Ini Batas Waktu Bulan Syawal 2026, Lebih Utamakan Puasa Syawal atau Bayar Utang Puasa Ramadhan?
- viva.co.id/ilustrasi pixabay
Jakarta, tvOnenews.com- Bagi umat muslim menjalankan ibadah puasa menjadi amalan wajib di bulan Ramadhan. Setelah bulan suci ini, ada Syawal yang bisa menjalankan puasa juga.
Puasa tersebut bernama puasa syawal atau amalan sunnah di bulan syawal. Ini umum dikerjakan oleh umat muslim untuk menambah pahala, dan menyempurnakan ibadah Ramadhan.
Lantas, kapan si batas waktu bulan syawal 2026? berikut penjelasannya.
- viva.co.id/ilustrasi pixabay
Dalam laman resmi Baznas, berdasarkan kalender hijriah Indonesia 2026 yang diterbitkan Kementerian Agama (Kemenag) dan hasil sidang Isbat, bulan Syawal berlangsung hingga Sabtu, 18 April 2026.
Sementara menurut kalender hijriah Global Tunggal (KHGT) 1447 versi Muhammadiyah, bulan Syawal berakhir pada Jumat, 17 April 2026. Jangan sampai terlewatkan ya karena ada amalan sunnah yang dianjurkan.
Salah satunya ada puasa syawal yang dikerjakan selama 6 hari di bulan syawal. Amalan sunnah yang dianjurkan Rasulullah SAW dan para ahli agama.
Rasulullah SAW bersabda bahwa puasa Ramadan diikuti 6 hari Syawal seperti puasa setahun penuh.
“Siapa saja yang berpuasa Ramadan kemudian dilanjutkan dengan enam hari di bulan Syawal, maka seperti pahala berpuasa setahun.” (HR Muslim).
Lalu, bagaimana jika seseorang memiliki utang puasa ramadhan. Mana yang lebih utama antara qadha Ramadhan atau puasa syawal 6 hari?.
Dengan ini mengutip penjelasan Ustaz Adi Hidayat disapa UAH, kalau ada keutamaan seseorang mengutamakan yang wajib yaitu bayar utang puasa terlebih dahulu.
"Bagaimana, masih ada hutang qadha? Biasanya kasus ini melekat pada muslimah yang datang haidnya pada masa Ramadhan. Kemudian menjadikan puasa Ramadhannya mendapat kemudian menjadikan puasa Ramadhannya mendapat kesempatan qadha,” ungkap Ustaz Adi Hidayat pada tayangan YouTube miliknya.
Ustaz Adi juga mengatakan ternyata tentang hal ini sudah dijelaskan pada Al Quran Surat Al Baqarah ayat 184.
اَيَّامًا مَّعْدُوْدٰتٍۗ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَّرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَۗ وَعَلَى الَّذِيْنَ يُطِيْقُوْنَهٗ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِيْنٍۗ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَّهٗۗ وَاَنْ تَصُوْمُوْا خَيْرٌ لَّكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ ١٨٤
ayyâmam ma‘dûdât, fa mang kâna mingkum marîdlan au ‘alâ safarin fa ‘iddatum min ayyâmin ukhar, wa ‘alalladzîna yuthîqûnahû fidyatun tha‘âmu miskîn, fa man tathawwa‘a khairan fa huwa khairul lah, wa an tashûmû khairul lakum ing kuntum ta‘lamûn
Artinya: "(Yaitu) beberapa hari tertentu. Maka, siapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain. Bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin. Siapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, itu lebih baik baginya dan berpuasa itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui"
“Maka pahami bentuk qadha yang sifatnya wajib dengan yang Syawal yang sifatnya sunnah didahulukan yang qadha,” jelasnya.(klw)
Load more