news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Suasana dalam masjid..
Sumber :
  • Istimewa

Membedah Spiritualitas Kurban: Meneladani Hati yang Bersih dari Kisah Nabi Ibrahim

Perayaan Iduladha setiap tahunnya bukan sekadar seremoni pembagian konsumsi daging, melainkan momentum bagi umat Muslim untuk merenungi kembali makna kepasrahan agung keluarga Nabi Ibrahim AS.
Jumat, 29 Mei 2026 - 22:06 WIB
Reporter:
Editor :

Jakarta, tvOnenews.com - Perayaan Iduladha setiap tahunnya bukan sekadar seremoni pembagian konsumsi daging, melainkan momentum bagi umat Muslim untuk merenungi kembali makna kepasrahan agung keluarga Nabi Ibrahim AS. 

Suherman, seorang praktisi pendidikan agama Islam, menjelaskan bahwa ibadah kurban sejatinya merupakan simbolisasi dari konsep "tadhiah" atau pengorbanan tingkat tertinggi. 

Nilai ini berakar dari kondisi spiritualitas yang bersih, yang di dalam Al-Qur'an diistilahkan sebagai "qolbun salim".

Dalam perspektif sosial, tadhiah merupakan puncak dari etika berbagi di mana seseorang bersedia melepas hal yang paling dicintai demi meraih keridaan Allah SWT. 

Ibadah ini menjadi latihan konkret bagi umat untuk menyembuhkan diri dari keterikatan materi. 

"Penyakit psikologis-spiritual ini tidak bisa disembuhkan sekadar dengan narasi teori atau pengajian tekstual, melainkan harus diintervensi dengan tindakan nyata, melalui pemberian sebagian harta kepada mereka yang membutuhkan," ujar guru SMAN 21 Jakarta itu, dikutip Jumat (29/5).

Suherman menjelaskan, kisah Nabi Ibrahim juga memberikan pelajaran penting mengenai peran manusia sebagai "Agent of Change" di tengah lingkungan yang buruk. 

Meski hidup dalam peradaban yang korup, Ibrahim membuktikan bahwa hati yang bersih tidak akan terpengaruh oleh penyimpangan di sekitarnya. 

Karakteristik ini melahirkan keteguhan akidah yang luar biasa, membuat beliau tetap kokoh walau harus menghadapi ancaman pengusiran hingga hukuman dibakar di dalam panggung perapian.

Selain keteguhan iman, Ibrahim mencontohkan etika komunikasi dakwah yang santun dan logis meski dalam situasi tertekan. 

Saat argumennya dimentahkan dengan kekerasan oleh bapak asuhnya, beliau tetap menunjukkan manajemen emosi yang luar biasa. 

Terakhir, ketahanan keluarga Ibrahim AS dibangun di atas fondasi komunikasi yang dialogis, bukan otoritarianisme. 

Hal ini terlihat saat beliau melibatkan putranya, Ismail, dalam proses penerimaan wahyu dengan bertanya, "Fanzhur maza tara" (Bagaimana pendapatmu?). 

Respons Ismail yang tenang, "satajiduni insya-Allahu minas-shobirin", membuktikan bahwa pendidikan karakter yang matang di dalam rumah tangga mampu melahirkan pribadi yang kokoh secara spiritual, santun secara intelektual, dan peduli secara sosial. (dpi)

 

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

07:15
01:03
09:09
05:21
07:09
01:51

Viral