Nasihat Tegas Dedi Mulyadi Usai Lihat Guru Bersihkan Ruang Kelas di SMAN 2 Subang: Jangan Takut Dibully Warga
- YouTube Kang Dedi Mulyadi
tvOnenews.com - Aksi Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, kembali menjadi sorotan publik. Dalam inspeksi mendadak (sidak) ke SMAN 2 Subang, ia dibuat heran sekaligus prihatin saat mendapati guru harus turun tangan membersihkan ruang kelas. Situasi ini langsung memicu teguran tegas dari Dedi Mulyadi terkait peran siswa di sekolah.
Sidak yang dilakukan pada 1 April 2026 tersebut berlangsung hampir bersamaan dengan kunjungannya ke SMKN 2 Subang. Dalam kunjungan itu, Dedi Mulyadi menilai kondisi lingkungan sekolah jauh dari standar kelayakan, terutama dari sisi kebersihan dan kerapihan.
Ia menemukan sejumlah masalah, mulai dari pos jaga yang berantakan dengan pakaian tergantung sembarangan hingga furnitur sekolah yang sudah usang dan tidak terawat.
![]()
Dedi Mulyadi dan Kepala Sekolah SMAN 2 Subang. (Sumber: YouTube Kang Dedi Mulyadi)
Kondisi tersebut membuatnya menegur pihak sekolah, termasuk kepala sekolah, karena dianggap kurang memperhatikan estetika lingkungan.
Dedi Mulyadi juga menyoroti kebiasaan merapikan hanya bagian depan sekolah, sementara area belakang dibiarkan terbengkalai.
Menanggapi hal itu, pihak sekolah memberikan penjelasan dan berjanji akan segera melakukan perbaikan.
Meski sempat terlihat marah dan berbicara dengan nada tinggi, Dedi Mulyadi tetap menunjukkan komitmennya dalam memperbaiki fasilitas pendidikan.
Ia bahkan memberikan bantuan sebesar Rp20 juta untuk memperbaiki plafon ruang kelas yang sudah tidak layak.
Selain itu, ia juga memberikan jaminan kepada para tenaga pendidik agar tidak ragu dalam mengarahkan siswa untuk terlibat dalam kegiatan gotong royong menjaga kebersihan lingkungan sekolah.
Namun, setelah kembali meninjau kondisi sekolah, Dedi Mulyadi justru menemukan hal yang tidak terduga.
Ia melihat sejumlah guru membersihkan kelas karena siswa kelas 12 sudah tidak lagi datang ke sekolah setelah menyelesaikan masa pendidikannya.
Melihat kondisi tersebut, ia langsung menyampaikan pandangannya secara tegas.
“Enggak, saya gini, aplikasi pendidikan di kita ini mulai lemah ya, Bu ya. Saya lihat siswa itu banyak tapi guru punya keraguan untuk mengambil keputusan. Misalnya urusan kebersihan,” ujar Dedi Mulyadi dalam unggahan YouTube pribadinya pada 5 April 2026.
![]()
Guru SMAN 2 Subang Bersihkan Ruang Kelas. (Sumber: YouTube Kang Dedi Mulyadi)
Ia kemudian membandingkan dengan sistem pendidikan di negara lain.
“Di Jepang itu anak-anak SD pun dibelajarin. Terus anak TK itu harus bisa bersihin toilet. Nah, di Indonesia ini agak kacau. Jadi, kok fungsi siswa di sekolah apa gitu loh,” lanjutnya.
Dedi Mulyadi menegaskan bahwa guru tidak perlu takut untuk menggerakkan siswa.
“Maksud saya enggak usah ragu takut dibully oleh warga atau oleh orang tua. Ya, guru harus mulai menggerakkan siswa untuk kembali kreatif,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan budaya kebersihan yang dulu diterapkan di sekolah.
“Saya dulu kan waktu sekolah itu sebelum masuk kelas itu kan ada tim kebersihan digilir tiap hari. Sekarang masih ada enggak?” tanyanya kepada guru, yang kemudian dijawab masih ada.
Namun, ia mempertanyakan pelaksanaannya.
“Tapi kenapa tidak berjalan? Maksud saya siswa digerakin, misalnya memang iuran kan enggak boleh, tapi kan enggak ada salah kalau misalnya di setiap kelas siswa bersama-sama nyiapin untuk tempat sampah kan enggak ada soal,” ujarnya.
Menurutnya, siswa bisa diarahkan untuk lebih kreatif dalam menjaga kebersihan tanpa harus membebani biaya.
“Jadi enggak bawa uang ya bawa tempat sampah aja hasil remugan mereka. Dulu mereka banyak ngeluarin uang untuk outing class, study tour. Kan sekarang komponen itu sudah tidak ada. Nah, harus mulai diarahkan pada hal yang inovatif,” tambahnya.
Melihat guru yang harus membersihkan kelas, Dedi Mulyadi pun merasa prihatin.
“Kasihan guru ngepel, masa guru ngepel gitu loh. Siswanya banyak,” ucapnya.
Salah satu guru kemudian menjelaskan bahwa kondisi tersebut terjadi karena siswa kelas 12 sudah tidak lagi masuk sekolah.
“Jadi kebetulan kelas 12-nya sudah enggak ke sekolah,” jelas guru tersebut.
Menanggapi hal itu, Dedi Mulyadi memberikan solusi tegas.
“Enggak apa-apa diundang ke sekolah, kan enggak ada masalah diundang ke sekolah untuk membersihkan sekolah, kan enggak ada soal. Karena setiap siswa kalau diundang ke sekolah kan pasti datang,” katanya.
Ia bahkan menyinggung kondisi bangunan sekolah yang perlu diperbaiki.
“Kalau begitu, kalau ini sudah enggak ada siswanya kan. Kalau enggak ada siswanya kita bongkar atapnya kita ganti karena bocor kan,” ujarnya.
Sebagai langkah nyata, Dedi Mulyadi langsung meminta timnya untuk membenahi ruang kelas tersebut.
Peristiwa ini kembali menegaskan komitmen Dedi Mulyadi dalam membenahi dunia pendidikan, tidak hanya dari segi infrastruktur, tetapi juga budaya disiplin dan tanggung jawab siswa di lingkungan sekolah.
(anf)
Load more