Gubernur Malut Sherly Tjoanda Jujur Sangat Prihatin, Bisa-bisanya Anak Duduk Diam Lihat HP Cuma Gegara ini
- YouTube/garudatv
Sofifi, tvOnenews.com - Gubernur Maluku Utara (Malut), Sherly Tjoanda Laos berbicara tentang ruang digital. Ia prihatin terhadap kondisi anak-anak di Indonesia.
Sherly Tjoanda melihat ruang digital belum sepenuhnya aman untuk anak-anak. Ia mengatakan, fenomena anak kecanduan teknologi gadget dan lainnyaĀ masih marak di Indonesia.
"Kita perlu jujur ruang digital hari ini belum sepenuhnya aman untuk anak-anak kita. Di usia yang masih belajar mengenal diri, anak-anak kita terpapar konten yang belum waktunya," ujar Sherly Tjoanda dalam keterangan videonya, Rabu (1/4/2026).
Sherly Tjoanda Sesalkan MaraknyaĀ Anak Kecanduan Teknologi Digital
- Instagram/@s_tjo
Lebih lanjut, Gubernur malut itu menyoroti fenomena yang masih terjadi dialami saat ini. Banyak anak-anak sulit melepas pikirannya terhadap gadget.
Ia menuturkan bahwa, kini masih banyak anak hanya duduk diam dan bengong. Mereka hanya menatap ruang digital dalam mengisi kegiatan sehari-harinya.
Ia sangat menyayangkan keharusan mereka dipenuhi belajar untuk pendidikan dan mengisi masa kecilnya, namun justru berdiam diri karena tercebur dalam ekosistem digital.
"Kelihatannya biasa. Tapi di balik itu, ada yang sedang terbentuk, yakni cara dia melihat diri, cara dia menilai hidup," jelasnya.
Selain itu, kata dia, kemudahan mengakses digital tidak hanya berdampak pada penglihatan dan penilaian hidup, tetapi rentan membuat anak-anak bangsa terluka.
"Menerima kata-kata yang bisa melukai tanpa batas, tanpa jeda," lanjutnya.
Ruang Digital Ganggu Standar Hidup Anak-anak
- pexels.com/ Tracy Le Blanc
Sherly kembali menjelaskan dampak nyata ruang digital untuk anak-anak. Tidak sekadar melukai hati mereka, tetapi digital dapat menghilangkan standar hidup yang seharusnya dilakukan oleh mereka.
Ia mencontohkan efek luar biasa mengakses digital. Anak-anak bisa menjadi mudah cemas, kehilangan fokus terhadap masa depannya, serta merasa tidak puas dengan segalanya.
"Digital juga buat anak sulit tidur, bahkan mulai merasa tidak cukup, baik hanya karena apa yang mereka lihat di layar setiap hari," tuturnya.
Ia memahami digital sebagai bagian perkembangan teknologi secara pesat. Di balik itu, ekosistem digital bisa memberikan gangguan terhadap kesehatan dan mental anak bangsa.
Selain itu, ruang digital juga dapat menghilangkan karakter. Ironisnya, masa depan generasi bangsa potensi terkubur sehingga memicu kekhawatiran bersama.
Sherly Tjoanda Dukung PP Tunas
Maka dari itu, Sherly selaku Gubernur Malut enggan membiarkan masalah ini berlarut-larut. Ia mendukung kebijakan pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi).
"Karena itu, saya Sherly Laos, Gubernur Maluku Utara, kami mendukung Permenkomdigi Nomor 9 Tahun 2026, menunda akses media sosial untuk anak-anak di bawah usia 16 tahun," ucap Sherly.
Sebelumnya pemerintah resmi memberlakukan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 17 Tahun 2025 tentang Perlindungan Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak atau PP Tunas.
PP Tunas diperjelas melalui Peraturan Menteri Komunikasi dan Digital (Permenkomdigi) Nomor 9 Tahun 2026. Pemberlakuan regulasi ini telah berlangsung pada Sabtu (28/3/2026).
Regulasi ini merupakan pengimplementasian pembatasan kuat mendukung perlindungan anak di dunia internet. Bagi anak di bawah usia 16 tahun, tentu akan dibatasi dalam kepemilikan akun media sosial.
Menkomdigi, Meutya Hafid menjelaskan tujuan regulasi mengenai perlindungan anak di ruang digital. Hal ini juga sebagai upaya pemerintah menjaga privasi anak.
Pemerintah enggan mereka mendapat risiko eksploitasi data di ruang digital yang kian masif. Terlebih, mereka belum menyadari betapa bahayanya mempublikasikan privasi data pribadi.
Sherly memahami pembatasan itu langsung menimbulkan keresahan. Berdasarkan video yang beredar, anak di bawah 16 tahun menangis histeris tidak bisa mengakses media sosial di ruang digital.
"Bukan membatasi, tapi melindungi masa tumbuh mereka di waktu yang paling penting dalam hidupnya," tambahnya.
Gubernur malut itu memberikan pesan mendalam kepada anak di bawah usia 16 tahun, terutama untuk anak-anak di Provinsi Malut.
Ia berharap mereka kembali menemukan jati dirinya. Saat ini sudah seharusnya anak-anak bangsa kembali sibuk belajar, membentuk karakter, hingga mendapat masa kecilnya.
"Untuk adik-adik gen alfa atau adik-adik yang berusia 0-16 tahun, ingat hidupmu tidak ditentukan oleh like, oleh views, atau oleh komentar, Kamu jauh lebih berharga dari itu," pesan dia.
Ia juga menyampaikan pesan untuk para orang tua. Ia memahami gadget sebagai kebutuhan di zaman modern. Kehadiran teknologi memudahkan proses belajar dan kebutuhan lainnya.
Namun kata dia, hadirnya teknologi belum pantas untuk mereka. Ia berharap para orang tua melindungi buah hatinya dari ekosistem digital.
"Mereka butuh hadirnya kita untuk didengar, ditemani, dijaga, dilindungi, bukan hanya di dunia nyata, tapi juga di dunia digital," harapnya.
"Mari kita jaga mereka bersama. Dari Maluku Utara, kami berdiri untuk masa depan anak-anak Indonesia," tukasnya.
(hap)
Load more