- Istimewa
Sosok Ini Siapkan Strategi Bawa UMKM Indonesia Menembus Pasar Dunia
Jakarta, tvOnenews.com - Melemahnya nilai tukar rupiah di tengah dinamika ekonomi global kembali menegaskan pentingnya peran ekspor sebagai penopang perekonomian nasional. Namun hingga saat ini, jumlah pelaku usaha Indonesia yang terlibat langsung dalam kegiatan ekspor masih tergolong rendah.
Berdasarkan data Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian pada 2025, kontribusi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) terhadap total ekspor nasional baru mencapai sekitar 15,7 persen. Angka tersebut dinilai belum sebanding dengan peran UMKM yang mendominasi struktur usaha nasional dan menyerap sebagian besar tenaga kerja di Indonesia.
Melihat kondisi tersebut, calon Ketua Umum Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi), Ade Jona Prasetyo, menyatakan komitmennya untuk mendorong peningkatan ekspor nasional. Ia berencana memperkuat peran Hipmi sebagai wadah kolaborasi pengusaha muda yang mampu bersaing di pasar global.
Jona meyakini generasi muda Indonesia memiliki kapasitas besar untuk mengambil peran penting dalam rantai pasok internasional. Menurutnya, sejumlah inovasi dalam negeri telah membuktikan bahwa Indonesia mampu bersaing dan menjadi pelopor di tingkat global.
Salah satu contoh yang disorot ialah penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) yang telah diterapkan di sembilan negara. Nilai transaksi melalui sistem pembayaran tersebut juga telah menembus angka Rp1.000 triliun secara kumulatif. Menurut Jona, pencapaian tersebut menunjukkan kemampuan Indonesia dalam menghadirkan inovasi yang diakui secara internasional.
Jona menilai keberhasilan QRIS menjadi bukti bahwa Indonesia mampu menghasilkan inovasi yang diterima di tingkat internasional.
"Ini membuktikan Indonesia mampu menjadi pionir di tingkat global. Kita harus bangga menggunakan QRIS," ujar Jona.
Ia berpendapat bahwa nilai tukar rupiah akan lebih stabil apabila kinerja ekspor terus meningkat. Oleh sebab itu, pelaku usaha perlu didorong agar mampu memperluas pasar hingga ke tingkat internasional. Jona optimistis upaya memperkuat daya saing pelaku usaha melalui Hipmi dapat berkontribusi terhadap stabilitas ekonomi nasional.
Salah satu fokus yang akan diperjuangkannya ialah mendorong UMKM naik kelas melalui program hilirisasi. Ia menjelaskan bahwa sektor UMKM menyumbang sekitar 61 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Dengan peningkatan kualitas produk dan kemampuan bersaing di pasar global, produk-produk Indonesia diyakini memiliki peluang besar untuk menembus pasar internasional.
Menurutnya, Indonesia tidak hanya berpotensi menjadi pasar bagi produk asing, tetapi juga mampu menjadi pemain utama dalam perdagangan global. Untuk mewujudkan hal tersebut, Jona menilai pelaku UMKM memerlukan dukungan permodalan yang lebih besar.
Karena itu, ia berencana memperjuangkan peningkatan plafon Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari Rp500 juta menjadi Rp2 miliar bagi pelaku usaha yang memiliki potensi berkembang. Selain akses pembiayaan, Jona juga mendorong keterlibatan pengusaha lokal dalam setiap investasi yang masuk ke Indonesia.
Jona juga mendorong keterlibatan pengusaha lokal dalam setiap investasi yang masuk ke Indonesia. "Bayangkan jika investasi itu bisa kita kapitalisasi melalui pengusaha muda di daerah. Hipmi bisa menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi mulai dari daerah hingga nasional," ujarnya.
Ia menilai Hipmi dapat berperan sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi dengan menjembatani kebutuhan investor dan potensi usaha lokal. Jona juga menegaskan bahwa setiap daerah memiliki sumber daya yang dapat dikembangkan menjadi produk bernilai tambah melalui hilirisasi.
Dengan pendampingan yang tepat, pelaku usaha daerah diyakini mampu meningkatkan kapasitas bisnis dan memperluas jangkauan pasar. Sebagai contoh, hasil perikanan dapat diolah menjadi produk makanan siap jual dengan nilai ekonomi lebih tinggi.
Begitu pula rumput laut yang dapat dikembangkan menjadi bahan baku untuk berbagai kebutuhan industri, mulai dari pangan hingga farmasi. Melalui langkah-langkah tersebut, Jona optimistis pelaku UMKM Indonesia dapat naik kelas dan tampil lebih kompetitif di pasar global.