- Unsplash/Yannis H
Hari Anak Nasional dan Krisis Ruang Aman yang Belum Berakhir
Berbagai kasus tersebut memperlihatkan pola yang sama, yakni pelaku bukan orang asing, melainkan sosok yang selama ini dipercaya anak.
Fenomena itu memperkuat kekhawatiran bahwa krisis perlindungan anak tidak lagi hanya berkaitan dengan ancaman dari luar rumah. Justru ruang yang seharusnya menjadi benteng pertama perlindungan kini dalam banyak kasus berubah menjadi lokasi terjadinya kekerasan.
Fenomena Gunung Es
Data pemerintah menunjukkan persoalan tersebut masih jauh dari kata selesai. Kementerian PPPA melalui Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (SIMFONI PPA) mencatat sepanjang 2025 terdapat 35.025 perempuan dan anak menjadi korban kekerasan.
Pemerintah menegaskan angka tersebut hanyalah fenomena gunung es karena masih banyak korban yang memilih tidak melapor.
Sementara itu, data SIMFONI PPA per Juli 2025 menunjukkan terdapat 15.615 kasus kekerasan yang telah tercatat. Dari jumlah tersebut, kekerasan seksual menjadi bentuk kekerasan yang paling dominan dengan 6.999 kasus.
Mayoritas korban merupakan anak berusia 13 hingga 17 tahun, sedangkan lokasi kejadian paling banyak berada di lingkungan rumah tangga, yakni mencapai 9.956 kasus.
Data tersebut memperlihatkan ironi bahwa rumah, yang semestinya menjadi tempat paling aman bagi anak, justru menjadi lokasi yang paling sering muncul dalam laporan kekerasan.
Survei Pengalaman Hidup Perempuan Nasional (SPHPN) 2024 menunjukkan sekitar satu dari dua anak Indonesia pernah mengalami sedikitnya satu bentuk kekerasan sepanjang hidupnya.
Sementarai Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja (SNPHAR) 2024 menemukan satu dari empat perempuan usia 15 hingga 64 tahun pernah mengalami kekerasan fisik dan/atau seksual.
Besarnya kesenjangan antara angka prevalensi dan angka pelaporan menunjukkan masih kuatnya fenomena underreporting, ketika korban memilih diam karena berbagai alasan.
Menurut KemenPPPA, korban sering kali tidak melapor karena takut kepada pelaku, merasa malu, khawatir tidak dipercaya, takut merusak nama baik keluarga, atau bergantung secara ekonomi maupun emosional kepada pelaku.
Pada anak-anak, situasinya bahkan lebih kompleks karena banyak yang belum memahami bahwa perlakuan yang mereka alami merupakan bentuk kekerasan.
Rumah Tak Lagi Menjadi Tempat Paling Aman
Salah satu temuan yang paling mengkhawatirkan ialah lokasi terjadinya kekerasan. Data SIMFONI PPA menunjukkan sebagian besar kasus terjadi di ranah domestik atau rumah tangga.