Gianni Infantino Menggantang Harapan
- REUTERS/Amanda Perobelli
Jakarata, tvOnenews – Presiden Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) Gianni Infantino kembali menegaskan niatnya untuk mencalonkan diri dalam Pemilihan Presiden atau Pilpres FIFA periode 2027-2031 yang digelar di Rabat, Maroko.
Namun, langkah pria asal Swiss-Italia ini tidak berjalan mulus karena dibayangi gelombang penolakan dan serangkaian skandal yang memicu krisis kepemimpinan terbesar sepanjang masa jabatannya.
Tekanan paling berat yang dialami Gianni Infantino memuncak setelah gagalnya proyek FIFA Forward Enterprise (FFE)—skema komersialisasi yang dirancang untuk menjual saham minoritas hak komersial Piala Dunia kepada investor swasta.
Tiga konfederasi sepak bola paling berpengaruh di dunia, yakni Asian Football Confederation (AFC), CONCACAF (Amerika Tengah Utara dan Karibia), serta UEFA (Eropa), merilis surat terbuka bersama bertajuk "Open Letter to the Football Family".
Surat terbuka yang ditandatangani oleh para pimpinan tertinggi ketiga konfederasi tersebut menyampaikan kritik mendalam terhadap kepemimpinan FIFA. Surat itu dikeluarkan pada Senin, 10 Agustus 2026.
Dalam pembuka suratnya, AFC, CONCACAF, dan UEFA menegaskan kembali bahwa sepak bola adalah hasrat terbesar milik bersama yang tidak dimiliki oleh individu maupun satu institusi mana pun.
Ketiga konfederasi mengingatkan bahwa kemajuan pesat sepak bola global selama sedekade terakhir, dari perluasan format turnamen, penetapan tuan rumah Piala Dunia 2030 dan 2034, hingga distribusi dana merupakan hasil kerja keras kolektif seluruh anggota keluarga sepak bola, bukan pencapaian tunggal seorang individu.
"Sepak bola adalah milik para pemain, fans, klub, asosiasi anggota, dan setiap institusi yang dipercaya menjaga masa depannya," ungkap AFC, CONCACAF dan UEFA, dalam pernyataan bersamanya.
AFC, CONCACAF, dan UEFA juga mengklarifikasi bahwa langkah keras mereka sama sekali bukan dipicu oleh urusan pembagian dana atau kekhawatiran kehilangan dukungan maupun jatah Piala Dunia, melainkan murni demi integritas olahraga.
Kritik paling tajam dalam surat tersebut mengarah pada respons FIFA baru-baru ini atas polemik rencana privatisasi atau penjualan porsi kepentingan komersial Piala Dunia.
FIFA sebelumnya berupaya meredam gejolak dengan menganggap dinamika yang terjadi sekadar "kegagalan komunikasi".
Load more