news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Ilustrasi PBNU.
Sumber :
  • nu.or.id

Jelang Muktamar ke-35, Gus Lilur Minta Warga NU Buka Sejarah Sebelum Tentukan Rais Aam

PBNU bersiap menggelar kegiatan Muktamar ke-35 yang terjadwal pada 1--5 Agustus 2026 beragendakan diantaranya penetuan sosok pengisi jabatan Rais Aam.
Senin, 6 Juli 2026 - 22:55 WIB
Reporter:
Editor :

Jakarta, tvOnenews.com - PBNU bersiap menggelar kegiatan Muktamar ke-35 yang terjadwal pada 1--5 Agustus 2026 beragendakan diantaranya penetuan sosok pengisi jabatan Rais Aam. 

Merespons hal tersebut, warga Nahdlatul Ulama (NU) yakni HRM Khalilur R Abdullah Sahlawy alias Gus Lilur pun memberikan sejumlah usulan sebelum kegiatan akbar tersebut terlebih sosok yang akan menjadi Rais Aam.

Ia memaparkan NU sejak kelahirannya adalah jam'iyyah diniyyah yakni perkumpulan keagamaan yang menghimpun sebuah cara beragama yang telah hidup berabad-abad di Nusantara jauh sebelum organisasi itu sendiri berdiri.

Tokoh muda NU, HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy alias Gus Lilur
Sumber :
  • Istimewa

Ia menilai perspektif mendalam terkait pemilihan sosoknyang menduduki jabatan Rais Aam sangatlah dibutuhkan.

"Jika NU adalah cara beragama, maka pemimpin tertingginya bukanlah sekadar ketua sebuah perkumpulan. Ia adalah imam bagi sebuah tradisi keagamaan yang dianut puluhan juta orang," ungkap Gus Lilur kepada awak media, Senin (6/7/2026).

Gus Lilur memaparkan sejarah tiga ulama pendiri NU yang pernah mengisi jabatan Rais Aam hingga bermuara menjadi standar untuk ditekuni.

Tiga ulama tersebut yakni Hadratussyekh KH M. Hasyim Asy'ari sebagai Rais Akbar, KH Abdul Wahab Chasbullah sebagai Rais Aam kedua, dan KH Bisri Syansuri sebagai Rais Aam ketiga.

"Dari tiga serangkai itu, kita bisa menarik patokan tentang siapa yang layak menjadi Rais Aam. Patokan ini bukan rumusan saya; ia terbaca sendiri dari sejarah," katanya.

Ia menjelaskan ketiga tokoh ulama tersebut memiliki standar mutlak yang menjadi pemimpin bagi NU.

Ketiga standar mutlak tersebut yakni kedalaman ilmu agama diakui, karya yang jelas. kiprah yang jelas bagi umat dan bangsa, serta keteladanan. 

"Rais Aam, dengan demikian, ibarat imam shalat. Dalam fiqh yang diajarkan di seluruh pesantren NU, imam dipilih dari yang paling fasih bacaannya, paling dalam ilmunya, dan paling wara' perilakunya. Makmum berhak, bahkan wajib, menimbang siapa yang pantas berdiri di depan. Jika untuk mengimami shalat lima waktu saja standarnya setinggi itu, apatah lagi untuk mengimami cara beragama puluhan juta manusia," ungkapnya.

Gus Lilur memaparkan kesadaran akan tingginya maqam Rais Aam itulah melahirkan sistem ahlul halli wal 'aqdi (AHWA) yang pertama kali diterapkan pada Muktamar Ke-33 di Jombang (2015). 

Menurutnya dalam sistem ini Rais Aam tidak dipilih melalui pemungutan suara terbuka yang rawan transaksi melainkan melalui musyawarah mufakat sembilan ulama sepuh yang diusulkan oleh pengurus wilayah dan cabang se-Indonesia.

Anggaran Dasar NU menetapkan kriteria anggota AHWA secara ketat: berakidah Ahlussunnah wal Jamaah an-nahdliyah, bersikap adil, alim, memiliki integritas moral, tawadhu, berpengaruh, memiliki pengetahuan untuk memilih pemimpin yang munazhzhim (organisatoris) dan muharrik (penggerak), serta wara' dan zuhud.

Ia menekankan Muktamar ke-35 pada Agustus 2026 nanti kembali akan menggunakan sistem AHWA untuk memilih Rais Aam. 

Menurutnya di sinilah letak amanah yang akan menentukan wajah keulamaan NU lima tahun ke depan.

"Kepada para muktamirin, izinkan saya menyampaikan satu pesan sederhana dari lorong sejarah ukurlah setiap nama dengan patokan tiga pendiri. Tanyakanlah pada setiap kandidat, dengan jujur dan tanpa sungkan di mana kedalaman ilmunya, mana karyanya, mana kiprahnya, dan bagaimana keteladanannya. Bukan karena kita menuntut kesempurnaan, tak ada manusia yang sempurna, melainkan karena kursi itu memang didesain hanya untuk mereka yang paling mendekati patokan itu," pungkasnya.(raa)

 

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

06:59
05:06
06:58
06:06
08:26
04:17

Viral