Viral Ceramah Jusuf Kalla, Ustadz Abdul Somad Unggah Pesan Sarat Makna: Saat Sultan Malaka diusik Portugis
- instagram Ustadz Abdul Somad
tvOnenews.com - Gelombang kontroversi kembali mengguncang ruang publik setelah Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12, Jusuf Kalla, dilaporkan ke Polda Metro Jaya.
Laporan ini muncul usai video ceramahnya terkait istilah “mati syahid” viral di media sosial dan memicu perdebatan lintas agama.
Di tengah derasnya arus opini, nama UAS atau Ustadz Abdul Somad ikut menjadi sorotan setelah mengunggah pesan bernuansa historis dan kultural yang dinilai sebagai respons tidak langsung terhadap polemik tersebut.
Peristiwa ini menunjukkan betapa sensitifnya isu agama di era digital. Dalam hitungan jam, potongan video ceramah dapat menyebar luas dan memicu reaksi emosional.
Data dari berbagai studi komunikasi digital menunjukkan bahwa konten bernuansa agama memiliki tingkat engagement hingga dua kali lipat lebih tinggi dibanding isu umum, sehingga potensi disinformasi atau salah tafsir pun meningkat signifikan.
- instagram Ustadz Abdul Somad
UAS Unggah Pesan Puitis, Isyarat Dukungan?
Di tengah polemik yang berkembang, UAS mengunggah momen pertemuannya dengan Jusuf Kalla melalui akun Instagram resminya.
Dalam caption yang ditulis, ia menyampaikan narasi historis tentang peran Bugis-Makassar dalam dakwah Islam, dibalut gaya bahasa puitis:
“Saat Sultan Malaka diusik Portugis
Bugis-Makasar penghapus tangis
Belanda membuang Syaikh Yusuf al-Makassary
Di Afrika da’wah Islam berseri
Di mana kapal orang-orang Bugis-Makasar bersandar
Di sana da’wah berkibar
Bugis-Makasar berdakwah dengan tiga
Ujung Badik, ujung lidah dan ujung pena
Mereka tak pandai berbasa-basi
Dari Jenderal Yusuf, KH Ali Yafi sampai Habibi
Nenek moyang mereka penakluk samudera
Ancaman-ancaman hanya gerimis saja
Ada yang marah
Karena makar tercium sudah
Layangkan senyum tipis merona
Supaya yang marah makin terpesona,”
Unggahan tersebut langsung menarik perhatian publik. Banyak yang menafsirkan pesan itu sebagai bentuk dukungan moral terhadap Jusuf Kalla, meski tidak secara eksplisit menyinggung polemik yang terjadi.
Dilaporkan ke Polda, Ini Alasan GAMKI
Kontroversi semakin memanas setelah Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) resmi melaporkan Jusuf Kalla ke Polda Metro Jaya pada Minggu (12/4/2026).
Ketua Umum GAMKI, Sahat Martin Philip Sinurat, menyebut laporan ini mewakili sekitar 19 organisasi Kristen.
“Kami dari Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia tadi datang melaporkan Bapak Jusuf Kalla,” ujarnya.
Laporan tersebut teregistrasi dengan nomor LP/B/2547/IV/2026/SPKT/POLDA METRO JAYA. JK dilaporkan atas dugaan penistaan agama, mengacu pada sejumlah pasal dalam Undang-undang Nomor 1 Tahun 2023.
Sahat menilai pernyataan terkait “mati syahid” tidak sejalan dengan ajaran Kristen yang mengedepankan kasih.
Ia menegaskan, “Dalam ajaran agama Kristen itu tidak ada mengajarkan itu, bahkan kita diajarkan untuk mengasihi sesama manusia bahkan musuh sekalipun.”
Meski demikian, GAMKI membuka ruang maaf jika Jusuf Kalla memberikan klarifikasi. Mereka juga menekankan bahwa langkah hukum diambil untuk meredam kegaduhan yang semakin meluas di media sosial.
Klarifikasi JK: Potongan Video Dinilai Menyesatkan
Di sisi lain, pihak Jusuf Kalla melalui juru bicara Husain Abdullah membantah keras tuduhan tersebut. Ia menegaskan bahwa video yang beredar merupakan potongan yang keluar dari konteks utuh.
“Namun setelah ditelusuri, tuduhan itu merupakan hasil pemotongan konteks (context cutting). Kami membantah dengan tegas tuduhan itu,” kata Husain.
Menurutnya, pernyataan JK disampaikan dalam pidato di Masjid Kampus Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 5 Maret 2026.
Dalam konteks lengkapnya, Jusuf Kalla justru menegaskan bahwa tidak ada agama yang mengajarkan kekerasan.
Ia menjelaskan bahwa JK sedang menceritakan upayanya mendamaikan konflik Poso dan Ambon, dua konflik besar berbasis agama yang menelan ribuan korban jiwa pada awal 2000-an.
Dalam narasi tersebut, JK menggambarkan bagaimana kedua pihak yang bertikai sama-sama menggunakan istilah religius untuk membenarkan tindakan kekerasan.
Fakta historis menunjukkan konflik Poso dan Ambon memang menjadi salah satu tragedi sosial terbesar di Indonesia pasca-reformasi.
Peran mediasi tokoh seperti JK kala itu diakui luas sebagai bagian penting dalam proses perdamaian.
Kontroversi ini menjadi pengingat bahwa di era digital, konteks sering kali kalah cepat dari potongan narasi.
Di tengah dinamika ini, publik menunggu langkah lanjutan dari Jusuf Kalla, sekaligus berharap polemik tidak berkembang menjadi konflik yang lebih luas. (udn)
Load more