- Tim tvOne
Rupiah Ditutup Menguat Rp17.642 per Dolar AS, Ini Prediksi Perdagangan Pekan Depan
Jakarta, tvOnenews.com - Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, nilai tukar rupiah ditutup menguat 37 poin terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (4/9/2026).
“Pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah ditutup menguat 37 poin sebelumnya sempat menguat 70 poin di level Rp17.642 dari penutupan sebelumnya di level Rp17.679,” ujarnya, saat dihubungi tvOnenews.com, Jumat (4/9/2026).
Sementara itu, Ibrahim memperkirakan rupiah pada perdagangan Senin (7/9/2026) akan bergerak fluktuatif dan berpotensi ditutup melemah.
“Sedangkan untuk perdagangan Senin depan, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp17.640-Rp17.690. sedangkan untuk sepekan depan di range Rp17.550-Rp17.850,” tegas dia.
Di tengah pergerakan rupiah yang masih fluktuatif, Ibrahim menyoroti persoalan yang lebih mendasar, yakni kondisi kelas menengah. Menurut dia, pemerintah selama ini telah mengalokasikan anggaran besar untuk membantu masyarakat yang membutuhkan, tetapi dukungan terhadap kelompok kelas menengah dinilai belum memadai.
“Pemerintah selama ini telah menggelontorkan anggaran besar untuk membantu masyarakat yang membutuhkan. Namun, kondisi berbeda dialami kelas menengah yang belum mendapatkan dukungan cukup,” kata Ibrahim.
Ia menilai salah satu persoalan utama yang dihadapi kelas menengah adalah penurunan pendapatan. Kelompok tersebut, menurut Ibrahim, tidak memperoleh subsidi seperti kelompok masyarakat penerima bantuan sehingga tekanan terhadap pendapatan mereka semakin terasa.
“Salah satu persoalan yang disorot pemerintah adalah penurunan pendapatan dari kelompok tersebut. Subsidi tersebut tidak didapatkan masyarakat kelas menengah sehingga pendapatan mereka turun,” ujarnya.
Karena itu, Ibrahim menilai penguatan kembali kelas menengah tidak cukup hanya melalui bantuan atau subsidi. Pemerintah perlu mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi agar menciptakan aktivitas produksi dan lapangan kerja formal secara lebih luas.
“Oleh karena itu salah satu cara untuk mengangkat kembali kondisi kelas menengah adalah mendorong pertumbuhan ekonomi lebih tinggi,” tutur Ibrahim.
Menurutnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang selama ini rata-rata masih berada di kisaran 5 persen belum cukup kuat untuk mendorong industrialisasi secara agresif. Kondisi tersebut juga membatasi kemampuan ekonomi dalam menciptakan lapangan kerja formal dalam jumlah besar.