Dedi Mulyadi Menahan Sedih, Dengarkan Perjuangan Suami Cari Istri dari Stasiun Bekasi Timur hingga Kamar Jenazah
- Kolase tvOnenews.com / YouTube KANG DEDI MULYADI CHANNEL
tvOnenews.com - Duka itu terasa begitu nyata. Di tengah cerita pilu yang diungkap langsung oleh seorang suami, Dedi Mulyadi tampak menahan sedih saat mendengar setiap detail perjuangan mencari sang istri. Dari harapan yang masih menyala hingga kenyataan pahit di kamar jenazah, kisah ini langsung mengguncang hati siapa pun yang mendengarnya.
Gubernur Jawa Barat itu sebelumnya bergerak cepat merespons kecelakaan tragis antara KRL Commuter Line dan KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur pada Senin malam, 27 April 2026.
Ia memberikan santunan sebesar Rp50 juta kepada setiap keluarga korban meninggal dunia serta memastikan seluruh biaya perawatan korban luka ditanggung penuh oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
Namun, momen paling menyentuh terjadi saat ia mendatangi rumah duka salah satu korban, seperti yang tayang di kanal YouTube KANG DEDI MULYADI CHANNEL pada 28 Juli 2026.
Di dalam rumah duka, suasana berubah hening saat Dedi Mulyadi duduk bersama keluarga korban.
Ia kemudian mengajak suami almarhumah berbincang, menggali kronologi kejadian di malam nahas tersebut.
“Cuman pulangnya pulangnya malam karena ada pekerjaan di sekolah, semester akhir. Akhirnya pulangnya agak malam,” ungkap suami Ibu Guru Nurlela.
![]()
Dedi Mulyadi dan Suami Korban Kecelakaan KRL. (Sumber: YouTube KANG DEDI MULYADI CHANNEL)
“Oh, dia pulang dari sekolahnya jam berapa?” tanya Dedi Mulyadi.
“Dari sana 19.30, Pak. Naik KRL. Dia di Stasiun Cakung,” jawabnya.
Sejak saat itu, kecemasan mulai menghantui. Sang suami mengaku tidak mendapat kabar langsung, melainkan mengetahui insiden dari berita.
“Itu pun saya dapat kabarnya enggak dapat kabar, Pak. Saya tahu berita. Pas tahu berita itu saya otomatis saya curiga, was-was. Saya teleponlah istri saya,” ujarnya.
“Terus saya nyari-nyari info. Handphone istri saya aktif tapi kok enggak diangkat-angkat. Makin cemas saya, Pak.”
Tak tinggal diam, ia langsung menuju lokasi kejadian dengan harapan menemukan titik terang.
“Terus akhirnya saya berangkat. Saya inisiatif langsung ke sana. Langsung ke sana, Pak, lokasi kejadian. Dan ternyata di lokasi kejadian itu sudah penuh dengan ambulans, Baznas, evakuasi lah. Saya juga enggak bisa berbuat apa-apa di sana.”
Di tengah kepanikan, ia mencoba mencari informasi dari petugas, “Saya nanya, ‘Pak, ini saya suami korban, kalau mau info istri gimana?’ Bapak tunggu info saja, gitu. Cuman mereka enggak ngasih tahu. Si korban katanya dibawa ke Rumah Sakit Umum Bekasi, yang RSUD di Cibitung, terus sama di Juanda, sama kalau enggak salah di Medika tuh, Pak.”
Upaya pencarian pun terus dilakukan dengan membagi anggota keluarga ke beberapa rumah sakit, “Akhirnya saya inisiatif ke keluarga saya, tolong jangan ngumpul di sini saja. Udah sekarang mah kita pencarlah, berpencar nyari itu informasi.”
Namun harapan itu perlahan runtuh.
“Nah, itu pun sudah dapat info enggak ada katanya,” ujarnya lirih.
“Di empat rumah sakit itu nyari enggak ada?” tanya Dedi Mulyadi.
“Jadi mereka itu nyarinya di IGD. Jadi emang ya dari ininya istri udah saya sudah meninggal, masuklah ke kamar jenazah.”
“Oh, jadi semua keluarga ini nyarinya di IGD karena kan belum tahu bahwa meninggal almarhumah ini ya,” kata Dedi Mulyadi.
“Saya juga enggak ngarepin ke situ. Makanya enggak mau nyari ke kamar jenazah.”
“Tidak ada yang nyari ke kamar jenazah karena kan tidak berpikir dan tidak berharap. Kemudian dapat informasi meninggal dari mana?” tanya Dedi Mulyadi.
Kabar itu akhirnya datang dari seorang rekan almarhumah, “Temannya, kebetulan dia mau pulang sekalian mampir ke situ lagi ke RSUD. Pas itu dia ngabarin, ‘Mas katanya Mbak Ela ini ada di RSUD Bekasi.’ Terus saya nanya, ‘Gimana keadaannya?’ Langsung jawab ke adanya di kamar jenazah, saya hancur langsung, Pak.”
Cerita itu membuat suasana semakin haru. Dedi Mulyadi tampak terdiam, menahan emosi saat mendengar betapa berat perjuangan sang suami.
Ia kemudian mengetahui bahwa almarhumah meninggalkan satu anak laki-laki berusia 9 tahun yang kini duduk di kelas 6 di sekolah Nurul Ilmi.
Sebagai bentuk kepedulian, Dedi Mulyadi memberikan dukungan langsung kepada keluarga dan menawarkan diri menjadi orang tua asuh bagi anak tersebut.
Ia berkomitmen untuk menanggung pendidikan serta kebutuhannya hingga dewasa, agar kelak sang anak tetap memiliki masa depan yang cerah di tengah kehilangan besar yang dialaminya.
(anf)
Load more