- Istimewa
Arief Rahman Hakim
“Tiga anak kecil,
dalam langkah malu-malu,
datang ke Salemba.
Sore itu,
ini dari kami bertiga,
pita hitam pada karangan bunga,
sebab kami turut berduka,
bagi kakak yang ditembak mati,
siang tadi.”
APA peristiwa yang biasanya diperingati dan dirayakan di bulan Februari? Banyak orang mungkin dengan mudah akan menyebut Valentine Day atau Hari Kasih Sayang yang biasanya dirayakan di 14 Februari. Tapi saya yakin sangat sedikit dari kita yang paham ada tokoh martir, syuhada penting perubahan politik yang lahir dan gugur di hari yang sama, 24 Februari, yakni Arief Rahman Hakim (ARH).
Arief ditahbiskan sebagai Pahlawan Ampera atau Amanat Penderitaan Rakyat karena jadi bagian dari gelora perjuangan rakyat mengakhiri kepengapan politik pada periode 1960-an. Siapa yang menembak mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini hingga kini masih misteri.
Yang jelas, gugurnya putra Padang ini justru makin meningkatkan eskalasi unjuk rasa. Pada Jumat Berdarah itu, iring-iringan yang mengantar jenazah ARH mengular dari pemakaman umum Blok P di Kebayoran Baru ekornya masih di Salemba, Jakarta Pusat. Jaket kuning ARH diarak demonstrans di depan Istana Negara. Sejak itu posisi Presiden Soekarno semakin terjepit.
Saya mengenali perjuangan mahasiswa Angkatan 1966 justru dari sastra Indonesia. Puisi Taufik Ismail jadi cara terbaik untuk merasakan degup perjuangan dan kedekatan semangat yang digelorakan oleh Arief Rahman Hakim dkk, dengan rakyat. Selain puisi yang membuka essay ini, salah satu puisi lain yang membekas bagi saya karena pernah saya deklamasikan di muka kelas adalah puisi Seorang Tukang Rambutan pada Istrinya.
Puisi berkisah tentang keharuan Tukang Rambutan pada perjuangan mahasiswa yang berteriak di jalanan, mengecam gaya hidup mewah pejabat negara, memprotes harga harga yang melambung tinggi, dan ekonomi yang seret.
Tukang Rambutan bercerita pada istrinya betapa tersentuh dengan perjuangan ARH dan kawan kawannya yang disebut “Mereka kehausan dalam panas bukan main Terbakar muka di atas truk terbuka”.
Rasa haru yang memancing Tukang Rambutan untuk melemparkan sejumlah dagangannya ke mobil bak terbuka yang mengangkut para mahasiswa ke Istana. “Mereka berteriak-teriak kegirangan dan berebutan. Seperti anak-anak kecil “’Hidup tukang rambutan! Hidup tukang rambutan!
Dan menyoraki saya. Betul bu, menyoraki saya”.