Gokil, Cuma Baca Buku Dibayar Rp1,6 Juta? Jasa Joki Ini Viral karena Bikin Orang Terlihat Intelek
- Gambar ilustrasi AI / Gemini
tvOnenews.com - Ada cara baru untuk terlihat rajin membaca di media sosial, tetapi bukan dengan benar-benar menyelesaikan sebuah buku.
Di Threads, viral tawaran joki baca buku dengan tarif yang disebut mencapai Rp1,6 juta. Klien cukup mengirimkan buku yang belum sempat dibaca, lalu orang lain akan membacanya, memberikan highlight, sticky note, serta penanda halaman agar buku tersebut terlihat seperti sudah dikaji berulang kali.
Sekilas, jasa tersebut terdengar seperti lelucon internet. Namun, tarif ratusan ribu hingga jutaan rupiah menunjukkan adanya sesuatu yang lebih menarik: ternyata citra sebagai pembaca buku juga memiliki nilai ekonomi.
Di tengah budaya media sosial yang membuat seseorang dapat membangun personal branding melalui apa yang dibaca, dipakai, dikunjungi, hingga dikoleksi, jasa semacam ini membuka pasar yang sebelumnya mungkin tidak terpikirkan.
Jika ada orang yang bersedia membayar hingga Rp1,6 juta hanya agar bukunya terlihat sudah dibaca, pertanyaan berikutnya menjadi lebih menarik: apakah joki baca buku benar-benar sekadar jasa aneh, atau justru contoh bagaimana kebutuhan membangun citra di media sosial bisa berubah menjadi ladang cuan?
- Tangkapan layar threads
Joki Baca Buku Viral, Tarifnya Capai Rp1,6 Juta
Fenomena tersebut bermula dari unggahan seorang pengguna Threads dengan akun @inilindri. Ia menawarkan jasa membaca buku milik orang lain, baik berbahasa Indonesia maupun Inggris, dari berbagai genre fiksi hingga nonfiksi.
“Open jasa Joki Baca Buku. English, Indonesia. Fiksi, non fiksi, siap semua genre,” tulis akun tersebut, dikutip di Jakarta pada Kamis (09/10/26).
Layanan itu menerima buku dengan ketebalan sekitar 100 sampai 800 halaman. Bukan sekadar membaca, penyedia jasa juga akan memberikan berbagai tanda pada buku agar terlihat seperti telah dibaca dan dipelajari secara serius.
Paketnya mencakup crochet bookmark atau pembatas buku rajut, sticky note transparan, serta stick index page marker. Bahkan, tersedia pula opsi memotret buku setelah proses pengerjaan selesai.
“Bisa sekalian difoto-fotoin juga kalau mau buat sosmed,” lanjutnya.
Tarif yang tercantum berada di kisaran Rp700 ribu sampai Rp1,6 juta, bergantung pada ketebalan buku dan kebutuhan layanan. Dengan konsep tersebut, pelanggan tidak hanya mendapatkan buku yang telah dipenuhi penanda, tetapi juga materi visual yang dapat digunakan untuk kebutuhan konten media sosial.
Unggahan itu kemudian ramai diperbincangkan. Pemilik akun mengaku tidak menyangka tawarannya mendapatkan perhatian besar.
“Ya Allahhh, nggak nyangka rameeee, jangan dihujat plisss. Kalau mau order jasanya boleh DM ya,” tulisnya.
Menariknya, pemilik jasa kemudian menjelaskan bahwa target pasarnya memang bukan sekadar orang yang tidak memiliki waktu membaca.
Bukan Cuma Membaca, Jasa Ini Menjual Citra Bookworm
Ketika ditanya siapa calon konsumennya, pemilik akun memberikan jawaban yang membuat layanan tersebut semakin viral.
“Target market utamanya untuk orang yang mau terlihat seperti bookworm/bookstagram,” ujarnya.
Mekanismenya pun sederhana. Klien mengirimkan buku yang belum dibaca. Buku tersebut kemudian dibaca oleh penyedia jasa, diberi highlight dan berbagai penanda, sebelum dikirim kembali kepada pemiliknya.
“Kakaknya punya buku tapi males bacanya, kirim ke aku nanti aku baca, buat highlight, kasih penanda, pokoknya dibuat sampe terlihat udah dibaca berkali-kali,” kata pemilik akun.
Dalam konteks bisnis, konsep tersebut menarik karena menjual sesuatu yang sebenarnya tidak berbentuk barang baru. Buku tetap milik pelanggan. Yang dibeli adalah **waktu, tenaga, pengalaman membaca, sekaligus tampilan visual** yang dapat digunakan untuk membangun citra di media sosial.
Pemilik akun juga mengungkapkan bahwa layanan serupa pernah ia lakukan ketika masih SMA untuk novel bergenre teenlit dan chicklit. Ia baru kembali membuka jasa tersebut dan mengatakan tarif Rp700 ribu hingga Rp1,6 juta yang tercantum bukan rate card sebenarnya.
“Aku baru mulai lagi kak, pas SMA pernah in jadul way buat novel (teenlit, chicklit), postingan ini buat narik klien, rate card aslinya nggak segitu,” katanya.
Fenomena ini kemudian berkembang menjadi diskusi tentang apa yang sebenarnya dicari pengguna media sosial. Apakah mereka ingin memahami isi buku, atau hanya membutuhkan bukti visual bahwa mereka adalah seseorang yang gemar membaca?
Dari Jasa Aneh Menjadi Peluang Bisnis Baru
Reaksi warganet terhadap joki baca buku pun beragam. Ada yang menganggapnya sebagai ide bisnis unik karena ternyata terdapat pasar untuk layanan tersebut.
“This is weird... But very interesting business. Aku kira kamu bercanda kak, ternyata beneran ada marketnya. Keren sih,” komentar salah seorang pengguna Threads.
Ada pula yang melihat sisi lain. Penyedia jasa bisa memperoleh uang sekaligus mendapatkan pengetahuan dari buku yang dibacanya. Dari perspektif pekerja jasa, aktivitas tersebut bahkan dapat menjadi bentuk monetisasi kemampuan membaca dan memahami berbagai jenis buku.
Namun, persoalan etika tidak dapat dilepaskan begitu saja.
“Kamu peduli ga kalau yang pake jasa pura-pura dia sendiri yang baca dan jadi bisa ngaku-ngaku ke orang lain? Atau memang marketnya orang-orang ini?” tulis seorang pengguna.
Pertanyaan tersebut menjadi titik penting dalam fenomena ini. Jasa membaca buku sebenarnya tidak otomatis bermasalah apabila tujuannya membantu seseorang memahami materi, membuat rangkuman, melakukan riset, atau memberikan ulasan.
Masalahnya muncul ketika hasil pekerjaan tersebut digunakan untuk menciptakan kesan bahwa seseorang telah membaca buku secara pribadi, padahal seluruh prosesnya dilakukan orang lain.
Warganet lainnya bahkan mempertanyakan manfaat aktivitas tersebut. Sebab, tujuan utama membaca adalah memperoleh informasi, wawasan, sudut pandang, dan pengalaman dari proses memahami buku secara langsung.
Meski demikian, dari sisi ekonomi, viralnya joki baca buku menunjukkan satu hal penting: selama ada kebutuhan, selalu ada kemungkinan terbentuk pasar baru.
Media sosial membuat personal branding semakin bernilai. Buku yang penuh highlight, sticky note dan bookmark bukan lagi hanya benda untuk dibaca, tetapi juga dapat menjadi properti visual yang membentuk persepsi tentang seseorang.
Karena itu, joki baca buku mungkin terdengar sebagai bisnis yang tidak biasa. Tetapi justru keanehan tersebut memperlihatkan bagaimana ekonomi digital bekerja. Peluang tidak selalu lahir dari kebutuhan yang besar dan umum.
Terkadang, peluang muncul dari kebutuhan yang sangat spesifik—bahkan dari keinginan seseorang untuk terlihat seperti sudah melakukan sesuatu.
Dan ketika citra tersebut memiliki nilai di media sosial, ada saja orang yang bersedia membayar untuk mendapatkannya. (udn)
Load more