Cara Menghadapi Musibah dengan Hati Tenang, Buya Yahya Bilang Ujian Datang Bukan untuk Menghancurkan
- Antara
tvOnenews.com - Dalam setiap perjalanan hidup, tidak ada manusia yang terlepas dari ujian dan musibah.
Entah berupa kehilangan, sakit, bencana, ataupun cobaan lainnya, semua hadir sebagai bagian dari ketetapan Allah.
Namun, bagaimana seharusnya seorang muslim bersikap ketika musibah itu datang? Buya Yahya memberikan penjelasan menyejukkan tentang cara menghadapi musibah agar hati tetap tenang dan tidak kehilangan arah.
Menurut Buya Yahya, cara pandang seseorang terhadap musibah sangat menentukan bagaimana ia menjalani ujian tersebut.
"Kalau musibah itu menimpa kepada anda, faidahnya sederhana. Bahwasanya kalau ada seorang hamba diuji oleh Allah, itu tanda Allah cinta. Karena Allah akan mengangkat derajatnya. Tandanya dia kuat menghadapi ujian,” ujar Buya Yahya dalam sebuah ceramahnya.
Beliau mengingatkan, musibah bukanlah bentuk hukuman atau tanda kebencian dari Allah, melainkan cara Allah menguji keimanan seorang hamba.
Allah tidak akan memberikan cobaan di luar batas kemampuan manusia. Justru, melalui ujian itu, derajat seseorang akan diangkat di sisi-Nya.

- YouTube
Buya Yahya juga menekankan pentingnya menghadapi musibah dengan husnuzan atau prasangka baik kepada Allah.
“Kapan Allah menguji, husnuzan yang harus kita hadirkan. Bahwasanya Allah akan mengangkat derajatku, derajat keluargaku, derajat anakku, dan sebagainya. Maka lewati musibah itu dengan menyerah kepada Allah, tanpa protes,” jelasnya.
Menurutnya, musibah memiliki beberapa makna bagi orang beriman. Pertama, sebagai penghapus dosa, karena setiap rasa sakit atau penderitaan yang dialami dengan sabar akan menggugurkan kesalahan.
Kedua, sebagai pengangkat derajat, sebab Allah ingin hamba-Nya naik ke level keimanan yang lebih tinggi.
Ketiga, musibah bisa menjadi tabungan pahala di akhirat bagi orang yang bersabar dan tidak mengeluh.
Namun, Buya Yahya juga menegaskan bahwa cara menilai musibah pada diri sendiri dan orang lain harus berbeda.
Jika musibah menimpa diri sendiri, maka boleh menganggapnya sebagai bentuk pengampunan dosa dan introspeksi diri.
"Kalau Anda mendapatkan ujian, sakit, atau musibah, boleh bilang: ini karena dosaku. Ya Allah, syukur kepadamu, telah Kau beri sakit agar Kau ampuni aku,” ucapnya.
Tetapi jika musibah menimpa orang lain, seorang muslim harus beradab dalam berucap. Tidak pantas menuding orang lain berdosa hingga ditimpa bencana.
“Kalau nunjuk ke orang, adab dong. Bahasanya: semoga Allah mengangkat derajatmu, semoga Allah memuliakanmu. Jangan bilang, ‘Itu karena dosanya banyak.’ Itu enggak punya adab,” tegas Buya Yahya.
Beliau mencontohkan fenomena ketika ada daerah yang dilanda bencana, sebagian orang dengan mudah menuding bahwa itu akibat maksiat.
Padahal, tidak ada satu pun manusia yang tahu rahasia takdir Allah.
“Kenapa kita katakan Aceh diangkat derajat mereka oleh Allah, bukan karena banyak dosa. Termasuk orang yang mati tenggelam, itu disebut mati syahid dalam hadis Nabi,” ungkapnya.
Buya Yahya mengingatkan umat Islam untuk tidak sombong dalam menilai musibah orang lain.
“Kadang kita merasa paling suci, lalu bilang Jogja kena gempa karena banyak maksiat. Padahal kalau urusannya dosa, mungkin yang ngomong itu duluan yang kena. Jadi tolong, cara pandang yang santun, sopan, dan penuh kasih,” nasihatnya.
Melalui ceramahnya, Buya Yahya menegaskan bahwa setiap musibah harus dihadapi dengan hati yang tenang dan ikhlas.
Bagi orang beriman, ujian bukanlah penghancur, melainkan jalan menuju peningkatan iman dan kedekatan dengan Allah SWT. (adk)
Load more