PMI asal Cianjur Jatuh Akibat Kelelahan Bekerja, Suami Ungkap Sang Istri Kerja 24 Jam di Dua Rumah
- Kolase tvOnenews.com / tvOneNews
tvOnenews.com - Seorang Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Cianjur, Jawa Barat, viral usai video dirinya menangis dengan wajah berlumuran darah tersebar di media sosial. Wanita tersebut kelelahan setelah bekerja 24 jam penuh sebagai asisten rumah tangga di Libya.
PMI tersebut bernama Ai Juariah, 43 tahun, warga Kampung Babakan Turuy, Desa Karangwangi, Kecamatan Ciranjang, Cianjur. Dalam video yang beredar, ia meminta tolong kepada Presiden Prabowo Subianto dan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi agar dibantu dipulangkan dari tempatnya bekerja.
"Assalamualaikum. Yang amanah saja. Saya hanya ingin pulang. Saya ada gaji tiga bulan. Saya hanya ingin dipermudah. Tolong ya, Bapak Presiden, Bapak KDM," ucap Ai Juariah dalam video tersebut.
Menurut sang suami, Ujang Suryana, Ai Juariah berangkat bekerja ke luar negeri pada 2025 lalu. Hingga kini, ia sudah bekerja selama satu tahun empat bulan sebagai asisten rumah tangga di Libya.
Ujang mengungkapkan, istrinya kelelahan karena harus bekerja di dua rumah sekaligus di Libya. Akibatnya, Ai Juariah terjatuh dan kepalanya terbentur kaca hingga wajahnya penuh luka dan berlumuran darah.
"Itu karena jatuh, karena pusing, katanya lagi sakit kerja. Jadi jatuh, bukan karena penyiksaan, bukan," ucap Ujang Suryana menegaskan bahwa luka istrinya bukan akibat kekerasan dalam tayangan Kabar Pagi tvOne.
Ujang juga menjelaskan penyebab kondisi istrinya yang kelelahan hingga jatuh sakit. "Katanya terlalu kerjanya, terlalu capek gitu. 24 jam selalu kerja katanya. Kan dunungannya (majikan) itu kalau sakit enggak ada perhatiannya gitu. Kalau sakit, beli obat sendiri. Kerja terlalu diporsir katanya. Makan terlalu telat. Heeh. Kalau sakit, hayoh diterus, suruh kerja katanya," ujarnya.
Saat ditanya awak media mengenai jumlah rumah tempat istrinya bekerja, Ujang menjawab bahwa istrinya bekerja di dua rumah berbeda. "Kerjanya katanya dua rumah. Pertama kerja di rumah majikan, kedua kerjanya di rumah ibu majikan," katanya.
Ujang turut menyayangkan tindakan perusahaan yang memberangkatkan istrinya ke luar negeri. Sang istri disebut awalnya dijanjikan bekerja di Turki, namun kenyataannya justru dipekerjakan di Libya.
Selama bekerja di Libya, Ai Juariah bahkan tercatat sudah sembilan kali berganti majikan karena berbagai alasan ketidakcocokan. Kondisi ini semakin memperberat beban kerja yang harus ia jalani di negeri orang.
Dalam komunikasi terakhir dengan keluarga, Ai Juariah mengeluhkan sakit lambung akibat pola makan yang selalu telat serta jam kerja yang mencapai 24 jam tanpa henti. Keluarga di kampung halaman berharap Ai Juariah segera bisa dipulangkan ke Indonesia.
Kasus ini pun menyita perhatian publik di jagat maya usai video permintaan tolong Ai Juariah tersebar luas. Banyak warganet yang turut menyoroti nasib pekerja migran Indonesia yang bekerja di luar negeri dengan kondisi kerja tidak manusiawi.
Menyusul viralnya kasus tersebut, Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI bersama KBRI Tripoli langsung bergerak menangani kasus PMI berinisial AJ ini sejak informasi beredar pada 26 Juni 2026. Kemlu memastikan kondisi AJ saat ini dalam keadaan aman, sehat, dan tidak mengalami cedera.
KBRI Tripoli bersama pihak terkait, termasuk AJ dan majikannya, masih terus mendalami kronologi kejadian secara menyeluruh. Hasil penelusuran sementara bersama agensi setempat menunjukkan bahwa AJ telah bekerja di Benghazi, Libya Timur, sejak Maret 2025 melalui jalur penempatan yang tidak sesuai prosedur oleh pihak sponsor.
Kemlu menegaskan akan terus mengawal penyelesaian kasus ini melalui koordinasi dengan berbagai pihak terkait serta otoritas Libya. Pemerintah juga kembali mengimbau masyarakat yang berencana bekerja ke luar negeri agar menggunakan jalur prosedural resmi demi memastikan perlindungan hukum dan keselamatan selama bekerja di negara tujuan.
(anf)
Load more