- Istimewa
Peneliti Ini Ungkap Sudut Pandang Berbeda Polemik Pernyataan Saiful Mujani
Jakarta, tvOnenews.com - Peneliti lembaga Constra, Revan Fauzano menyorot mengenai prinsip demokrasi berupa hak untuk kritik berlatarbelakang polemik pernyataan Saiful Mujani.
“Kita sedang menyaksikan perubahan berbahaya, kritik tidak lagi dianggap sah sebagai bagian dari demokrasi, tetapi diperlakukan sebagai ancaman yang harus dilumpuhkan. Data tidak dilawan dengan data, melainkan dengan kecurigaan. Argumen tidak dibalas dengan argumen, tetapi dengan delegitimasi personal," katanya, Jakarta, Senin (20/4/2026).
“Ini bukan sekadar gejala polarisasi. Ini adalah bentuk kemunduran politik yang lebih dalam, di mana kekuasaan, atau bahkan sekadar kedekatan dengan kekuasaan, menuntut imunitas dari kritik.
Dalam situasi seperti ini, demokrasi perlahan berubah menjadi panggung yang absurd. Semua orang boleh bicara, tetapi hanya sejauh tidak mengganggu narasi dominan," sambungnya.
Revan menuturkan kebebasan tetap ada secara formal tetapi secara sosial dipersempit hingga nyaris tak bermakna.
Menurut Revan yang lebih berbahaya dari kondisi ini adalah menciptakan budaya takut.
“Peneliti, akademisi, dan analis mulai menimbang bukan lagi ‘apa yang benar’, tetapi ‘apa yang aman untuk dikatakan’. Ini adalah titik di mana demokrasi mulai kehilangan jiwanya, bukan karena dibungkam secara paksa, tetapi karena dikosongkan dari keberanian," tukas Revan.
Revan menganalisa saat ini perbedaan pendapat dianggap pengkhianatan bukan keniscayaan.
Menurutnya pemerintah sudah semestinya berjalan dengan banyak kritik sebagai penyeimbangnya.
“Ini adalah fondasi yang rapuh untuk masa depan. Demokrasi yang sehat membutuhkan konflik gagasan. Tanpa itu, yang tersisa hanyalah keseragaman yang dipaksakan, dan keseragaman adalah musuh utama kebebasan. Pertanyaan yang seharusnya kita ajukan bukan lagi apakah sebuah survei akurat atau tidak. Lebih jauh, fenomena ini mencerminkan krisis epistemik dalam demokrasi, yang menghasilkan situasi di mana masyarakat kehilangan pijakan bersama tentang apa yang dapat dipercaya," ungkapnya.
Revan menekankan ketika survei riset, dan analisis tidak lagi dianggap sebagai referensi bersama maka ruang publik kehilangan fondasi rasionalnya.
Ia mengatakan yang tersisa hanyalah opini yang saling berbenturan tanpa mekanisme koreksi.
Ia menilai demokrasi berpotensi bergeser dari sistem lyang berbasis deliberasi menjadi sistem yang berbasis dominasi persepsi.