Hal-Hal yang Tidak Membatalkan Puasa, tapi Merusak Pahalanya
- Pexels/RDNE Stock project
tvOnenews.com - Ramadhan selalu datang membawa suasana yang berbeda.
Menjelang bulan suci, banyak orang mulai menata niat, memperbaiki ibadah, hingga mempersiapkan diri secara fisik dan spiritual.
Ada yang sibuk melunasi utang puasa, ada pula yang mulai membiasakan sahur dan mengatur ritme harian.
Semua itu adalah bagian dari ikhtiar menyambut tamu agung yang penuh keberkahan.
Di tengah persiapan menyambut Ramadhan 1447 H, ada satu hal penting yang sering luput dari perhatian: bukan hanya sah atau tidaknya puasa, tetapi juga kualitas pahala puasa itu sendiri.

- Ilustrasi AI
Dalam salah satu kajian, Ustaz Adi Hidayat mengingatkan bahwa puasa bisa terpengaruh oleh dua perkara besar.
“Ada dua jenis yang bisa mempengaruhi pahala puasa kita,” ujar Ustaz Adi Hidayat.
Penjelasan ini menjadi pengingat bahwa puasa tidak sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menjaga diri dari hal-hal yang dapat mengurangi bahkan merusak nilainya.
Dua Hal yang Mempengaruhi Puasa
Ustaz Adi Hidayat menjelaskan bahwa ada perbuatan yang secara langsung membatalkan puasa, dan ada pula yang tidak membatalkan secara fikih, tetapi merusak pahala.
1, Perkara yang Langsung Menggugurkan Puasa
Jenis pertama adalah hal-hal yang membuat puasa batal seketika. Contohnya sudah sangat dikenal:
* Makan dan minum dengan sengaja
* Hubungan suami istri di siang hari Ramadhan
* Memasukkan sesuatu ke dalam rongga tubuh secara sengaja
Ustaz Adi Hidayat bahkan memberikan ilustrasi ringan namun mengena, seperti seseorang yang berkumur saat wudhu tetapi menggunakan cairan manis, bukan air biasa.
Intinya, hal-hal yang jelas melanggar ketentuan puasa akan membatalkan ibadah tersebut.
2. Perkara yang Tidak Membatalkan, tapi Merusak Pahala
Bagian kedua inilah yang sering tidak disadari. Puasa tetap sah, tetapi nilainya bisa terkikis atau bahkan merugi.
“Puasanya batal sih enggak, cuma pahalanya rusak. Apa saja?” kata Ustaz Adi Hidayat.
Merujuk pada pembahasan hadis dalam Kitabus Shiyam (bab puasa), menjelaskan bahwa esensi puasa adalah menjaga diri, bukan sekadar menahan makan dan minum.
Beberapa hal yang termasuk merusak pahala puasa antara lain:
? Berkata Kotor
Puasa berfungsi sebagai perisai. Karena itu, ucapan harus dijaga.
“Puasa itu perisai dari hal-hal yang tidak baik. Maka orang puasa, jangan berkata kotor,” jelas Ustaz Adi Hidayat.
Ucapan kasar, makian, dan perkataan yang menyakiti orang lain dapat menggerogoti pahala puasa tanpa disadari.
? Berperilaku Tidak Pantas
Ustaz Adi Hidayat menjelaskan bahwa ada tindakan yang mungkin tidak langsung berdosa, tetapi dapat memicu prasangka buruk atau mendorong orang lain berbuat salah.
Sebagai ilustrasi, ia mencontohkan perilaku yang tidak sesuai kepantasan usia atau situasi, sehingga memancing cibiran dan prasangka.
Dalam konteks puasa, sikap semacam ini bertentangan dengan semangat menjaga kehormatan diri.
? Mencela dan Berselisih
Mudah terpancing emosi, gemar merendahkan, atau terlibat konflik juga termasuk hal yang merusak pahala. Puasa seharusnya melatih kesabaran, bukan memperuncing pertengkaran.
? Dusta dan Ghibah
Berbohong, bergosip, serta membicarakan keburukan orang lain menjadi ancaman serius bagi pahala puasa.
Ustaz Adi Hidayat menggambarkan dampaknya dengan perumpamaan sederhana namun tajam.
Bayangkan seseorang memperoleh pahala puasa penuh, tetapi di saat yang sama melakukan berbagai pelanggaran lisan dan sikap.
Akumulasi dosa itu bisa menghapus nilai pahala yang didapatkan.
“Tidak sedikit orang puasa tidak mendapatkan apapun dari puasanya kecuali lapar dan haus saja,” ujar Ustaz Adi Hidayat, mengingatkan tentang sabda Rasulullah SAW.
Artinya, secara lahiriah berpuasa, tetapi secara batiniah kehilangan esensi ibadah.
Allah Tidak Membutuhkan Puasa yang Kosong Nilai
Lebih jauh, Ustaz Adi Hidayat juga menyinggung pesan dalam sebuah hadis.
“Allah tidak membutuhkan puasa seseorang yang memperbanyak dosa dalam puasanya,” ujarnya.
Pesan ini menegaskan bahwa puasa bukan hanya ritual fisik, melainkan ibadah yang menuntut pengendalian diri secara menyeluruh: lisan, sikap, dan hati.
Menjelang Ramadhan 2026, persiapan terbaik bukan hanya soal menu sahur atau jadwal buka puasa, tetapi juga kesiapan menjaga diri dari hal-hal yang merusak pahala.
Sebab, merugi dalam ibadah adalah kerugian yang paling besar.
Puasa yang ideal bukan sekadar menahan lapar, tetapi juga menahan amarah, ucapan, dan perilaku.
Dengan demikian, Ramadhan benar-benar menjadi momentum penyucian diri, bukan sekadar perubahan jadwal makan. (gwn)
Load more