- Kemenag
Perkuat Kelembagaan Pesantren, Kemenag Jadikan Spirit Kiai Wahab Hasbullah sebagai Sumber Inspirasi
Sementara itu, perwakilan keluarga besar KH. Wahab Hasbullah, Ita Rahmawati, menyebut Kiai Wahab sebagai “arsitek dialektika moderasi” yang mampu memadukan nilai agama dan kebangsaan dalam perjuangannya.
“Kiai Wahab mengajarkan bahwa moderasi bukan berarti kehilangan pendirian, tetapi kemampuan menempatkan kebenaran di tengah berbagai ekstremitas,” ujarnya.
Ia menjelaskan buku tersebut membahas kepemimpinan Kiai Wahab melalui pendekatan The Mastermind of Movement, yang menggambarkan kemampuannya membangun gerakan sosial dan keagamaan secara inklusif, strategis, serta visioner.
Kiai Wahab Hasbullah dikenal sebagai salah satu tokoh utama di balik berdirinya Nahdlatul Ulama pada 1926 bersama KH. Hasyim Asy'ari. Ia juga memiliki peran besar dalam perjuangan Komite Hijaz dan menggagas gerakan intelektual serta kebangsaan seperti Taswirul Afkar dan Nahdlatul Wathan.
Rektor UIN Jurai Siwo Lampung, Ida Umami, mengatakan kegiatan tersebut menjadi momentum penting untuk menghadirkan kembali semangat perjuangan ulama pesantren dalam membangun Indonesia.
“Bedah buku ini bukan sekadar membaca sejarah tokoh, tetapi memahami bagaimana pemikiran Kiai Wahab Hasbullah menjadi fondasi moderasi, pendidikan, dan kecintaan terhadap NKRI. Spirit itulah yang penting diwariskan kepada generasi muda,” ujar Ida.
Kegiatan bedah buku menghadirkan tiga narasumber, yakni Drs. KH. Abdul Mun'im DZ selaku penulis buku KH. Abdul Wahab Hasbullah, Ela Siti Nuryamah (Bupati Lampung Timur), serta Ahmad Ishomuddin (Akademisi dan Tokoh NU Lampung).
Sekitar 1.500 peserta dari kalangan pesantren, akademisi, mahasiswa, organisasi keagamaan, dan pemerintah daerah turut hadir dalam forum tersebut.
Acara juga diwarnai penguatan komitmen bersama melalui kampanye “Pesantren Stop Kekerasan” guna menciptakan lingkungan pendidikan pesantren yang aman, inklusif, dan humanis. (rpi)