Dedi Mulyadi Beri Santunan Rp10 Juta untuk ART Korban Tabrakan KA vs KRL, KDM Minta Sang Ibu Istirahat Penuh
- Instagram @dedimulyadi71
tvOnenews.com - Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, langsung turun tangan menyikapi kecelakaan maut KRL di Stasiun Bekasi Timur yang mengakibatkan sejumlah penumpang terluka.
Dalam kunjungannya ke rumah sakit, Dedi menjenguk para korban, termasuk seorang asisten rumah tangga (ART) yang mengalami luka di bagian dada usai tabrakan.
Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, Dedi menyebut kejadian ini sebagai “alarm” bagi semua pihak agar lebih serius dalam meminimalisir risiko kecelakaan di masa depan.
- Instagram @dedimulyadi71
Saat berbincang langsung, Dedi menanyakan detail kondisi korban dengan nada empati.
"Ibu yang KRL? Rumahnya dimana?" tanya KDM.
Korban menjawab bahwa ia tinggal di Cikarang, Kabupaten Bekasi, yang hendak pulang dari Cakung setelah bekerja sebagai ART.
Percakapan berlanjut ketika Dedi menggali kondisi kesehatan korban. Ia menanyakan bagian tubuh yang terdampak hingga estimasi waktu pemulihan.
"Yang kena apa? Dada. Tapi, sudah ada perkembangan? Ini berarti kira-kira udah sembuh berhenti kerjanya berapa lama ini? tanya KDM kepada korban sambil mencari jawaban tambahan dari pihak rumah sakit.
- Instagram @dedimulyadi71
"Ini kalau nanti harus istirahat berhenti kerjanya berapa lama?" tanya KDM kepada pihak rumah sakit.
Pihak rumah sakit menjelaskan bahwa hasil pemeriksaan, termasuk rontgen, tidak menunjukkan adanya patah tulang.
Namun, korban tetap harus menjalani observasi dan membutuhkan waktu istirahat selama dua hingga tiga minggu.
"Menurut dokter kemarin kurang lebih 2-3 hari. Karena kebetulan hasil-hasil dari pemeriksaan rontgen dan lain-lain tidak didapatkan faktur pada tulang, sehingga butuh observasi," jawab pihak rumah sakit.
Menanggapi hal itu, Dedi sempat menyinggung kondisi finansial korban selama masa pemulihan.
- tvOnenews/Syifa Aulia
“Berarti berhenti gajian dong,” ucapnya.
Sebagai bentuk kepedulian, ia kemudian memberikan bantuan langsung berupa uang tunai.
Amplop yang diserahkan disebut berisi Rp10 juta untuk membantu kebutuhan korban selama tidak bekerja.
"Saya nitip sepuluh juta ya, ibu gak kerja, biar tertangani di rumah," kata Dedi.
Aksi tersebut menuai berbagai respons dari masyarakat.
Banyak yang mengapresiasi langkah cepat dan empati yang ditunjukkan, namun di sisi lain, peristiwa ini kembali memicu dorongan agar sistem keselamatan transportasi publik diperbaiki secara menyeluruh.
Tragedi di Stasiun Bekasi Timur ini bukan sekadar insiden, tetapi juga kisah nyata tentang dampak yang dirasakan langsung oleh masyarakat kecil, seperti sang ART yang harus menghadapi masa pemulihan tanpa penghasilan. (asl)
Load more