Banjarnegara Siaga Darurat Bencana Kekeringan, Ancaman El Nino di Depan Mata
- Antara
Jakarta, tvOnenews.com- Salah satu daerah di Indonesia, Banjarnegara telah menetapkan siaga darurat bencana kekeringan. Hal ini sebagai bentuk antisipasi dari fenomena El Nino.
Dalam keterangannya, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banjarnegara menetapkan Status Siaga Darurat Bencana Kekeringan selama 90 hari, mulai 22 Juni hingga 19 September 2026.
Penetapan tersebut, tertuang dalam SK Bupati Bupati Banjarnegara nomor 300.2/470 tahun 2026, dan diputuskan dalam Rakor Antisipasi dan Kesiapan menghadapi Musim Kemarau di Pringgitan Rumah Dinas Bupati, Senin (22/6/2026) kemarin.
Langkah konkret akan diambil Bupati dr Amalia Desiana. Dalam arahannya menegaskan bahwa penanganan kekeringan tidak boleh hanya mengandalkan dropping air bersih, tapi dorong solusi yang lebih berkelanjutan melalui pembangunan sumur bor, embung, optimalisasi pompa,dll.
- Antara
"Penanganan kekeringan tidak cukup hanya dengan dropping air. Kita harus menghadirkan solusi jangka panjang agar persoalan ini tidak terus berulang setiap tahun,” kata Amalia, dikutip dari laman banjarnegarakab.go.id, Minggu (28/6).
Dibalik keputusan tersebut, Pemkab menyebut ini sebagai langkah antisipasi dengan peringatan BMKG yang memprediksi musim kemarau tahun ini berlangsung lebih panjang akibat pengaruh El Nino.
Seperti diketahui, El Nino merupakan fenomena El Nino dipicu oleh meningkatnya suhu permukaan laut di sekitar garis khatulistiwa, sehingga berpotensi memengaruhi pola cuaca global secara signifikan.
Lebih juga disebutkan kalau dampak kekeringan mulai dirasakan warga di Desa Gemuruh dan Desa Serang, Kecamatan Bawang.
- Antara
Langkah untuk menangani kekeringan ini, BPBD bersama PMI telah menyalurkan 57 tangki atau sekitar 285 ribu liter air bersih ke wilayah terdampak.
Diketahui untuk puncak kekeringan diperkirakan terjadi pada Agustus, dengan sejumlah wilayah rawan seperti Mandiraja, Purwanegara, Bawang, Klampok, dan Susukan.
Perlu untuk diketahui, dampak dari fenomena El Nino menyebabkan musim kemarau datang lebih awal, durasi yang lebih panjang, cuaca yang jauh lebih panas, serta penurunan curah hujan drastis yang meningkatkan risiko kekeringan dan kebakaran hutan.
Bisa juga mengakibatkan kekeringan parah terkadang disertai dengan potensi peningkatan kebakaran hutan, defisit air permukaan yang mengakibatkan defisit penyimpanan air di waduk, danau, dan sungai.(klw)
Load more