Obsesi, Cemburu, dan Dendam, Kisah Kelam Ade Sara: Dibunuh Mantan Pacar karena Cinta Segitiga
- Antara / Ist
tvOnenews.com - Maret 2014 menjadi salah satu periode yang sulit dilupakan dalam catatan kriminal Indonesia. Publik saat itu dibuat terkejut oleh kematian tragis Ade Sara Angelina Suroto, mahasiswi berusia 19 tahun yang ditemukan tak bernyawa di pinggir Tol JORR ruas Bintara, Bekasi, Jawa Barat.
Di balik kematian tersebut, tersimpan kisah kelam tentang cinta segitiga, kecemburuan, obsesi, dan dendam yang berujung pada tindakan keji.
Kasus ini menyita perhatian masyarakat karena melibatkan tiga anak muda yang saling mengenal sejak duduk di bangku SMA.Â
Tidak hanya itu, fakta-fakta yang terungkap selama penyidikan dan persidangan menunjukkan bahwa korban mengalami penyiksaan berkepanjangan sebelum akhirnya kehilangan nyawa.Â
Publik pun dibuat semakin terhenyak ketika mengetahui pelaku utama adalah mantan kekasih korban yang dibantu pacar barunya.
Dua belas tahun berselang, kasus Ade Sara masih sering dikenang sebagai salah satu pembunuhan paling sadis yang dipicu persoalan asmara.Â
Tragedi ini menjadi gambaran nyata bagaimana hubungan yang tidak sehat, rasa memiliki yang berlebihan, dan kecemburuan yang tak terkendali dapat berubah menjadi tindak kriminal yang merenggut nyawa seseorang.
Awal Mula Tragedi: Saat Cinta Segitiga Menjadi Bom Waktu
Ade Sara, Ahmad Imam Al Hafid, dan Assyifa Ramadhani bukanlah orang asing satu sama lain. Ketiganya merupakan alumni SMA 36 Jakarta Timur. Sebelum menjalin hubungan dengan Assyifa, Hafid diketahui pernah berpacaran dengan Ade Sara.
Hubungan Hafid dan Ade Sara kemudian berakhir. Namun perpisahan tersebut ternyata tidak benar-benar diterima oleh Hafid.Â
Dalam persidangan terungkap bahwa ia masih berusaha menjalin komunikasi dengan mantan kekasihnya. Di sisi lain, Assyifa mulai merasa tidak nyaman melihat kedekatan yang masih tersisa antara Hafid dan Ade Sara.
- ANTARA FOTO/OJT/Ricky Prayoga/ama/14
Kondisi inilah yang kemudian berkembang menjadi konflik emosional. Assyifa diliputi rasa cemburu, sementara Hafid menyimpan kekecewaan karena merasa ditinggalkan. Kombinasi dua emosi tersebut menjadi fondasi lahirnya rencana yang kemudian berujung petaka.
Fenomena seperti ini kerap disebut sebagai toxic love triangle atau cinta segitiga yang tidak sehat. Dalam hubungan semacam itu, rasa cinta perlahan berubah menjadi obsesi dan keinginan menguasai pasangan. Ketika salah satu pihak merasa kehilangan kendali, tindakan yang muncul sering kali tidak lagi rasional.
Menurut hasil penyelidikan polisi, Hafid berulang kali mencoba menghubungi Ade Sara dan mengajaknya bertemu. Namun upaya tersebut tidak mendapat respons yang diinginkannya.
Karena merasa diabaikan, Hafid kemudian meminta bantuan Assyifa untuk menghubungi korban. Rencana itu berhasil. Ade Sara akhirnya bersedia bertemu dengan Assyifa di kawasan Gondangdia, Jakarta Pusat, pada 4 Maret 2014.
"Korban juga sempat mengirim pesan singkat ke temannya bahwa mau ketemuan dengan pacar mantannya," ujar Kepala Polresta Bekasi Kota saat itu, Komisaris Besar Priyo Widiyanto.
Pertemuan yang Berubah Menjadi Penyiksaan 26 Jam
Ade Sara datang ke lokasi tanpa menaruh curiga. Saat itu ia hendak mengikuti kegiatan les. Namun tanpa sepengetahuannya, Hafid telah menunggu tidak jauh dari lokasi pertemuan.
Setelah korban dan Assyifa bertemu, Hafid datang menggunakan mobil Kia Visto miliknya. Tak lama kemudian, korban dipaksa masuk ke dalam kendaraan tersebut.
"Di dalam mobil itulah terjadi penganiayaan dan penyetruman sampai pingsan," kata Priyo.
Di dalam mobil, Ade Sara mengalami serangkaian kekerasan fisik yang brutal. Berdasarkan hasil penyidikan, korban dipukul, disetrum berulang kali, dicekik, serta mendapat berbagai bentuk penganiayaan lainnya.
Yang membuat kasus ini semakin mengerikan adalah lamanya penyiksaan berlangsung. Polisi mengungkapkan bahwa kekerasan terhadap korban terjadi selama kurang lebih 26 jam.Â
Dalam kondisi semakin lemah, Ade Sara berusaha melawan, bahkan sempat menggigit tangan Hafid hingga meninggalkan bekas luka yang kemudian menjadi petunjuk penting bagi polisi.
Saat korban tidak lagi berdaya, pelaku menyumpal mulutnya menggunakan kertas koran.
"Berdasarkan keterangan dokter, penyebab meninggalnya korban dikarenakan koran yang menyumpal di tenggorokan," ujar Priyo.
Keterangan serupa juga disampaikan Kabid Humas Polda Metro Jaya saat itu, Kombes Rikwanto.
"Sesudah pingsan, mulut korban disumpal dengan kertas koran. Itu yang menyebabkan kematiannya," kata Rikwanto.
Jejak Kejahatan yang Membongkar Kedok Pelaku
Setelah Ade Sara meninggal dunia, kedua pelaku tidak langsung membuang jenazah korban. Tubuh korban justru disimpan di dalam mobil dan dibawa berkeliling Jakarta selama berjam-jam sambil mencari lokasi yang dianggap aman.
Ironisnya, mobil Kia Visto yang digunakan sempat mogok di kawasan Kemayoran. Hafid bahkan meminta bantuan beberapa orang untuk memperbaiki kendaraan tersebut tanpa menyadari bahwa tindakannya justru meninggalkan jejak yang membantu penyelidikan.
Pada akhirnya, jenazah Ade Sara dibuang di pinggir Tol Bintara, Bekasi, dan ditemukan pada 5 Maret 2014.
Yang membuat publik semakin geram adalah sikap kedua pelaku setelah kejadian. Hafid dan Assyifa berusaha tampil seolah tidak mengetahui apa pun. Mereka bahkan menyampaikan belasungkawa melalui media sosial.
Hafid juga datang langsung ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), tempat jenazah Ade Sara disemayamkan.
Namun polisi yang telah mencurigainya memperhatikan adanya luka bekas gigitan di tangannya.
"Jawaban awalnya tidak meyakinkan," kata Rikwanto.
Kecurigaan tersebut menjadi pintu masuk bagi penyidik untuk mengungkap kasus. Setelah diperiksa lebih lanjut, Hafid akhirnya mengakui keterlibatannya dan menyebut nama Assyifa sebagai pelaku lain.
Kasus Ade Sara kemudian bergulir ke pengadilan. Meski sempat divonis 20 tahun penjara pada tingkat pertama, Mahkamah Agung akhirnya memperberat hukuman Ahmad Imam Al Hafid dan Assyifa Ramadhani menjadi pidana penjara seumur hidup pada 2015.
Menariknya, pola kejahatan dalam kasus Ade Sara memiliki sejumlah kemiripan dengan kasus pembunuhan Indriana Dewi Eka Saputri di Bogor pada 2024.Â
Keduanya sama-sama dipicu motif asmara, melibatkan cinta segitiga, jenazah korban sempat disimpan di dalam mobil, serta adanya upaya pelaku untuk mendekati keluarga korban guna menghilangkan kecurigaan.
Dua kasus tersebut menunjukkan bahwa kecemburuan yang tidak terkendali dapat berkembang menjadi tindakan ekstrem. Dalam kasus Ade Sara, cinta yang seharusnya menjadi sumber kebahagiaan justru berubah menjadi obsesi yang menghancurkan.Â
Karena itulah, tragedi ini masih dikenang hingga kini sebagai salah satu pembunuhan berlatar asmara paling menggemparkan dalam sejarah kriminal Indonesia. (udn)
Â
Load more