Mengenal Yurizal Tri Chaerawan, Pasien BPJS yang Sempat Dihujat Dokter dan Nakes Sebelum Akhirnya Meninggal Dunia
- X @LambeSahamjja
"Kalau full, mau dipindahkan ke mana? Mau di lantai? Nggak ada hubungannya sama BPJS atau nggak. BPJS yang makai banyak, otomatis yang dirawat juga banyak, nggak cuma kamu sendiri. Kalau mau pindah cepat, noh ruang jenazah selalu kosong."
Komentar tersebut memicu kritik luas dari masyarakat karena dianggap tidak etis dan mengabaikan kondisi emosional pasien.
Selain itu, terdapat pula komentar lain bernada sarkastis yang turut menuai kecaman publik.
Setelah Yurizal dikabarkan meninggal dunia pada 31 Juli 2026, sahabat dekatnya, Firhan Arief, membagikan cerita mengenai kondisi almarhum selama menjalani perawatan.
Menurut Firhan, Yurizal telah menjalani proses penanganan medis yang panjang.
Ia mengungkapkan bahwa almarhum sempat menunggu CT Scan hingga 48 jam, memperoleh kamar rawat inap setelah dua hari berada di IGD, dan kembali menghadapi keterbatasan ruang saat membutuhkan perawatan intensif.
Firhan juga mengaku menyaksikan sendiri bagaimana komentar-komentar negatif di media sosial memengaruhi kondisi psikologis Yurizal.
Menurutnya, setelah membaca berbagai komentar tersebut, Yurizal menangis, merasa sedih, dan memilih mengaktifkan mode pesawat pada telepon genggamnya karena tidak ingin lagi membuka media sosial.
Kesaksian itu kemudian mengundang simpati luas dari masyarakat yang menilai pasien tetap membutuhkan dukungan emosional di tengah perjuangan melawan penyakit.
Setelah kabar meninggalnya Yurizal viral, salah satu dokter yang sebelumnya memberikan komentar kontroversial menyampaikan permohonan maaf secara terbuka melalui video di Threads.
Dalam pernyataannya, ia menyampaikan belasungkawa kepada keluarga almarhum dan mengakui bahwa komentarnya tidak tepat.
Ia juga menyatakan siap menerima konsekuensi dari rumah sakit, organisasi profesi, maupun pihak terkait atas unggahan tersebut.
Permintaan maaf serupa juga datang dari dr. Elda Putri Rahadini.
Melalui pernyataan tertulis, ia mengakui komentarnya tidak mencerminkan empati dan menyampaikan penyesalan kepada keluarga Yurizal serta masyarakat.
Kasus Yurizal memunculkan diskusi luas mengenai pentingnya empati dalam pelayanan kesehatan dan komunikasi di media sosial.
Di satu sisi, sejumlah tenaga kesehatan menjelaskan bahwa antrean ruang rawat inap memang dapat terjadi ketika kapasitas rumah sakit penuh.
Load more