Hukum Menabur Bunga dan Membaca Yasin saat Ziarah Kubur, Ini Penjelasan Tegas Habib Novel Alaydrus
- Ilustrasi AI
tvOnenews.com - Ziarah kubur menjadi salah satu tradisi yang kerap dilakukan umat Islam, terutama jelang Hari Raya Idul Fitri.
Dalam praktiknya, menabur bunga hingga membaca surat Yasin sering dijumpai di berbagai daerah.
Namun, tak sedikit yang mempertanyakan, bagaimana sebenarnya hukum dari amalan-amalan tersebut?
Penjelasan mengenai hal ini pernah disampaikan oleh Habib Novel Alaydrus dalam sebuah kajian.
Ia menguraikan dasar amalan tersebut dengan merujuk pada kisah dalam hadits Nabi Muhammad SAW.
Dalam ceramahnya, Habib Novel Alaydrus mengisahkan sebuah peristiwa ketika Rasulullah SAW sedang berjalan di siang hari, lalu tiba-tiba berhenti karena mendengar adanya dua orang yang tengah mendapatkan siksa di alam kubur.
Ia pun mengajak jamaah untuk merenung, bagaimana mungkin Rasul bisa mengetahui kondisi tersebut.
- Ilustrasi AI
Dijelaskan bahwa kedua orang tersebut disiksa bukan karena dosa yang dianggap besar oleh pelakunya.
Salah satunya terbiasa tidak menjaga kebersihan setelah buang hajat, sehingga najis masih menempel pada tubuh atau pakaiannya.
Sementara yang lain gemar mengadu domba antar sesama.
Setelah menjelaskan sebab siksa tersebut, Rasulullah SAW tidak langsung memanjatkan doa.
Justru, beliau meminta diambilkan dua pelepah kurma yang masih segar.
Masing-masing pelepah kemudian diletakkan di atas kubur kedua orang tersebut.
Tindakan ini pun sempat mengundang pertanyaan dari para sahabat.
Menjawab hal itu, Rasulullah SAW bersabda bahwa siksa kubur keduanya akan diringankan selama pelepah kurma tersebut masih dalam keadaan basah.
- Tangkapan Layar YouTube Habib Novel Alaydrus
Menurut Habib Novel Alaydrus, terdapat pelajaran penting dari kisah tersebut.
Salah satunya adalah bahwa Rasulullah tidak sekadar memberi peringatan, tetapi juga menunjukkan solusi yang bisa ditiru umatnya.
“Rasul tidak mendoakan, karena doa Nabi tentu langsung diijabah dan tidak bisa ditiru oleh umatnya. Maka beliau memberi contoh dengan sesuatu yang bisa diamalkan,” jelasnya.
Dari sinilah, sebagian ulama kemudian mengambil kesimpulan bahwa meletakkan sesuatu yang masih hidup atau segar di atas makam dapat menjadi sebab keringanan bagi mayit.
Praktik ini kemudian berkembang dalam bentuk menabur bunga seperti mawar dan melati.
Habib Novel juga menyinggung bahwa pemilihan bunga bukan sekadar tradisi, tetapi juga mempertimbangkan keindahan dan kenyamanan.
Aroma harum dari bunga bahkan dapat memberikan ketenangan bagi peziarah.
Lebih lanjut, ia mengaitkan hal ini dengan penjelasan dalam tafsir yang menyebutkan bahwa sesuatu yang masih hidup akan senantiasa bertasbih kepada Allah SWT.
Tasbih inilah yang menjadi sebab turunnya rahmat, sehingga dapat meringankan siksa kubur.
Dari analogi tersebut, para ulama kemudian mengqiyaskan bahwa bukan hanya tumbuhan, tetapi amalan manusia seperti membaca tasbih, tahlil, hingga Al-Quran di area makam juga dapat memberi manfaat bagi yang telah meninggal.
“Kalau tasbihnya tumbuhan saja bisa memberi manfaat, maka tasbihnya manusia tentu lebih utama,” ungkap Habib Novel.
Dengan demikian, menabur bunga maupun membaca Yasin saat ziarah kubur dipahami sebagai bagian dari ikhtiar mendoakan dan mengirimkan pahala kepada mayit.
Selama diniatkan untuk kebaikan dan tidak bertentangan dengan syariat, amalan tersebut memiliki landasan yang dijelaskan oleh para ulama. (gwn)
Load more