- Papua Football Academy
Kisah Empat Talenta Muda Raih Mimpi Menembus Timnas U-17 Lewat Papua Football Academy
Bagi Melki, PFA mengubah banyak hal, baik yang bersifat taktik, kedisiplinan di lapangan, maupun kepribadian di luar lapangan. Posisinya sebagai bek kanan juga tak lepas dari arahan pelatih PFA, Ardiles Rumbiak.
Dolvi Salossa: Kedisiplinan Hidup dan Pengalaman Eropa
Cerita berbeda dikisahkan oleh Dolvi Salossa. Semuanya dimulai pada 2023 ketika keluarganya mendapat informasi mengenai seleksi PFA.
Saat itu ia hanya datang dengan harapan sederhana untuk mencoba kesempatan. Bersama PFA, putra dari legenda sepak bola Indonesia dan Persipura, Ortizan Salossa, mulai menjalani kehidupan baru sebagai calon pesepak bola profesional.
Jadwal latihan yang padat, pendidikan formal, pembinaan karakter, hingga aturan disiplin perlahan mengubah kebiasaannya. Hal utama yang berubah meliputi pengaturan pola makan, waktu istirahat, serta disiplin waktu tidur.
Berposisi sebagai penyerang, Dolvi dilirik sejak usia muda berkat prestasinya yang beragam, mulai dari top skor Barati Cup International U-14 2024, top skor Garuda International Cup U-15 2025, hingga pemain terbaik Piala Soeratin Nasional U-15 2025.
Pemanggilan timnas pun didapatkannya setelah Piala Soeratin U-15 tersebut. Salah satu pengalaman penting yang membentuk perkembangan Dolvi adalah program Elite Camp di Austria pada 12 Februari hingga 9 Maret 2026 bersama dua rekannya, Jupri Kogoya dan Yance Glen Imbiri.
Mereka menjalani latihan intensif di tiga klub Austria: FK Austria Wien, FAC Wien, dan First Vienna FC.
Pengidola Lionel Messi ini mengaku mendapat banyak pelajaran agar bermain lebih dewasa, seperti tahu kapan harus berakselerasi atau menembak, serta pentingnya tidak protes berlebihan kepada wasit.
Stenly Meyanu: Pemantauan Senyap dan Adaptasi Mental
Perjalanan Stenly Meyanu memiliki cerita tersendiri. Pemain asal Merauke itu sama sekali tidak mengetahui bahwa dirinya sedang diamati oleh pemandu bakat Timnas Indonesia setelah pertandingan di Piala Soeratin U-15.
“Setelah Piala Soeratin U-15, saya dipantau. Habis pertandingan saya diminta nama lengkap dan tinggi badan. Ternyata itu saya masuk dalam daftar pemain yang dipanggil mengikuti pemusatan latihan Timnas Indonesia U-17,” kenangnya.
Saat menghubungi orang tuanya, ia diingatkan untuk tidak cepat puas, tetap kerja keras, dan mengandalkan Tuhan. Sebagai seorang gelandang, Stenly memang sudah terbiasa menjadi penghubung permainan sejak pertama kali bermain sepak bola.