Dituding Pilih Kasih, Dedi Mulyadi Bongkar Alasan Bantuan Keluarga Korban Pengeroyokan di Bali Lebih Besar
- YouTube/KANG DEDI MULYADI CHANNEL
tvOnenews.com - Keputusan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memberikan bantuan dengan nominal berbeda kepada dua keluarga korban dalam kasus yang menyita perhatian publik memicu perdebatan di media sosial.
Tak sedikit warganet mempertanyakan alasan di balik kebijakan tersebut hingga muncul tudingan bahwa Dedi bersikap pilih kasih.
Polemik bermula setelah Dedi diketahui memberikan bantuan senilai Rp50 juta kepada keluarga anak yang meninggal dunia usai menjadi korban pengeroyokan di Bali.
- Instagram/dedimulyadi71 - istimewa
Sementara itu, keluarga almarhum Sumarna, petugas keamanan yang tewas dibunuh di kawasan Waduk Jatiluhur, Purwakarta, menerima bantuan tunai sebesar Rp25 juta.
Perbedaan nominal tersebut langsung menjadi bahan perbincangan publik.
Sejumlah warganet menilai keluarga satpam seharusnya mendapatkan perhatian yang sama, bahkan lebih besar karena merupakan warga Jawa Barat.
Menanggapi berbagai komentar tersebut, Dedi Mulyadi akhirnya memberikan penjelasan secara terbuka melalui media sosialnya.
Ia menegaskan bahwa besaran bantuan yang diberikan tidak ditentukan secara asal, melainkan berdasarkan kondisi dan kebutuhan masing-masing keluarga.
- Antara
"Hayo sedang apa sekarang, sedang ngomongin perbedaan bantuan pembunuhan sekuriti dan korban pengeroyokan pencuri ayam di Bali ya? Saya dianggap membeda-bedakan ya?" tanya Dedi Mulyadi.
Menurut Dedi, bantuan Rp25 juta kepada keluarga almarhum Sumarna bukanlah satu-satunya bentuk dukungan yang diberikan.
Ia justru lebih mengutamakan penyelesaian persoalan yang dinilai memiliki dampak jangka panjang.
"Waktu itu saya tidak menyerahkan, uang berbeda dengan yang di Bali karena ada beberapa pertimbangan. Pertimbangan pertama bahwa saya paham almarhum itu ada beberapa kewajiban yang harus diselesaikan pada pihak lain sehingga saya memilih untuk menyelesaikan kewajiban pada pihak lain dibanding menyerahkan uang tunai ke keluarga korban," kata KDM.
- dok.kolase tvOnenews.com / medsos @infoseputarplatH
Selain membantu menyelesaikan persoalan keuangan, Dedi juga telah menyiapkan dukungan bagi masa depan kedua anak almarhum.
Anak sulung akan difasilitasi untuk menuntaskan pendidikan di tingkat SMK sekaligus dibantu memperoleh pekerjaan setelah lulus sehingga dapat menopang kebutuhan keluarga.
Sementara itu, anak bungsu yang masih bersekolah di tingkat SD akan menjadi anak asuh Dedi Mulyadi. Ia berkomitmen mendampingi pendidikan sang anak hingga dewasa agar masa depannya tetap terjamin.
"Kedua, adik kecil yang masih sekolah SD itu dijadikan anak asuh saya untuk menempuh pendidikan hingga dewasa nanti sesuai apa yang diharapkan," lanjut Dedi.
Dedi kemudian menjelaskan bahwa keluarga almarhum sebenarnya juga memperoleh perlindungan melalui program BPJS Ketenagakerjaan.
Sebagai pekerja yang terdaftar dalam program jaminan sosial ketenagakerjaan, almarhum Sumarna memiliki hak atas sejumlah manfaat yang nilainya jauh lebih besar dibanding bantuan tunai yang diberikan pemerintah daerah.
"Ketiga, almarhum ini merupakan anggota sekuriti yang memiliki asuransi ketenagakerjaan dan mendapat hak asuransi ketenagakerjaan Rp418 juta sehingga keluarga almarhum sebenarnya memiliki keuangan yang cukup. Yang harus dipikirkan adalah masa depan anak," pungkasnya.
Santunan yang diterima keluarga meliputi manfaat Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) akibat meninggal dunia sebesar Rp264.537.088, Jaminan Hari Tua (JHT) senilai Rp10.685.285, Jaminan Pensiun (JP) sebesar Rp411.400 setiap bulan, serta beasiswa pendidikan bagi dua anak dengan nilai maksimal Rp142,5 juta.
Jika seluruh manfaat tersebut dihitung, keluarga almarhum memperoleh perlindungan finansial senilai ratusan juta rupiah.
Atas dasar itu, Dedi memilih mengarahkan bantuan pribadinya pada aspek yang belum sepenuhnya terakomodasi, terutama menjamin pendidikan dan keberlangsungan hidup anak-anak korban. (asl)
Load more