Red Sparks Akhirnya Bangkit! Tanpa Megatron, Rekor 11 Kekalahan Beruntun Dipatahkan Usai Bungkam Pink Spiders
- Instagram Red Sparks
tvOnenews.com - Akhirnya, penantian panjang itu berakhir. Setelah terpuruk dalam bayang-bayang 11 kekalahan beruntun, Daejeon JungKwanJang Red Sparks sukses memutus rantai kelam tersebut dengan kemenangan meyakinkan.
Ironisnya, momen kebangkitan itu datang saat mereka sudah tak lagi diperkuat Megawati Hangestri Pertiwi, sosok yang dulu menjadi mesin poin sekaligus simbol perlawanan tim asal Daejeon tersebut.
Bermain di hadapan publik sendiri di Chungmu Gymnasium, Minggu (22/2/2026), Red Sparks menundukkan Incheon Heungkuk Life Insurance Pink Spiders dengan skor 3-1 (25-16, 23-25, 25-23, 25-21).
Kemenangan ini memang belum mengangkat posisi mereka dari dasar klasemen Liga Voli Korea 2025–2026, tetapi secara mental, hasil tersebut terasa seperti trofi juara setelah melewati periode paling melelahkan musim ini.
Akhir Penantian Panjang dan Air Mata Kelegaan
Sejak ditinggal Megawati kembali ke Indonesia dan dihantam badai cedera pemain inti, performa Red Sparks merosot tajam.
Kekalahan demi kekalahan bukan hanya menggerus angka di klasemen, tetapi juga mengikis rasa percaya diri tim. Tekanan publik dan ekspektasi tinggi membuat situasi semakin berat.
Karena itu, kemenangan atas Pink Spiders menjadi titik balik emosional. Begitu poin terakhir tercipta, Nohran tak mampu menyembunyikan perasaannya.

- Instagram Red Sparks
Ia menunduk, menutup wajahnya, lalu menangis di tengah lapangan, sebuah luapan emosi yang mencerminkan beban panjang yang akhirnya terlepas.
Red Sparks membuka laga dengan agresivitas berbeda. Servis lebih menekan, pertahanan disiplin, dan transisi serangan berjalan efektif.
Set pertama ditutup 25-16, seolah menjadi deklarasi bahwa mereka tak ingin lagi mengulang cerita pahit.
Meski Pink Spiders mencuri set kedua 25-23, Red Sparks tetap tenang. Set ketiga menjadi ujian mental sesungguhnya lewat reli panjang dan selisih tipis.
Mereka menang 25-23 berkat keputusan yang lebih presisi di poin krusial. Momentum itu dijaga hingga set keempat ditutup 25-21.
Park Yeo-reum dan Elisa Zanette Jadi Pembeda
Dalam laga ini, Elisa Zanette tampil sebagai pencetak angka terbanyak dengan 29 poin. Ia mendapat dukungan solid dari Park Yeo-reum yang menyumbang 20 poin serta Park Hye-min dengan 15 poin.
Penampilan Park Yeo-reum layak mendapat sorotan khusus. Sering memulai laga dari bangku cadangan musim ini, ia justru menjadi “penyelamat” dengan kontribusi komplet: 20 poin, dua blok, 17 penyelamatan, serta lima penerimaan sukses.
Pemain bernomor punggung 23 itu mencatat efektivitas serangan 40,9 persen, angka impresif di tengah tekanan besar.
Kemenangan ini bukan semata soal teknis, tetapi juga tentang redistribusi tanggung jawab. Tanpa Megawati sebagai tumpuan utama, Red Sparks perlahan belajar membagi beban dan menemukan identitas baru.
Di sisi lawan, kekalahan ini menjadi pukulan bagi Pink Spiders yang gagal mendekati posisi dua besar.
Tim yang pernah diperkuat ratu voli Korea, Kim Yeon-koung, tertahan di peringkat ketiga dengan 53 poin.
Mereka gagal menempel pemuncak klasemen Korea Expressway Corporation Hi-Pass (59 poin) dan Hyundai Engineering & Construction Hillstate (56 poin).

- Instagram Red Sparks
Kemenangan atas Pink Spiders terasa simbolis jika menengok masa lalu. Saat masih diperkuat Megatron, Red Sparks kerap menjadikan laga kontra Pink Spiders sebagai panggung pembuktian.
Mega beberapa kali tampil eksplosif saat menghadapi tim papan atas tersebut, menjadikan duel ini sarat gengsi.
Kini, tanpa Megatron, Red Sparks membuktikan bahwa mereka masih mampu menumbangkan rival beratnya.
Bedanya, jika dulu kemenangan identik dengan ledakan poin Megawati, kali ini kemenangan lahir dari kolektivitas.
Rekor buruk 11 kekalahan memang belum sepenuhnya terhapus dari memori. Namun, malam di Chungmu Gymnasium itu memberi pesan tegas: Red Sparks belum habis.
Dan mungkin, inilah awal cerita kebangkitan baru, tanpa Megatron, tetapi dengan semangat yang tak kalah membara. (udn)
Load more