Khutbah Jumat 12 Juni 2026: Tahun 1447 Hijriah akan Berakhir, Mari Ingat Lagi Keistimewaan Bulan Muharram
- ANTARA/Yulius Satria Wijaya
Jakarta, tvOnenews.com - Umat Muslim sebentar lagi akan menghadapi bulan Muharram. Hal ini mengingat tahun 1447 Hijriah akan berakhir pada Senin, 15 Juni 2026.
Artinya, umat Muslim akan memasuki Tahun Baru Islam yang bertepatan pada 1 Muharram 1448 Hijriah. Ini menandakan bulan Dzulhijjah akan selesai.
Melalui teks khutbah Jumat singkat terbaru untuk pelaksanaan shalat Jumat, 12 Juni 2026, keistimewaan bulan Muharram menjadi topik pembahasan menarik yang direkomendasikan tvOnenews.com.
Teks Khutbah Jumat: Tahun 1447 Hijriah akan Berakhir, Mari Ingat Lagi Keistimewaan Bulan Muharram
- Antara/M Ifdhal
Khutbah I
الْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ وَفَّقَنَا لِلْأَعْمَالِ الْجَارِيَة, وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ والبَرَكَاتُ عَلَى خَيْرِ البَرِيَّة، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالذُّرِّيَّة
َشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
َا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَ رْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا, َمَّا بَعْدُ
Kaum muslimin jemaah shalat Jumat rahimakumullah,
Pertama-tama, marilah kita terus meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah 'Azza wa Jalla. Kita senantiasa memperbanyak ketaatan dan marilah menjauhi segala bentuk kemaksiatan dan larangan dari Allah SWT.
Sebagaimana dalam dalil Al-Quran dari Surat Ali Imran Ayat 102 mengenai seruan untuk bertakwa, Allah SWT berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ
Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim." (QS. Ali Imran, 3:102)
Pada kesempatan khutbah Jumat hari ini, kita akan menghadapi penghujung tahun 1447 Hijriah. Sebab, bulan Dzulhijjah sebentar lagi akan berakhir sebagai tanda datangnya bulan Muharram.
Apakah kita masih mengingat keistimewaan bulan Muharram? Bulan pertama dalam kalender Hijriah ini menjadi bagian dari salah satu empat bulan haram.
Keutamaan dari bulan-bulan haram telah tercantum dalam Surat At-Taubah Ayat 36, Allah SWT berfirman:
اِنَّ عِدَّةَ الشُّهُوْرِ عِنْدَ اللّٰهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِيْ كِتٰبِ اللّٰهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ مِنْهَآ اَرْبَعَةٌ حُرُمٌ
Artinya: "Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) ketetapan Allah (di Lauhulmahfuz) pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram." (QS. At-Taubah, 9:36)
Dalam tafsir penggalan ayat ini, kita kembali diingatkan bahwa empat bulan mulia menunjukkan amal saleh akan diganjar berkali-kali lipat. Selain itu, keburukan juga bisa berlipatganda.
Menariknya, bulan Muharram terletak pada awal bulan Islam. Kehadiran Muharram menandakan masuknya tahun 1448 Hijriah dalam kalender Islam.
Sidang Jumat dimuliakan oleh Allah,
Alhamdulillah, kita masih mendapat kesempatan untuk hidup dengan sehat. Hal ini menunjukkan bahwa Allah SWT masih menginginkan kita mengisi sisa waktu kehidupan dengan sebaik mungkin dengan memohon ampunan hingga bertaubat kepada-Nya.
Mengacu dari kitab Lathaaiful Ma’aarif Fiimaa Limawaasimil ‘Aami Minal Wazhaaif, Al Imam Ibnu Rajab al Hanbali merincikan keistimewaan, keutamaan, serta keagungan dari musim-musim kebaikan.
Beliau juga menyebutkan amalan prioritas hingga tugas-tugas yang harus dilakukan oleh para hamba mulai dari bulan Muharram hingga Dzulhijjah. Selepas itu, Al Imam Ibnu Rajab mengakhiri kitabnya dengan mengingatkan betapa pentingnya taubat hingga menyambut kematian.
Di bulan Muharram, ada berbagai macam perkara yang sangat penting di dalamnya. Aspek ini sangat penting kita bahas. Oleh karena itu, dalam sesi khutbah Jumat ini, khatib meminta izin membawakan khutbah dengan tema Bulan Muharram sebagai bulannya Allah.
Poin pertama mengenai bulan Muharram terletak pada keutamaannya. Sebagaimana dalam hadis riwayat, bulan ini dilabeli sebagai bulannya Allah SWT, Rasulullah SAW bersabda:
شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ
Artinya: "Bulannya Allah, al Muharram." (HR. Muslim)
Untuk itu, marilah kita kembali mengingat keistimewaan dari bulan Muharram. Sebab, bulan ini memiliki keutamaan khusus di sisi Allah SWT.
Mengacu dari perkataan Al-Hasan al-Bashri, selain bulan Ramadhan, bulan yang lebih agung adalah Muharram. Hal ini serupa daru Abu Utsman an-Nahdi, ia berkata, "Dahulu mereka mengagungkan 3 waktu: 10 hari terakhir bulan Ramadhan, 10 hari pertama bulan Dzulhijjah, 10 hari pertama bulan Muharram." (Lathaiful Ma'arif)
Poin kedua mengacu pada keutamaan amalan puasa di bulan Muharram secara umum. Dalam hadis riwayat Imam Muslim, Rasulullah SAW bersabda:
أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ
Artinya: "Puasa terafdhal setelah Ramadhan adalah bulan Allah al Muharram." (HR. Muslim)
Poin ketiga mengenai pentingnya berpuasa khusus di hari Asyura. Puasa Asyura terjadi di setiap tanggal 10 Muharram.
Saudaraku sidang Jumat yang dikaruniai Allah,
Poin keempat berbicara tentang keutamaan puasa Asyura. Keistimewaan amalan ini tercantum dalam hadis riwayat, Rasulullah SAW bersabda:
وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ
Artinya: "Dan puasa di hari ‘Asyura’ saya berharap kepada Allah agar dapat menghapuskan (dosa) setahun yang lalu." (HR Muslim)
Poin kelima, selain puasa Asyura, umat Muslim juga dianjurkan untuk mengerjakan puasa Tasu'a yang terletak pada hari ke-9 Muharram.
Dalam hadis riwayat, Nabi Muhammad SAW bersabda:
لَئِنْ بَقِيتُ إِلَى قَابِلٍ لَأَصُومَنَّ التَّاسِعَ
Artinya: "Seandainya tahun depan aku masih hidup, niscaya saya benar-benar akan berpuasa pada hari ke sembilan (Muharam)." (H.R. Muslim)
Di poin keenam, khatib akan membahas amalan di hari Asyura selain puasa. Sebagaimana dalam penjelasan bahwa semua hadis menganjurkan mandi, bercelak, dan seterusnya di hari Asyura adalah palsu kecuali menjalani ibadah puasa.
Khutbah II
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,
Demikianlah khutbah pertama ini disampaikan dengan baik. Sebenarnya masih banyak hal tentang pelajaran menyambut bulan Muharram. Untuk mempersingkat waktu, setidaknya kita telah merefleksikan diri agar bisa memahami dari beberapa poin tersebut dalam menyambut bulannya Allah.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلَ الله مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَاالسَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
(hap)
Sumber Referensi: Quran Kemenag RI, Yayasan Amal Jariyah Indonesia.
Load more