang melintas di Penjaringan, Jakarta Utara, akhirnya berhasil ditangkap. Modusnya berjalan kaki melintasi jalan raya dan menabrakkan dirinya untuk mencari keuntungan pribadi.
Bukan Cuma Taisei Marukawa, 4 Pemain Ini Masih Tunggu Naturalisasi Timnas Indonesia

Bukan Cuma Taisei Marukawa, 4 Pemain Ini Masih Tunggu Naturalisasi Timnas Indonesia

Gelombang ketertarikan pemain asing untuk mengenakan seragam kebanggaan Timnas Indonesia kian tak terbendung. Sebanyak empat pemain top yang berkarier di kompet
Persaingan V-League Memanas, Vanja Bukilic Sesumbar Ingin Kalahkan Megawati Hangestri

Persaingan V-League Memanas, Vanja Bukilic Sesumbar Ingin Kalahkan Megawati Hangestri

Peta persaingan Liga Voli Korea Selatan (VLeague) putri musim 2026/2027 dipastikan berjalan sengit. Kepindahan bintang voli Indonesia Megawati Hangestri Pertiwi
Tren Modifikasi Mobil Gen Z dan Milenial Berubah, Bukan Cuma Tampil Keren, Fungsi dan Keamanan Ikut Jadi Pertimbangan

Tren Modifikasi Mobil Gen Z dan Milenial Berubah, Bukan Cuma Tampil Keren, Fungsi dan Keamanan Ikut Jadi Pertimbangan

Tren modifikasi mobil di kalangan Gen Z dan milenial memperlihatkan bahwa personalisasi kendaraan dapat berjalan beriringan dengan fungsi praktis
Kisah Biarawati Asal Nias yang Berjuang untuk Anak Berkebutuhan Khusus, Kisahnya Buka Mata soal Pendidikan Inklusif

Kisah Biarawati Asal Nias yang Berjuang untuk Anak Berkebutuhan Khusus, Kisahnya Buka Mata soal Pendidikan Inklusif

Masyarakat juga perlu mengubah cara pandang terhadap anak berkebutuhan khusus. Mereka bukan sekadar penerima bantuan atau objek belas kasihan

Trending

Kisah Biarawati Asal Nias yang Berjuang untuk Anak Berkebutuhan Khusus, Kisahnya Buka Mata soal Pendidikan Inklusif

Kisah Biarawati Asal Nias yang Berjuang untuk Anak Berkebutuhan Khusus, Kisahnya Buka Mata soal Pendidikan Inklusif

Masyarakat juga perlu mengubah cara pandang terhadap anak berkebutuhan khusus. Mereka bukan sekadar penerima bantuan atau objek belas kasihan
3 Fakta soal Video Asusila 13 Menit Diduga Pakai Seragam Poltekkes Bandung

3 Fakta soal Video Asusila 13 Menit Diduga Pakai Seragam Poltekkes Bandung

Jagat media sosial dihebohkan dengan beredarnya rekaman video asusila berdurasi 13 menit yang menyeret nama salah satu institusi pendidikan kesehatan terkemuka
Viral Tsunami 60 Meter Akibat Erupsi Anak Krakatau, Badan Geologi Bongkar Fakta Video TikTok yang Bikin Resah

Viral Tsunami 60 Meter Akibat Erupsi Anak Krakatau, Badan Geologi Bongkar Fakta Video TikTok yang Bikin Resah

Viral kabar tsunami 60 meter akibat erupsi Gunung Anak Krakatau dipastikan hoaks oleh Badan Geologi. Simak fakta erupsi, status Waspada, dan radius aman
Video Asusila 13 Menit Diduga Pakai Seragam Poltekkes Bandung Viral, Pihak Kampus Ungkap Fakta Ini

Video Asusila 13 Menit Diduga Pakai Seragam Poltekkes Bandung Viral, Pihak Kampus Ungkap Fakta Ini

Viral video asusila berdurasi 13 menit diduga memakai atribut Poltekkes Bandung. Pihak kampus membantah pemeran dalam rekaman merupakan mahasiswinya.
Viral Video Asusila 13 Menit, Siapa Pemerannya? Waspada Link Palsu Berujung Phishing

Viral Video Asusila 13 Menit, Siapa Pemerannya? Waspada Link Palsu Berujung Phishing

Video asusila berdurasi 13 menit yang dikaitkan dengan seragam Poltekkes Bandung viral di media sosial. Siapa pemerannya? Simak klarifikasi kampus dan cara
Kolaborasi Ini Upayakan Perluas Akses Kesehatan Masyarakat

Kolaborasi Ini Upayakan Perluas Akses Kesehatan Masyarakat

Berbagai pihak turut ikut berperan dalam menopang mobilitas fasilitas kesehatan diberbagai daerah Indonesia.
Imbas Kekalahan Aneh 6-0 dari Malaysia Masih Terasa, PSSI-nya Singapura Banjir Kritik Usai Umumkan FIFA Matchday Lawan Brasil

Imbas Kekalahan Aneh 6-0 dari Malaysia Masih Terasa, PSSI-nya Singapura Banjir Kritik Usai Umumkan FIFA Matchday Lawan Brasil

Federasi Sepak Bola Singapura (FAS) menuai kritik setelah mengumumkan laga persahabatan melawan Brasil dan Paraguay pada November 2026.
Selengkapnya

Viral

ADVERTISEMENT