Cara Menyikapi Tahun Baru Islam 1448 H, Begini Menurut Ustaz Adi Hidayat
- YouTube/Adi Hidayat Official
tvOnenews.com - Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah menjadi momen yang dinantikan umat Muslim di berbagai belahan dunia.
Pergantian tahun dalam kalender Hijriah bukan sekadar penanda bertambahnya waktu, tetapi juga kesempatan untuk melakukan introspeksi dan memperbaiki diri menjadi pribadi yang lebih baik.
Ustaz Adi Hidayat (UAH) menjelaskan bahwa menyambut Tahun Baru Islam seharusnya tidak hanya diisi dengan perayaan seremonial semata.
Menurutnya, pergantian tahun Hijriah perlu dijadikan momentum untuk mengevaluasi perjalanan hidup dan mempersiapkan bekal menuju kehidupan akhirat.
Dalam salah satu tausiyahnya, UAH mengajak umat Islam untuk merenungkan bagaimana waktu yang telah diberikan Allah selama ini digunakan.
"Pertanyaan terbesarnya, dari sekian waktu yang telah Allah berikan kepada kita untuk berkehidupan sampai detik ini, berapakah yang memiliki nilai kebaikan di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala?" ujar Ustaz Adi Hidayat.
- Tangkapan layar YouTube Adi Hidayat Official
Menurut UAH, manusia sering kali bersungguh-sungguh mempersiapkan kehidupan dunia yang sifatnya sementara.
Namun, tidak sedikit yang justru lupa mempersiapkan bekal untuk kehidupan yang abadi setelah kematian.
Karena itu, pergantian tahun Hijriah menjadi waktu yang tepat untuk melakukan muhasabah atau evaluasi diri.
Dengan merenungkan perjalanan hidup, seseorang dapat melihat kembali kesalahan yang pernah dilakukan dan berusaha memperbaikinya di masa mendatang.
Muharram sebagai Momentum Meninggalkan Kebiasaan Buruk
Ustaz Adi Hidayat menjelaskan bahwa bulan Muharram tidak hanya menjadi bulan pertama dalam kalender Islam, tetapi juga mengandung pesan mendalam bagi umat Muslim.
Menurutnya, Muharram dapat dimaknai sebagai ajakan untuk meninggalkan berbagai perbuatan yang dilarang Allah dan kembali menjaga kehormatan diri sebagai seorang hamba.
Ia mencontohkan berbagai perilaku yang dapat merusak kemuliaan seseorang, seperti berdusta, menipu, mencuri, berjudi, hingga berkata-kata yang menyakiti orang lain.
"Jika kita ingin meninggalkan seluruh perbuatan-perbuatan itu, mencoba mengevaluasi, menepikan yang dilarang, menjaga kehormatan, mengembalikan pada kemuliaan, berpindah pada tempat dan keadaan yang lebih baik," jelasnya.
Menurut UAH, perubahan tersebut merupakan bentuk hijrah yang sesungguhnya.
- Pixabay/openclipart-vectors
Hijrah bukan hanya berpindah tempat, melainkan berpindah dari kebiasaan buruk menuju kehidupan yang lebih baik dan diridhai Allah SWT.
Load more