Teks Khutbah Jumat 23 Oktober 2026 Tema Hari Santri: Pentingnya Ilmu Agama
- Ilustrasi AI/ChatGPT
tvOnenews.com - Hari Santri Nasional diperingati setiap 22 Oktober. Momentum ini dapat menjadi pengingat bagi umat Islam tentang pentingnya menuntut ilmu agama sebagai bekal menjalani kehidupan, memperkuat keimanan, dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT.
Dalam khutbah Jumat pada 23 Oktober 2026, tema pentingnya ilmu agama dapat diangkat untuk mengajak jemaah memahami kedudukan ilmu dalam Islam.
Al-Quran dan hadis menjelaskan bahwa ilmu memiliki keutamaan besar, terutama ilmu yang membimbing seorang muslim untuk mengenal Allah, menjalankan ibadah dengan benar, serta mengamalkan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari.
Berikut teks khutbah Jumat tentang pentingnya ilmu agama yang dapat dijadikan referensi bagi khatib.
Khutbah Pertama
الحمدُ للهِ الَّذِي علَّمَ بالقلمِ، علَّمَ الإنسانَ مَا لَمْ يعلَمْ، والصَّلاةُ والسَّلامُ علَى مُعلِّمِ الناسِ الخيرَ نبيِّنًا محمدٍ، بعثَهُ اللهُ ﴿رَسُولًا يَتْلُو عَلَيْكُمْ آيَاتِ اللَّهِ مُبَيِّنَاتٍ لِيُخْرِجَ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ﴾ اللهُمَّ صَلِّ وسلِّمْ وبارِكْ عليهِ تسليمًا كثيرًا.
وَأشهدُ أن لَّا إلهَ إلَّا اللهُ وحدهُ لَا شريكَ لهُ وأشهدُ أنَّ محمدًا عبدُه ورسولُه، ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ﴾ … أمَّا بعدُ:
Ibadallah,
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Ta'ala dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
Khatib berwasiat kepada diri sendiri dan seluruh jemaah agar terus menjaga ketakwaan, sebab ketakwaan merupakan bekal penting untuk meraih kebahagiaan dan keberhasilan, baik di dunia maupun di akhirat.
Kaum muslimin rahimakumullah,
Salah satu nikmat besar yang Allah berikan kepada manusia adalah petunjuk melalui wahyu. Sebelum Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus, manusia hidup dalam masa jahiliah, ketika banyak di antara mereka tidak mengenal Allah dan tidak memahami ajaran Islam. Kemudian, Allah menerangi kehidupan manusia melalui wahyu yang dibawa oleh Rasul-Nya.
Allah Ta'ala berfirman,
هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمْ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلالٍ مُبِينٍ
“Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” [QS. Al-Jumu’ah: 2]
Ayat tersebut menjelaskan bahwa Rasulullah diutus untuk membacakan ayat-ayat Allah, menyucikan jiwa manusia, serta mengajarkan Kitab dan Hikmah. Dengan demikian, ilmu agama memiliki peran penting dalam membimbing manusia keluar dari kesesatan menuju jalan yang diridai Allah.
Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Iyadh bin Himar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وَإِنَّ اللهَ نَظَرَ إِلَى أَهْلِ الْأَرْضِ، فَمَقَتَهُمْ عَرَبَهُمْ وَعَجَمَهُمْ، إِلَّا بَقَايَا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ
“Sesungguhnya Allah melihat penduduk bumi. Lalu Allah murka kepada mereka semua, yang arab maupun non-arab, selain beberapa orang di kalangan ahli kitab.. [HR. Muslim].
Kaum muslimin rahimakumullah,
Wahyu yang menjadi sumber utama ilmu syar'i adalah Al-Quran dan sunah. Keduanya menjadi pedoman bagi umat Islam dalam memahami kebenaran dan menjalani kehidupan sesuai petunjuk Allah.
Allah Ta'ala berfirman,
وَلَئِنْ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَكَ مِنْ الْعِلْمِ إِنَّكَ إِذًا لَمِنَ الظَّالِمِينَ
“Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah datang ilmu kepadamu, sesungguhnya kamu — kalau begitu — termasuk golongan orang-orang yang zalim.” [Quran Al-Baqarah: 145].
Pentingnya ilmu juga terlihat dari perintah Allah kepada Nabi-Nya untuk memohon tambahan ilmu. Di antara banyak hal yang dapat diminta manusia, Allah secara khusus mengajarkan doa agar ilmu terus bertambah.
Allah Ta'ala berfirman,
وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا
“Dan katakanlah: “Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan”. [Quran Thaha: 114].
Hal ini menunjukkan betapa tingginya kedudukan ilmu dalam Islam. Ilmu tidak sekadar menambah pengetahuan, tetapi juga membimbing manusia untuk mengenal kebesaran Allah dan meningkatkan ketakwaan kepada-Nya.
Allah Ta'ala berfirman,
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.” [Quran Fathir: 28].
Ayat tersebut menerangkan bahwa ilmu yang benar akan mengantarkan seseorang pada kesadaran tentang kebesaran Allah. Semakin seseorang memahami ajaran agama, semakin besar pula kesadarannya untuk menaati perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.
Kedudukan orang berilmu juga ditegaskan melalui firman Allah Ta'ala,
قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لا يَعْلَمُونَ
Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” [Quran Az-Zumar: 9]
Perbandingan tersebut mengingatkan kita bahwa orang yang memiliki ilmu tidak sama dengan orang yang tidak mengetahuinya. Hal ini sejalan dengan firman Allah Ta'ala,
لا يَسْتَوِي أَصْحَابُ النَّارِ وَأَصْحَابُ الْجَنَّةِ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمْ الْفَائِزُونَ
“Tidaklah sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni jannah; penghuni-penghuni jannah itulah orang-orang yang beruntung.” [Quran Al-Hasyr: 20].
Al-Qur'an juga menunjukkan bagaimana ilmu memberikan nilai pada suatu kemampuan. Dalam urusan berburu, misalnya, terdapat perbedaan antara hewan yang telah dilatih dan hewan yang tidak terlatih.
Allah Ta'ala berfirman,
وَمَا عَلَّمْتُمْ مِنْ الْجَوَارِحِ مُكَلِّبِينَ تُعَلِّمُونَهُنَّ مِمَّا عَلَّمَكُمْ اللَّهُ فَكُلُوا مِمَّا أَمْسَكْنَ عَلَيْكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ
“Dihalalkan bagimu yang baik-baik dan (buruan yang ditangkap) oleh binatang buas yang telah kamu ajar dengan melatih nya untuk berburu; kamu mengajarnya menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu. Maka makanlah dari apa yang ditangkapnya untukmu, dan sebutlah nama Allah atas binatang buas itu (waktu melepaskannya).” [Quran Al-Maidah: 4]
Kaum muslimin rahimakumullah,
Banyak ayat Al-Quran dan hadis yang menerangkan keutamaan mempelajari ilmu agama. Salah satunya adalah hadis dari Muawiyah bin Abu Sufyan radhiallahu ‘anhuma. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ
“Siapa yang Allah kehendaki untuk mendapat kebaikan, maka Allah akan memahamkannya agama.” [Muttafaqun ‘alaih].
Hadis tersebut mengingatkan kita bahwa pemahaman agama merupakan salah satu bentuk kebaikan yang Allah kehendaki bagi hamba-Nya. Oleh sebab itu, seorang muslim hendaknya tidak berhenti belajar dan berusaha memahami ajaran Islam dengan benar.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menjelaskan keutamaan orang yang menempuh jalan untuk mencari ilmu. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, beliau bersabda,
وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا، سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
“Siapa yang menempuh satu jalan untuk mendapatkan ilmu, maka Allah akan mudahkan jalannya menuju surga.” [HR. Muslim].
Keutamaan menuntut ilmu juga tercermin dalam perkataan para ulama. Imam Adz-Dzahabi dalam kitabnya Siyar A’lam an-Nubala meriwayatkan perkataan Abu Musa al-Asy'ari radhiallahu ‘anhu,
لَمَجْلِسٌ أَجْلِسُهُ مِنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُودٍ أَوْثَقُ فِي نَفْسِى مِنْ عَمَلِ سَنَةٍ
“Suatu majelis yang aku duduk bersama Abdullah bin Mas’ud, sungguh lebih berpengaruh pada jiwaku dibanding amalan sunnah.”
Ibadallah,
Ketahuilah bahwa mempelajari ilmu agama memiliki kedudukan yang sangat utama. Dalam naskah ini, keutamaan tersebut dijelaskan lebih tinggi dibandingkan ibadah-ibadah sunah, seperti shalat sunah dan membaca Al-Quran.
Dari Abu Hurairah dan Abu Dzar radhiallahu ‘anhuma, keduanya berkata,
بابٌ مِنَ العلمِ يتعلَّمُهُ أَحَبُّ إِلينَا مِنْ أَلْفِ رَكْعَةِ تَطَوُّع
“Satu permasalahan tentang ilmu yang dipelajari, lebih kami sukai daripada 1000 rakaat shalat sunnah.”
Demikian pula perkataan seorang tabiin, Ibnu Syihab az-Zuhri,
مَا عُبِدَ اللهُ بمثلِ العلمِ
“Tidak ada ibadah kepada Allah yang selevel dengan ibadah belajar agama.”
Berbagai ayat, hadis, dan perkataan ulama tersebut menunjukkan keutamaan mempelajari ilmu agama. Penjelasan ini bukan berarti ilmu dunia, seperti ilmu teknik dan kedokteran, tidak penting. Ilmu-ilmu tersebut juga memiliki manfaat besar dan dibutuhkan manusia dalam kehidupan sehari-hari.
Namun, ilmu agama memiliki kedudukan tersendiri karena membimbing manusia untuk mengenal Allah, memahami tuntunan ibadah, serta menjalani kehidupan sesuai syariat-Nya. Karena itu, umat Islam hendaknya memberikan perhatian besar terhadap ilmu agama tanpa mengabaikan ilmu lain yang bermanfaat.
Semoga kita termasuk orang-orang yang senantiasa bersemangat menuntut ilmu, mengamalkannya, dan menjadikannya sebagai jalan untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah Ta'ala.
أَقولُ مَا قُلتُ، وأستغفِرُ اللهَ لي ولَكُمْ فاستغفروهُ إنَّهُ هوَ الغفورُ الرَّحيمُ.
Khutbah Kedua
الحمدُ للهِ الَّذِي أكمَلَ لنَا الدِّينَ، وأتمَّ علينَا النِّعمةَ، وجعلَ أمتنَا خيرَ أُمَّةٍ، وبعثَ فينَا رسولًا يتلوْ علينَا آياتَه ويُزكِّينَا ويُعلِّمُنَا الكتابَ والحِكمةَ … أمَّا بعدُ:
Ibadallah,
Kehidupan di dunia berlangsung singkat. Dalam waktu yang terbatas ini, manusia memiliki tujuan utama, yaitu beribadah kepada Allah semata. Karena itu, setiap muslim perlu memahami bagaimana menjalankan ibadah sesuai dengan petunjuk-Nya.
Allah Ta'ala berfirman,
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإِنسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُونِ
“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” [Quran Surat Adz-Dzariyat: 56].
Untuk menjalankan ibadah dengan benar, seorang muslim membutuhkan ilmu agama. Ilmu menjadi pedoman agar ibadah dilakukan sesuai tuntunan dan tidak hanya berdasarkan keinginan atau kebiasaan semata.
Oleh karena itu, ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan dalam mempelajari ilmu agama.
Pertama, memahami hukum mempelajari ilmu agama.
Ditinjau dari hukumnya, ilmu agama terbagi menjadi ilmu yang wajib dan ilmu yang sunah. Ilmu yang wajib mencakup pengetahuan yang harus dipelajari setiap muslim, seperti tauhid dan akidah tentang Allah Subhanahu wa Ta'ala, tata cara berwudu, mandi junub, syarat dan hal-hal yang membatalkannya, serta pengetahuan tentang syarat dan rukun salat.
Selain itu, terdapat ilmu yang wajib dipelajari sesuai dengan keadaan seseorang. Orang yang memiliki harta, misalnya, perlu mempelajari hukum-hukum zakat yang berkaitan dengan hartanya. Sementara itu, para pedagang perlu memahami fikih muamalah agar kegiatan transaksi mereka sesuai dengan ketentuan agama.
Adapun ilmu syar'i lainnya yang tidak termasuk kewajiban tersebut memiliki hukum sunah sebagaimana dijelaskan dalam naskah ini.
Kedua, belajar kepada ulama dan bertanya kepada orang yang berilmu.
Dalam mempelajari agama, terdapat orang-orang yang mendalami ilmu dengan mempelajari dalil-dalilnya. Mereka hendaknya belajar kepada ulama yang tepercaya agar memperoleh pemahaman yang benar.
Di sisi lain, sebagian besar masyarakat merupakan orang awam yang belum mendalami ilmu agama secara khusus. Mereka dapat mempelajari agama dengan bertanya dan meminta penjelasan kepada orang-orang yang memiliki ilmu.
Allah Ta'ala berfirman,
فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ
“Bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” [Quran An-Nahl: 43].
Ayat tersebut menjadi pengingat agar umat Islam tidak malu bertanya ketika belum memahami suatu persoalan agama. Apabila seseorang juga memahami dalil yang menjadi dasar suatu penjelasan, tentu pemahamannya akan menjadi lebih sempurna.
Ketiga, memanfaatkan berbagai kesempatan untuk menuntut ilmu.
Keutamaan menuntut ilmu tidak hanya dapat diperoleh oleh orang-orang yang secara khusus mendalami ilmu agama. Masyarakat umum juga memiliki kesempatan yang sama untuk belajar dan memperoleh manfaat dari ilmu yang dipelajari.
Menuntut ilmu dapat dilakukan dengan menghadiri majelis ilmu, mengikuti pengajian, mendengarkan kajian melalui sarana modern seperti YouTube, maupun membaca buku-buku yang bermanfaat.
Dengan memanfaatkan berbagai sarana tersebut, setiap muslim dapat terus memperluas pemahaman agama sesuai dengan kemampuan dan kesempatan yang dimiliki.
Keempat, menyebarkan ilmu agama di lingkungan keluarga.
Ilmu yang telah dipelajari hendaknya tidak berhenti pada diri sendiri. Setiap muslim perlu berusaha mengenalkan dan mengajarkan ajaran agama kepada keluarga, terutama istri dan anak-anak, serta saudara dan kerabat.
Bagi mereka yang memiliki pemahaman agama lebih mendalam, ilmu tersebut dapat dibagikan melalui pengajaran yang baik. Materi yang diajarkan dapat mencakup tauhid, fikih, adab, dan berbagai dasar agama yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan demikian, rumah dapat menjadi tempat tumbuhnya kebiasaan belajar agama dan mengamalkan nilai-nilai Islam. Kelima, membuat jadwal belajar agama bersama keluarga.
Agar kegiatan belajar berjalan secara konsisten, setiap muslim dapat menyusun program sederhana untuk dirinya sendiri dan anggota keluarga. Program tersebut bisa berupa jadwal mempelajari ilmu-ilmu dasar agama, menghafal doa, serta membiasakan zikir harian.
Perhatian khusus dapat diberikan pada doa dan zikir pagi dan petang, termasuk zikir setelah salat. Kegiatan tersebut dapat dilakukan secara bertahap sesuai dengan kemampuan masing-masing anggota keluarga.
Melalui kebiasaan yang teratur, diharapkan ilmu agama tidak hanya dipelajari, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Saudaraku kaum muslimin,
Marilah kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala agar diberikan taufik dan kemudahan untuk mempelajari ilmu agama, mengamalkannya, serta mengajarkannya kepada keluarga, kerabat, dan orang-orang yang berada dalam tanggungan kita.
Semoga Allah menjadikan kita sebagai hamba-Nya yang mencintai ilmu, menjaga ketakwaan, dan senantiasa berusaha menjalankan ajaran Islam dengan benar.
هَذَا، وَصَلُّوا وَسَلِّمُوا عَلَى نَبِيِّكُم كَمَا أَمَرَكُمْ بِذَلِكَ رَبُّكُمْ، فَقَالَ: ﴿إِنَّ اللهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾ [الأحزاب: ، وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاةً وَاحِدَةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا» [رَوَاهُ مُسْلِم].
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ . وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الأَئِمَّةِ المَهْدِيِيْنَ أَبِيْ بَكْرِ الصِّدِّيْقِ ، وَعُمَرَ الفَارُوْقِ ، وَعُثْمَانَ ذِيْ النُوْرَيْنِ، وَأَبِي الحَسَنَيْنِ عَلِي، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنِ التَابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِمَنِّكَ وَكَرَمِكَ وَإِحْسَانِكَ يَا أَكْرَمَ الأَكْرَمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ ، اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ ، اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ ، وَأَذِلَّ الشِرْكَ وَالمُشْرِكِيْنَ ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنَ ، وَاحْمِ حَوْزَةَ الدِّيْنِ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ ، اَللَّهُمَّ آمِنَّا فِي أَوْطَانِنَا وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةَ أُمُوْرِنَا وَاجْعَلْ وِلَايَتَنَا فِيْمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ وَاتَّبَعَ رِضَاكَ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ ، اَللَّهُمَّ وَفِّقْ وَلِيَ أَمْرِنَا لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى وَأَعِنْهُ عَلَى البِرِّ وَالتَقْوَى وَسَدِدْهُ فِي أَقْوَالِهِ وَأَعْمَالِهِ يَا ذَا الجَلَالِ وَالإِكْرَامِ ، اَللَّهُمَّ وَفِّقْ جَمِيْعَ وُلَاةَ أَمْرِ المُسْلِمِيْنَ لِلْعَمَلِ بِكِتَابِكَ وَاتِّبَاعِ سُنَّةَ نَبِيِّكَ صلى الله عليه وسلم ، وَاجْعَلْهُمْ رَأْفَةً عَلَى عِبَادِكَ المُؤْمِنِيْنَ
عِبَادَ اللهِ : اُذْكُرُوْا اللهَ يَذْكُرْكُمْ ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ .
(gwn)
Load more