Muharram 1448 H: Saat Terbaik Memulai Hijrah, Ustaz Adi Hidayat Jelaskan Rahasia di Balik Nama Al-Muharram
- YouTube/Adi Hidayat Official
tvOnenews.com - Umat Islam saat ini tengah berada di bulan Muharram 1448 Hijriah, bulan pertama dalam kalender Islam yang memiliki kedudukan istimewa di sisi Allah SWT.
Bagi banyak orang, pergantian tahun Hijriah sering dimaknai sebagai momentum untuk membuka lembaran baru kehidupan.
Namun, menurut Ustaz Adi Hidayat (UAH), ada pesan mendalam yang tersimpan di balik penamaan bulan Al-Muharram yang mungkin belum banyak diketahui umat Islam.
Dalam salah satu kajiannya, UAH menjelaskan bahwa bulan pertama dalam kalender Hijriah sengaja dinamakan Al-Muharram sebagai pengingat bagi manusia agar memulai tahun dengan meninggalkan segala sesuatu yang dilarang Allah SWT.
"Kalau kita ingin mengawali tahun dengan baik, menjadi orang yang lebih baik, usahanya baik, pekerjaannya baik, maka mulailah berlatih meninggalkan segala yang dilarang oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala," jelas Ustaz Adi Hidayat.
- Pixabay/openclipart-vectors
Makna Al-Muharram dan Pesan Hijrah
Ustaz Adi Hidayat menerangkan bahwa kata "Muharram" memiliki keterkaitan dengan kata "haram", yakni segala sesuatu yang dilarang Allah SWT.
Dari akar kata yang sama lahir istilah muhrim, yaitu orang yang berusaha meninggalkan larangan Allah, serta ihram yang menjadi simbol komitmen seorang muslim untuk menjaga diri dari berbagai hal yang terlarang saat menunaikan ibadah haji atau umrah.
Menurutnya, bulan Al-Muharram mengandung pesan agar setiap muslim memulai hijrah menuju kehidupan yang lebih baik dengan meninggalkan kebiasaan buruk dan maksiat.
"Jika ingin memulai hijrah, pesan Nabi sederhana, tinggalkan kebiasaan-kebiasaan yang dilarang Allah," ujarnya.
Karena itulah, Muharram tidak hanya menjadi penanda pergantian tahun, tetapi juga momentum evaluasi diri untuk memperbaiki kualitas iman dan amal.
- Ilustrasi AI/ChatGPT
Bulan Mulia yang Sudah Dihormati Sejak Zaman Jahiliah
Menariknya, penghormatan terhadap bulan Muharram ternyata sudah dikenal jauh sebelum Islam datang.
Pada masa jahiliah, masyarakat Arab telah mengenal empat bulan suci yang harus dihormati.
Dalam bulan-bulan tersebut, peperangan dihentikan, permusuhan diredam, dan berbagai tindakan yang merusak kehormatan manusia dihindari.
Tradisi itu kemudian ditegaskan kembali dalam Islam melalui firman Allah dalam Surah At-Taubah ayat 36 yang menjelaskan bahwa terdapat empat bulan haram dalam satu tahun.
Menurut Ustaz Adi Hidayat, kemuliaan bulan-bulan tersebut bertujuan menjaga kehormatan manusia yang sejak awal diciptakan Allah dalam keadaan mulia.
"Mata, telinga, lisan, dan seluruh anggota tubuh kita diciptakan dengan kemuliaan. Karena itu jangan digunakan untuk sesuatu yang merusak kehormatan kita di hadapan Allah," katanya.
- Ilustrasi AI Gemini
Dosa Maksiat Lebih Berat di Bulan Muharram
Dalam penjelasannya, UAH juga mengutip pendapat sahabat Nabi, Abdullah bin Abbas RA, yang menerangkan bahwa maksiat yang dilakukan pada bulan-bulan mulia memiliki konsekuensi yang lebih berat dibandingkan hari-hari biasa.
Karena itu, Muharram seharusnya menjadi waktu terbaik untuk menjaga pandangan, lisan, pendengaran, dan seluruh perilaku agar tetap berada dalam koridor yang diridhai Allah SWT.
Ia mengingatkan agar umat Islam tidak menzalimi diri sendiri dengan menggunakan nikmat yang diberikan Allah untuk perbuatan maksiat.
"Jangan dzalimi telinga untuk mendengar yang tidak baik. Jangan dzalimi mata untuk melihat yang tidak baik. Semua anggota tubuh memiliki kehormatan yang harus dijaga," tuturnya.
Amalan Terbaik di Bulan Muharram
Selain menjadi bulan latihan meninggalkan maksiat, Muharram juga dikenal sebagai bulan yang sangat dianjurkan untuk memperbanyak puasa sunnah.
UAH mengutip hadis Rasulullah SAW ketika ditanya tentang puasa paling utama setelah Ramadan.
Nabi Muhammad SAW bersabda:
"Siamu syahrillahil Muharram."
Artinya, puasa yang paling utama setelah puasa Ramadan adalah puasa yang dilakukan pada bulan Allah, yaitu bulan Muharram.
Menurut UAH, puasa menjadi sarana terbaik untuk melatih diri karena di dalamnya terkumpul dua bentuk kebaikan sekaligus, yakni menjalankan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan.
Orang yang berpuasa cenderung lebih mampu menjaga lisan, mengendalikan emosi, memperbanyak ibadah, serta lebih berhati-hati dalam bertindak.
Mulai dari Hal-Hal Kecil
UAH mengajak umat Islam agar tidak menunggu perubahan besar untuk berhijrah. Menurutnya, latihan memperbaiki diri bisa dimulai dari hal-hal sederhana.
Misalnya, selama beberapa hari berkomitmen menjaga pandangan dari hal-hal yang diharamkan.
Setelah itu melatih lisan agar terhindar dari gibah, fitnah, dan perkataan yang menyakiti orang lain.
Jika dilakukan secara bertahap dan konsisten, maka Muharram benar-benar menjadi bulan pembentukan karakter menuju pribadi muslim yang lebih baik.
"Gunakan bulan ini untuk melatih diri menjadi lebih baik. Kalau latihannya benar, insya Allah kita akan berubah menjadi orang yang lebih baik," ujarnya. (gwn)
Load more