Pakar Psikologi Forensik Minta Masyarakat Jangan Buru-Buru Labeli Taufik Hidayat Psikopat, Ini Alasannya
- Kolase tvOnenews.com / YouTube tvOneNews
tvOnenews.com - Pakar psikologi forensik Reza Indragiri Amriel meminta masyarakat tidak terburu-buru melabeli Taufik Hidayat sebagai psikopat. Label itu justru berpotensi menjadi celah hukum yang meringankan hukuman tersangka kasus penyekapan dan penganiayaan Yuvita Tri Rezeki.
Taufik Hidayat resmi ditangkap oleh tim resmob Polda Jawa Barat setelah masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO). Ia diduga menyekap dan menganiaya kekasihnya, Yuvita Tri Rezeki, selama tiga tahun di sebuah kamar kos di kawasan Cinunuk, Cileunyi, Kabupaten Bandung.
Korban ditemukan dalam kondisi luka berat akibat kekerasan berulang. Kasus ini langsung viral di media sosial usai video penangkapan Taufik Hidayat beredar luas, memantik kemarahan publik dan berbagai spekulasi soal kondisi kejiwaan pelaku.
Dalam program Apa Kabar Indonesia Pagi (24/6/2026), presenter Fatimah Albar menanyakan hal itu kepada Reza Indragiri Amriel. Reza pun memberikan analisis mendalam terkait sosok pelaku dan proses hukum yang sedang berjalan.
Jangan Jadikan Label Psikopat sebagai Alat Spekulasi
Merespons pertanyaan apakah Taufik Hidayat bisa disimpulkan sebagai psikopat, Reza langsung mengingatkan soal konsekuensi hukumnya. Menurutnya, kesepakatan publik atas label itu justru bisa berbalik merugikan proses peradilan.
"Kalau kita bersepakat dengan itu, maka kita menantikan ketika majelis hakim nantinya menjatuhkan putusan yang maksimal kepada dia. Majelis hakim menandakan adanya sebuah proses hukum," ujar Reza Indragiri.
Reza menegaskan, agar Taufik Hidayat bisa dijatuhi hukuman terberat, hanya ada satu asumsi yang boleh dipakai sepanjang proses hukum berlangsung, yakni bahwa pelaku adalah orang yang sehat secara mental.
"Nah, agar kemudian pelaku ini bisa berpindah posisinya dari terduga menjadi tersangka, dari tersangka menjadi terdakwa, dari terdakwa menjadi terpidana dan dijatuhi hukuman yang paling berat. Asumsinya harus satu, bahwa orang ini sehat, orang ini waras, orang ini memahami bahwa perbuatannya salah sehingga sekali lagi dia bisa dikenakan hukuman yang berat," tegasnya.
Label Psikopat Bisa Jadi Celah Meringankan Hukuman
Reza menjelaskan lebih jauh mengapa spekulasi soal kejiwaan pelaku justru berbahaya. Menurutnya, segala bentuk spekulasi yang dibangun sejak dini berpotensi dimanfaatkan oleh pelaku di persidangan.
"Kalau kemudian sejak dini kita bangun spekulasi-spekulasi apapun itu tentang kondisi kejiwaan pelaku yang bisa saja dimanfaatkan oleh pelaku sebagai celah bagi dia untuk kemudian mendapatkan peringanan sanksi," kata Reza Indragiri.
Ia lalu menjelaskan bahwa riset terkini soal psikopati justru menemukan dasar neurologis yang nyata. Hal ini yang membuat label psikopat menjadi argumen hukum yang tidak bisa diabaikan begitu saja di persidangan.
"Misalnya sebutan psikopat. Riset-riset mutakhir tentang psikopati justru menyimpulkan otaknya orang psikopat itu memang berbeda dengan orang kebanyakan. Berarti psikopati tidak hanya ada pada lapis perilaku manusia, tidak hanya berada pada level kepribadian manusia, tapi psikopati berada pada kondisi otak, berarti kondisi fisiologis yang memang berbeda," jelas Reza.
Reza kemudian menggambarkan skenario persidangan yang ia khawatirkan apabila label psikopat terlanjur melekat pada Taufik Hidayat sejak awal.
"Nah, sekarang kita bayangkan kalau terdakwa yang satu ini nantinya — saya bayangkan dia menjadi terdakwa — mengatakan dan meyakinkan majelis hakim bahwa perbuatan saya ini memang salah, perbuatan saya ini memang kejam, tapi apa boleh buat, ini merupakan akibat dari kondisi otak saya yang berbeda. Kita mau mengatakan apa, akan memberikan perlakuan seperti apa kepada dia," ujar Reza Indragiri.
Karena itulah, Reza menekankan satu prinsip yang harus dipegang teguh dari awal hingga akhir proses hukum terhadap Taufik Hidayat.
"Karena itu menurut saya sejak awal sampai akhir proses hukum ini kita hanya pakai sekali lagi satu asumsi saja. Dia sehat, dia waras, dia memahami perbuatannya itu salah dan dia harus bertanggung jawab atas perbuatannya," pungkas Reza.
Soal Sikap Tenang Taufik Hidayat Saat Ditangkap
Viral pula reaksi warganet yang mempertanyakan sikap Taufik Hidayat yang tampak sangat tenang saat ditangkap. Banyak yang skeptis, bahkan ada yang mengaitkan ketenangan itu dengan dugaan psikopati.
Menanggapi hal tersebut, Reza justru balik bertanya kepada publik soal ekspektasi yang sesungguhnya tidak realistis.
"Saya balik saja. Memang kita berharap apa? Tersangka akan bertindak tanduk brutal di hadapan kamera akan mengeluarkan sumpah serapah? Tidak mungkin. Dia harus tentu saja menampilkan tindak tanduk yang seolah-olah santun, sopan, kooperatif, dan sejenisnya," kata Reza Indragiri.
Hal serupa juga berlaku bagi aparat yang melakukan penangkapan. Sikap humanis polisi yang menuai komentar miring dari warganet pun dinilai Reza sebagai sesuatu yang wajar dan tidak perlu diperdebatkan.
"Demikian pula ketika teman-teman di Polda Jabar berhasil melakukan penangkapan kemudian berkomunikasi dengan cara yang humanis, kita berharap apa? Kita ingin melihat polisi menampilkan perilaku kejam di hadapan kamera kan tidak mungkin," ujarnya.
Reza menambahkan, kondisi fisik Taufik Hidayat saat ditangkap juga perlu diperhitungkan. Pelaku yang baru saja melalui masa pelarian tentu berada dalam kondisi yang jauh dari prima.
"Jadi menurut saya apa yang kita saksikan di layar kaca pada momen penangkapan itu adalah hal yang biasa saja. Terlebih kalau kita pahami ini penangkapannya jam berapa setelah pelaku melakukan pelarian diri selama berapa lama? Dalam kondisi letih, dalam kondisi mengantuk, mungkin juga kelaparan, tambah lagi karena panik ditangkap oleh polisi. Maka ya itu biasa-biasa saja," jelas Reza.
Reza Khawatir Terjadi Antiklimaks
Di penghujung analisisnya, Reza Indragiri menyampaikan kekhawatiran yang justru tertuju pada konstruksi hukum yang akan digunakan polisi, bukan pada reaksi publik semata.
"Tinggal lagi nanti kita menunggu konstruksi hukum apa yang akan polisi kenakan kepada yang bersangkutan. Pada titik itu sungguh-sungguh saya khawatir akan terjadi suatu antiklimaks," pungkas Reza Indragiri.
(anf)
Load more