Dedi Mulyadi Ungkap Risiko Stop Calo Tenaga Kerja, Siap Hadapi Musuh Meski dari Orang Terdekat
- YouTube LEMBUR PAKUAN CHANNEL
“Tapi ingat, ketika jadi pemimpin kita enggak ada keterikatan lagi dengan tim sukses. Kita terikatnya pada negara dan bangsa,” tegas Dedi Mulyadi sambil menepuk podium.
Ia juga menekankan bahwa pengabdian kepada negara membutuhkan keberanian mengambil risiko, termasuk menghadapi tekanan, ancaman, hingga kritik keras.
“Dan yakinlah pada siapapun bahwa kalau kita mengabdi pada bangsa dan negara, mengabdi jadi bupatinya berani kontroversi, berani mengambil keputusan, berani mengambil tindakan, berani didemo, berani diancam, dibunuh, berani apapun, karir itu adalah sesuatu yang akan diberikan oleh Tuhan karena kerja kita,” ujarnya.
Dedi kemudian mengenang pengalamannya saat menjabat sebagai Bupati Purwakarta, di mana ia kerap menghadapi berbagai bentuk tekanan.
“Saya tidak usah nyari yang lain. Saya sendiri, ngomong kontroversi jadi Bupati Purwakarta kurang gimana kontroversinya. Enggak ada bupati yang rumah dinasnya dilemparin pakai batu. Enggak ada,” katanya.
“Enggak ada bupati yang tiap hari didemo tuh enggak ada. Tapi ya alhamdulillah bisa jadi gubernur,” lanjutnya.
Ia pun menegaskan bahwa kepercayaan publik tidak dibangun melalui pencitraan semata, melainkan hasil dari kerja nyata.
“Tidak usah pakai tim medsos. Elektoralnya relatif baik, gratis. Kenapa itu? Itu adalah akibat dari kerja yang kita lakukan,” ucap Dedi Mulyadi.
Di akhir pernyataannya, ia mengajak masyarakat untuk bersama-sama membangun daerah dengan rasa saling bangga antara pemimpin dan rakyat.
“Untuk itu saya ngajak kalau orang Subang bangga pada saya, saya pun harus bangga terhadap Subang, pemimpin dan rakyat,” pungkasnya.
Ketegasan tersebut pun langsung disambut tepuk tangan meriah dari para hadirin, menunjukkan dukungan terhadap langkah berani yang diambil dalam mendorong perubahan di Jawa Barat.
(anf)
Load more