Bareskrim Polri kembali layangkan panggilan terhadap sejumlah saksi terkait kasus dugaan TPPU dan penyalahgunaan dana BOS Ponpes Al-Zaytun, Panji Gumilang.Â
Di tengah kasus penistaan agama yang dijalani oleh pimpinan Ponpes Al-Zaytun Panji Gumilang, salah satu mantan anggota NII mengungkapkan modus Al-Zaytun.
Inspektorat Jenderal (Itjen) Kementerian Agama (Kemenag) RI saat ini tengah melakukan investigasi terkait penggunaan dana bantuan operasional sekolah (BOS) dan pengelolaan zakat di Pondok Pesantren Al Zaytun.
Ken Setiawan mengungkapkan cara Al-Zaytun dan Panji Gumilang cari duit untuk bangun peradaban Negara Islam Indonesia (NII) berikut ini. Bahkan rela gunakan cara-cara tak wajar
Penyidik Dittipidum Bareskrim Polri telah melakukan pemeriksaan terhadap 30 saksi, 20 saksi ahli dan penyidik telah menerima hasil dari Puslabfor terkait kasus penistaan agama yang melibatkan pengasuh Pondok Pesantren Panji Gumilang. Â Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menyebut polisi harus cermat.
Permasalahan Pondok Pesantren Al Zaytun atau Ponpes Al Zaytun hingga kini masih terus menyita perhatian publik. Belakangan sang pimpinan, Panji Gumilang....
Polemik Ponpes Al Zaytun masih terus menyita perhatian publik. Belakangan pimpinannya Panji Gumilang menjadi sorotan lantaran mengaku siap untuk kembalikan dana
Panji Gumilang tetap santai menyikapi rekening miliknya diblokir dan Dana BOS Al Zaytun tak cair, ternyata ada pengusaha tajir melintir siap biayai Al Zaytun.
Panji Gumilang menyampaikan bahwa Dana BOS untuk Al Zaytun tahun ini tidak akan cair, meski begitu, Panji Gumilang mengaku tak sedih dan malah merasa bahagia.
Bareskrim Polri terus mendalami dugaan kasus tindak pidana pencucian uang (TPPU) yang menyeret pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Zaytun, Panji Gumilang.
Fakta-fakta memilukan kelas IV anak SD di Nusa Tenggara Timur (NTT) bunuh diri karena tak mampu membeli buku dan pena seharga Rp10 ribu akhirnya terungkap. Dia mengakhiri hidup di pohon cengkeh.
Merespons hal tersebut, Hetifah menegaskan negara harus memberikan perhatian serius untuk peristiwa tersebut. Ia menilai tak ada negara manapun yang bisa menerima peristiwa tragis tersebut.
Kabar anak SD, YBS (10) bunuh diri di Ngada, NTT, Kamis (29/1/2026), viral. Isi pesan di surat wasiat pada ibunya diduga menjadi penyebab gantung diri heboh.
Ditulis pakai bahasa Bajawa, anak kelas IV SD di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) berpesan agar sang ibu untuk tak mencarinya.
Puluhan pedagang Pasar Sambas berunjuk rasa menolak penggusuran lahan di Pasar Sambas, Kota Medan, yang akan dieksekusi juru sita Pengadilan Negeri (PN) Medan,
Begini isi surat memilukan yang ditulis bocah SD di NTT yang nekat bunuh diri karena tak mampu membeli buku dan pena. Surat tersebut ditujukan untuk ibunya.