- x FajarDawnVirgo
Sebelum Pergi, Fajar Sahrudin Tinggalkan Donasi Rp40 Juta untuk Mereka yang Membutuhkan
tvOnenews.com - Sebelum meninggal dunia pada September 2026, Fajar Sahrudin mengunggah bukti transaksi donasi kepada beberapa pihak. Jika seluruh nominal yang tercantum dalam unggahan tersebut dijumlahkan, nilainya mencapai Rp40 juta.
Donasi itu diberikan kepada organisasi yang bergerak di bidang perlindungan satwa serta kesehatan mental. Jejak tersebut kemudian menjadi bagian penting dari cerita Fajar karena menunjukkan kepedulian yang tetap ia berikan kepada pihak lain di tengah perjalanan hidup yang tidak mudah.
Fajar Tinggalkan Donasi Rp40 Juta
Dalam unggahan yang dibagikan melalui akun X miliknya, Fajar menyebut telah memberikan kontribusi terakhir kepada sejumlah organisasi yang selama ini memiliki perhatian terhadap berbagai persoalan sosial.
“Sebelum aku pergi, aku telah memberikan kontribusi terakhirku kepada @nathasatwanusantara @animalfriendsjogja @remisi_org @adopsikucingbdg_ semoga dengan kontribusi kecilku ini dapat memberikan kehidupan yang lebih baik bagi mereka yang membutuhkan,” tulis Fajar.
Berdasarkan bukti transaksi yang ia unggah, terdapat donasi sebesar Rp10 juta kepada Natha Nusantara, Rp10 juta kepada Animal Friends Jogja atau Sahabat Satwa, serta Rp20 juta kepada Yayasan Revolusi Edukasi Masyarakat.
Fajar sebelumnya juga menyebut @remisi_org sebagai salah satu pihak yang memberikan dukungan dalam perjalanan kesehatan mentalnya.
“Terima kasih juga kepada @remisi_org yang telah memberikan banyak sekali dukungan dan menemani mental health journey-ku,” tulisnya.
Unggahan tersebut memperlihatkan bahwa aktivitas donasi bukan sekadar catatan finansial, tetapi berkaitan dengan sejumlah isu yang dekat dengan kehidupan dan kepedulian Fajar, mulai dari perlindungan hewan hingga kesehatan mental.
- x FajarDawnVirgo
Pesan Fajar: Dunia Harus Lebih Ramah
Selain soal donasi, tulisan Fajar juga berisi ucapan terima kasih kepada orang-orang yang selama ini memberikan dukungan. Ia meminta maaf kepada mereka yang mungkin pernah ia sakiti, baik secara sengaja maupun tidak.
“Kalau kalian baca ini kemungkinan besar aku telah pergi ke tempat yang paling jauh dan tidak akan bisa kembali lagi. Sebelumnya aku ingin berterima kasih kepada teman-temanku yang telah memberikan dukungan dan bantuan selama ini, tanpa kalian mungkin hidupku akan jauh lebih singkat daripada ini,” tulis Fajar.
Ia juga meminta agar kabar tersebut disampaikan kepada teman-temannya yang lain. Dalam unggahan itu, Fajar menjelaskan bahwa tulisan tersebut merupakan schedule post dan tidak akan ada lagi orang yang mengelola akunnya setelah dirinya pergi.
Namun, salah satu bagian yang paling kuat dari tulisannya justru bukan mengenai dirinya sendiri.
“Harapanku untuk dunia ini adalah semoga dunia ini semakin ramah bagi mereka yang lemah,” tulis Fajar.
Kalimat tersebut menjadi pesan yang kemudian melekat pada berbagai unggahan terakhirnya. Fajar juga menulis pesan lain pada 5 September 2026.
“Jangan doakan aku yang telah pergi, berdoalah untuk mereka yang masih hidup penuh dengan segala kesulitan dan kesakitan. Semoga mereka mendapatkan kekuatan yang lebih dari aku,” tulisnya di akun X.
Donasi dan Pesan yang Menyisakan Refleksi
Fajar kemudian membuat unggahan bertema Rest In Peace dengan keterangan nama dan tanggal kehidupannya, 10 September 1995 hingga 5 September 2026. Di dalamnya terdapat kalimat berbahasa Inggris yang kembali mengulang harapan yang sebelumnya ia tuliskan.
“May this world be kinder to those who are vulnerable,” tulisnya.
Rangkaian unggahan tersebut membuat kisah Fajar tidak hanya berbicara mengenai seseorang yang meninggal dunia, tetapi juga meninggalkan pertanyaan tentang bagaimana lingkungan memperlakukan orang-orang yang sedang berada dalam kondisi rentan.
Donasi Rp40 juta yang ia tinggalkan menjadi salah satu bagian yang menarik perhatian. Di tengah persoalan pribadi yang pernah ia ceritakan, ia masih memikirkan organisasi, komunitas, dan makhluk hidup lain yang membutuhkan bantuan.
Namun, kisah ini penting dibaca tanpa meromantisasi keputusan mengakhiri hidup. Donasi maupun pesan terakhir seseorang tidak boleh membuat tindakan tersebut terlihat sebagai sesuatu yang ideal atau patut ditiru.
Hal yang lebih penting untuk direnungkan adalah pesan kemanusiaan yang tersisa: bagaimana menciptakan lingkungan yang membuat orang yang sedang kesulitan merasa aman untuk berbicara dan mendapatkan pertolongan.
Kepedulian tidak selalu harus hadir dalam bentuk besar. Mendengarkan, menanyakan kabar, tidak menghakimi, serta mengarahkan seseorang kepada bantuan profesional ketika dibutuhkan dapat menjadi bentuk dukungan yang berarti.
Pada akhirnya, pesan Fajar tentang dunia yang lebih ramah kepada mereka yang rentan dapat menjadi refleksi bagi siapa saja.
Bukan tentang bagaimana seseorang mengakhiri hidupnya, melainkan tentang bagaimana orang-orang yang masih hidup dapat saling menjaga, mendengarkan, dan membantu ketika seseorang sedang menghadapi masa paling sulit dalam hidupnya. (udn)